Idealisme Tiki-Taka dan Pragmatisme Kehidupan

Empat tahun lalu, Spanyol menaklukkan Eropa. Di stadion Ernst Happel, Vienna, Austria. Gol tunggal Fernando Torres membungkam Jerman 1-0. Trofi Henry Delauney pun terbang ke ranah matador. Sepanjang turnamen, idealisme Spanyol menyihir publik. Berbanding terbalik dengan empat tahun sebelumnya. Di Portugal 2004, Yunani besutan Otto Rehhagel secara mengejutkan menjadi kampiun Eropa. Theodoros Zagorakis dkk juara lewat permainan pragmatis. Bermain defensif dan menang tipis 1-0 lewat gol set pieces menjadi menu lazim Yunani saat itu. Spanyol beruntung memiliki Barcelona, penganut Total Voetball.

Johan Cruyff membangun Barcelona sejak kedatangannya ke sana sebagai pemain. Ide dan pikiran Cruyff menjadi embrio kesuksesan Los Cules dan menular ke timnas. Semua elemen Barca adalah hasil pikiran Cruyff. Formasi dasar 4-3-3, gaya operan pendek, soliditas tim tanpa sekat primordial, La Masia, sampai peran klub di luar lapangan.

Kredo Johan Cruyff adalah memenangi laga dengan anggun. Caranya? Kuasai ball possession selama mungkin. Tim harus menerapkan dinamisasi permutasi posisi, kolektivitas gerakan off the ball, operan pendek merapat, all out attack, dan pressing ketat oleh seluruh pemain begitu tim kehilangan bola. Hasilnya, tim bermain sebagai satu unit utuh dan mengalirkan bola di setengah area lapangan lawan. Semua faktor tersebut membuat permainan enak dilihat. Di Euro 2012 nanti, agaknya tiki-taka masih menjadi komoditas sepak bola yang disukai publik.

Triumph And Problems
Seperti Spanyol yang meraih trofi dengan filosofinya, beberapa negara pun demikian adanya. Italia, juara dunia 2006, sukses lewat perpaduan fantasia-furbizia plus pendekatan permainan taktikal, ciri khas calcio. Pragmatisme Yunani berbuah trofi Piala Eropa 2004. Prancis 1998 dan 2000 mirip Spanyol, menyerap gaya Belanda. Bedanya, Prancis membuat tim bermain untuk mengeksploitasi bakat Zinedine Zidane.

Tak ada rumus eksak untuk meraih trofi juara. Variabelnya begitu kompleks. Mulai filosofi permainan, perkembangan taktik sepak bola modern, karakter pelatih, materi pemain, mentalitas juara, atmosfer ruang ganti, kultur sepak bola, pengaruh media, sampai keberuntungan. Setiap tim selalu memiliki problem tersendiri. Mereka berangkat ke turnamen dengan background masing-masing. Ujung-pangkalnya, mereka akan mencari sendiri jawaban atas persoalannya. Inilah mengapa Inggris tak kunjung menjuarai turnamen mayor.

Soal taktis mereka belum menemukan jati diri kick and rush dan adaptasinya terhadap perkembangan sepak bola dunia. Di luar itu, negeri Elizabeth belum bisa mengatasi dua masalah besar; paparazzi dan dikotomi Scouse vs Mancunian di tubuh tim nasional.

Manchester United, Jose Mourinho, dan timnas Spanyol agaknya menjadi referensi bagus buat FA. Secara taktis, Iblis Merah sangat berkarakter dan Britania banget. Soal media, Jose Mourinho bak Mike Tyson buat para jurnalis; bermulut besar dan susah dirobohkan. Sementara itu, Spanyol bisa mengatasi problem sekat-sekat chauvinisme di timnas; blok Castillia, Catalan, Basque, dan Andalusia.

Masalah negara lain berbeda lagi. Italia dengan mafioso-nya, Jerman dengan keangkuhan ras arya-nya, atau tim-tim Eropa Timur dengan sejarah perangnya di masa lalu. Tak perlu dibahas tetek bengek masalahnya. Apalagi soal kisruh PSSI. Bisa-bisa menghabiskan ribuan kertas majalah ini dan memunculkan demo laiknya anti kenaikan BBM.


Idealisme Kehidupan
Idealisme sepak bola, mirip dengan kehidupan nyata. Tak perlu ndakik-ndakik bicara idealisme. Ini soal pengalaman, bukan kurikulum pendidikan. Idealisme paling urgent, tauhid dan keaswajaan, tak perlu diperdebatkan. Dua hal ini tak boleh digadaikan barang setitik pun.

Profesionalisme beda lagi. Seorang guru atau dosen, misalnya, idealnya total mengajar. Tetapi, pengajar biasanya punya banyak urusan administrasi. Akreditasi, membuat soal, mengoreksi, dan seterusnya. Urusan administrasi semakin merepotkan bila tak ada komputerisasi sistem dan infrastruktur jaringan komputer yang baik.

Di sisi lain, adakalanya guru atau dosen, mengajar apa adanya. Bisa jadi karena terbentur banyak hal sehingga tak bisa mencapai situasi ideal. Atau pak dosen memilih pragmatis; datang, mengajar, pulang, dan nuwun sewu, gajian.

Tak bijak menyalahkan pilihan orang. Pengurus pondok misalnya, ia harus mujahadah, mengajar ngaji, ngoprak-oprak bocah, ngeloh, nderes, setoran, dsb. Silakan tanya anak-anak huffadz, soal hafalan mereka pasti pernah merasakan harus memilih di antara dua opsi; idealis menjaga hafalan atau pragmatis “kejar setoran”.

Tak perlu menyalahkan tetangga karena situasi tiap orang berbeda. Anda bisa saja idealis, tetapi bagaimana jika didawuhi Kiai segera khatam? Konteks ini bukan saja di PPSPA, tapi di seluruh pesantren tahfidz. Di luar itu masih banyak contoh benturan antara idealisme dengan pragmatisme, apapun identitasnya.

Seorang apoteker, reporter, fotografer, atau kaligrafer misalnya, punya idealismenya sendiri. Bila mengukur kesuksesan hanya sebatas materi, biasanya apapun rela “dikorbankan” . Tetapi bila parameter “sukses” lebih komplet, idealisme selalu dikompromikan. Misalnya, sukses adalah satu kesatuan antara materi, kepuasan batin, waktu luang, banyak teman, dan seterusnya. Sepertinya sepele, tetapi agak rumit.

Bila Anda seorang hafidz, boleh jadi suatu saat akan dihadapkan pilihan; bekerja dengan gaji besar tetapi tak punya waktu buat nderes atau penghasilan cukup namun bisa nderes tiap hari. Pilih mana? Demikian pula dengan mahasiswa. Setelah lulus kuliah, bisakah menemukan ruang aktualisasi untuk kepuasan intelektual di tengah tuntutan mencari ma’isyah? Jangan buru-buru memvonis buruk satu opsi, karena semua berpulang pada background masing-masing individu.

Creating History Together

KH Abdurrahman Wahid berujar bahwa “tidak memaksakan interpretasi kita terhadap orang lain adalah hal terkecil sebuah toleransi”. Hal ini bukan  berarti tak ada saling tukar pikiran antar sesama, namun kita tak perlu memaksakan frame pikiran apapun kepada orang lain. Biarlah semuanya mengalir seperti air.

Alangkah cerahnya hidup ini bila katakata Gus Dur tersebut diaplikasikan oleh banyak orang. Laiknya peserta Euro, tiap individu berangkat dengan background dan masalahnya sendiri. Anda tak boleh menyumpah-serapahi gaya ultra-defensif Yunani. Kualitas SDM mereka memang minim.

Sama halnya dengan hidup. Anda mesti memaklumi orang yang terhimpit masalah ekonomi sehingga tidak, atau belum bisa, mencapai idealisme yang diinginkan. Maka tak heran dalam benak mereka terekam jargon klasik, “Jangan bicara soal idealisme. Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita”.

Di Euro, tiap tim bersaing meraih piala. Semua ingin seperti Spanyol, bermain cantik dan juara. Bila tak memungkinkan, tiki-taka tak perlu dipaksakan. Pelatih bisa memilih strategi yang sesuai dengan karakter timnya. Namun demikian, arti kesuksesan bisa sangat nisbi. Bagi tim gurem lolos putaran grup bisa disebut sukses. Hal yang biasa untuk Spanyol atau Jerman. Setiap orang pasti berharap beroleh sukses. Jika belum mampu, ia pasti berharap dapat membangun fondasi bagi kesuksesan anak-anaknya. Seperti Johan Cruyff yang menginisiasi kesuksesan Barcelona.

Idaman setiap orang tentu dapat menggores kuas di atas kanvas kehidupan. Melukis sebuah maha karya agung yang diidamkan. Bermain atraktif, menang, plus tidak mencederai nilai sportivitas akan menumbuhkan respek. Di Arsenal, Arsene Wenger teguh mempertahankan filosofi “Victoria Concordia Crescit”, menang dengan keselarasan. Monsieur Wenger ingin timnya menang dengan gaya. Identik dengan Brasil, Barcelona, dan Milan Arrigo Sacchi. Mereka akan selalu diingat orang. Benar apa kata pepatah, jasad manusia akan lenyap, namun karya yang dihasilkan tetap abadi sepanjang masa.

Bila Xavi Hernandez cs melakukannya di panggung sepak bola, adalah dream bagi kita untuk melukisnya di dunia nyata. Pentas Euro telah mempertontonkan aksi cantik tiki-taka, kini giliran kita membidik “Trofi Henry Delaunay” dalam kehidupan, apapun profesinya.

Hidup adalah pilihan, pragmatis atau ber-“tiki-taka” untuk menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi peradaban. Meminjam slogan Euro, mari bersama mencetak sejarah dengan anggun, creating history together!

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *