Mencari Keteduhan di Bawah Payung al-Quran (Bagian 1)

Saben dino Kamis, santri lanang dianjuri ziara kuburku, luwih tak arep-arep seminggu maca Quran ana ing guthakan. Dalail 4 khataman sesasi. Santri wadon jatah waktu Jum’at isuk, amaliyah pada karo santri lanang.
Ono dino haul, ora usah ngundang ngundang dayoh umum, cukup santri lanang wadon. Dene haul lan dayoh umum kabeh dipusatake malam 17 Sya’ban. Bab iki sing tak derek Mbah Kiai Ma’shum Lasem, kabeh haul almarhumin dipusatake malam 7 Maulud, ngiyup malam Khataman Quran.
Dene santri-santri lanang lan wadon sing wis keparingan pondok, tak bebaske nge-Hauli ingsun, dibarengake ig malem Khataman Quran ono ing pondoke dewe-dewe.
Kabeh anak didikku, lanang lan wadon, lan sopo wae sing kerso, tak anjuri doa sing khusus soko Quran, “Rabbana” sak wernine, “Rabbi” sak wernine, lan doa Asmaul Husna koyo sing wis tak lakoni. (KH Mufid Mas’ud)
……
Setiap hari Kamis, santri laki-laki dianjurkan untuk berziarah ke kuburku, lebih saya harapkan sepekan sekali membaca al-Quran per seperempat al-Quran. Dalalil 4 khataman tiap bulan. Santriwati diberi waktu Jum’at pagi, amaliyah sama seperti santri laki-laki.
Pada hari haul, tak perlu mengundang khalayak umum, cukup para santri saja. Sedangkan haul dan khalayak umum dipusatkan pada acara malam 17 Sya’ban. Bab ini yang saya ikuti adalah Mbah Ma’shum (Lasem), seluruh haul almarhumin dipusatakan pada malam 7 Maulud, berteduh pada malam Khataman al-Quran.

Bagi para santri yang telah mempunyai pesantren, saya bebaskan meng-Hauli saya, dibarengakan pada malam Khataman al-Quran di pesantren masing-masing.

Semua anak didik saya, laki-laki maupun perempuan, dan siapa saja yang mau, saya anjurkan membaca doa yang khusus dari al-Quran, yakni doa “Rabbana” dan variannya, “Rabbi” dan variannya, serta doa Asmaul Husna seperti yang sudah saya lakukan. (KH Mufid Mas’ud)
……
Wejangan di atas adalah kepingan wasiat KH. Mufid Mas’ud menjelang wafatnya yang ditulis oleh santri bernama Hanbali (Surabaya?) dan Faizun (Magelang), di rumah sakit kecil pinggiran kota Yogyakarta, 13 hari sebelum mangkatnya Beliau pada tanggal 2 April 2007. Wasiat selengkapnya mencakup beberapa macam hal, sementara apa yang disajikan di sini adalah bagian akhir wasiat yang berbicara tentang Haul disertai dengan wasiat doa. Bapak (demikian seluruh santri biasa menyebut Kiai Mufid pada masa itu, sesuai ajaran Beliau, red) menyatakan secara gamblang bahwa Beliau ingin agar Haul tak perlu mengundang khalayak umum dan dilaksanakan pada malam 17 Sya’ban, tanggal Khatmil Quran PP Sunan Pandanaran, bukan pada tanggal wafatnya Beliau. Nah, dalam hal ini Beliau mengikuti salah seorang guru Beliau, yakni Mbah Kiai Ma’shum (Lasem) yang juga mengadakan Haul pada acara Khataman al-Quran.

Sementara itu, bagi para santri yang telah memiliki pesantren, Kiai Mufid membebaskannya untuk mengadakan acara Haul secara lokal di pesantren masing-masing. Maka, dari tahun ke tahun, setiap malam 17 Sya’ban Pandanaran selalu menyelenggarakan Khatmil Quran sekaligus Haul Kiai Mufid, sementara di pesantren-pesantren asuhan murid Beliau, Haul diselenggarakan pada bulan Khatmil Qur’an pesantren tersebut. Bilamana para pengasuh pesantren tersebut menyelenggarakannya pada bulan wafatnya Kiai Mufid, tentu menjadi hak prerogatif bagi internal pesantren tersebut.

Ada sebuah kearifan yang lagi-lagi dicontohkan oleh Kiai Mufid, sekaligus bentuk rasa sayang Beliau pada keluarga dan santrinya, bahwa Beliau tidak ingin merepotkan orang setelah meninggalkan dunia ini. Andaikata Haul menjadi acara tersendiri, maka kalender sekian banyak orang akan bertambah lingkaran merahnya pada bulan Maulud, bulan wafatnya Beliau. Tak terhitung berapa tambahan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang harus mereka keluarkan untuk hadir di Pandanaran, sementara ada hajatan tahunan 17 Sya’ban yang telah menjadi rutinitas selama ini. Dari sisi keluarga, tak juga menambah urusan-urusan sebab semuanya secara otomatis include pada hajatan besar Khataman al-Quran.

Hikmah lain di balik diselenggarakannya acara Haul secara lokal adalah terjalinnya silaturahmi yang lebih erat antar alumni lintas zaman di daerah masing-masing. Dengan keterbatasan jarak dan waktu bila acara diadakan di Pandanaran, maka pilihan untuk menghadiri acara di daerah sendiri menjadi sebuah pilihan ideal sehingga acara Haul lazim dikemas pula sebagai ajang temu alumni seperti yang kerap diadakan di Jakarta, Cirebon-Indramayu, Jawa Timur, atau daerah-daerah lain.

Walhasil, peringatan acara Haul Kiai Mufid secara otomatis membuat kita, sekalipun tak akan pernah melupakan Beliau, menjadi selalu lebih teringat akan ajaran-ajaran dan teladan Beliau, sehingga menjadi bentuk nasehat tersendiri bagi kita secara pribadi maupun masyarakat komunal. Beliau tak lekang dari ingatan kita karena keluhuran akhlak dan ajarannya, bukan karena Mufid Mas’ud-nya itu sendiri. Meskipun raga Beliau telah pergi, pada hakekatnya guru Quran itu tetaplah “hidup” dan menghidupi hati dan jiwa kita, sehingga jiwa kita selalu mendapatkan asupan gizi demi mengabdi pada al-Quran dan melanjutkan perjuangan para ulama, perjuangan Rasulullah Saw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *