Menelusuri Jejak Romo Kiai ke Bumi Lumajang

Pada 2 April 2012, saya bersama saudara Ali Hifni, sowan ke kediaman Bapak H. Mahfud Harsono (Mbah Har), kakak tertua Romo KH. Mufid Mas’ud. Tujuan perjalanan ini adalah menelusuri jejak sejarah Kiai Mufid dan benar, kami mendapat banyak informasi berharga.

Kami berangkat menuju Malang dengan kereta api pukul 21.00 dan tiba pukul 07.00 WIB . Karena belum pernah ke Lumajang, kami mencari informasi rute di sekitar stasiun sambil menikmati kopi kota Aremania. Dari sini, kami oper bus menuju Lumajang. Perjalanan ke Lumajang ditempuh melewati pegunungan dengan jalan-jalan terjal, melintasi jembatan kecil memotong jurang yang membuat mata berkunang-kunang. Setelah 5 jam perjalanan, kami sampai di Kecamatan Surolangun, Lumajang, kediaman Mbah Har.

Kami tidak bisa langsung menemui Beliau, karena Mbah Har sedang istirahat dan agak kurang sehat. Sampai malam tiba, kami bercengkrama dengan putri Beliau yang juga alumni MTs SPA 1998, Mbak Iklima beserta suami. Setelah shalat shubuh, kami memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta karena rasanya tidak mungkin berkomunikasi dengan Mbah Har. Akan tetapi, ketika hendak berpamitan, Beliau memanggil kami untuk untuk berdialog.

Kami pun masuk ke kamar Beliau. Dengan situasi terbatas, kami membuka dialog dari silsilah Kiai Mufid. Walau secara umum kami telah mengetahui, namun kami ingin informasi yang benar-benar berasal dari sumbernya dan ternyata benar, ada hal yang perlu dikoreksi. Selama ini informasi populer adalah Kiai Mufid merupakan putra urutan kedua, ternyata Beliau putra nomor tiga setelah Bapak H. Mahfud dan Ibu Mufarohah. Untuk kelahiran Romo Kiai, Beliau tidak dapat memastikan.

Tak Pernah Jadi Tentara
Kemudian Mbah Har mulai bercerita tentang perjalanan Romo Kiai. Di pendidikan formal, KH Mufid merupakan lulusan Madrasah Mamba’ul Ulum Cabang Solo di Sidowayah, Klaten. Kemudian, Romo Kiai melanjutkan ke Krapyak atas anjuran guru Beliau, KH. R. Muhammad Shofwan, sampai mengaji kepada KH. Muntaha di Temanggung (sebelum Mbah Muntaha menetap di Wonosobo) serta berguru kepada KH. Dimyati di Comal.

Selama di Comal, Beliau juga ikut berjuang melawan Belanda. Beliau bergabung dengan Barisan Kiai dan Santri serta pernah dikabarkan meninggal dalam pertempuran. Hal ini sekaligus meluruskan berita umum bahwa Kiai Mufid adalah seorang tentara. Menurut Mbah Har, Mbah Mufid tidak pernah masuk sebagai tentara, sebab tidak begitu menyukai hal-hal formal. Namun, Kiai Mufid ikut dalam barisan santri untuk melawan penjajah. Dari sinilah kemungkinan besar Kiai Mufid berbaur bersama para tentara sehingga wajar bila ada anggapan Beliau masuk tentara.

Ada satu kisah menarik dari Mbah Har. Saat Kiai Mufid masih remaja, ayah Beliau, yaitu Simbah Ali Mas’ud, suatu ketika berdakwah di wilayah timur Bayat, kemungkinan di Gunung Kidul. Ketika pulang, Mbah Ali melihat sinar putih (Pulung). Mbah Ali mengikuti sinar tersebut dan jatuh tepat di atas mushola Bayat. Mbah Ali masuk ke mushola dan ternyata menemukan Kiai Mufid muda sedang berdzikir kepada Allah Swt. Mbah Har heran, kok kini Pandanaran membuka pesantren di Gunung Kidul.

Mbah Har juga bercerita soal haji. KH Mufid selalu menganjurkan haji kepada orang yang dianggap mampu, bahkan sesekali menyindir, termasuk kepada Mbah Har yang baru berhaji tahun 2006.

Dialog selesai sekitar 1 jam dan kami pulang ke Yogyakarta lewat Surabaya. Terima kasih, Mbah Har, terima kasih Mbak Iklima. Semoga apa yang kami dapatkan bisa bermanfaat bagi generasi berikut.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *