Ijtihad Keilmuan Pesantren Pandanaran

Saat membuka Kuliah Tafsir Pesantren di Aula Komplek I Pondok Pesantren Sunan  Pandanaran (PPSPA), Kamis, 30 November 2017 lalu, kata H. Mu’tashim Billah, “Kita semua di sini adalah santri yang  juga menyandang status sebagai  mahasiswa. Namun, jangan sampai status santri itu membatasi kita dalam proses berpikir dan berinovasi mengembangkan nilai-nilai keislaman”.

Kepada para hadirin, Beliau berpesan, bahwa kita harus tetap terbuka pikirannya tanpa menanggalkan identitas sebagai seorang santri. “Kembangkanlah pemikiran kita setinggi-tingginya, namun hati kita tetap mengarah pada Ka’bah. Tunjukkan jiwa kita sebagai seorang santri secara lahiriyah maupun bathiniyah, tanpa menghalangi kreatifitas berpikir kita”. Tegasnya.

Melalui Kuliah Tafsir Pesantren ini, PPSPA bersama STAI Sunan Pandanaran (STAISPA) berupaya menciptakan produk pemikiran tafsir yang tidak ekstrem condong ke “kanan” maupun “kiri”. Sebagaimana diungkapkan Pengasuh Pesantren Pandanaran tersebut, bahwa output dari kegiatan ini adalah lahirnya produk tafsir yang selaras dengan nilai-nilai pesantren dan ruh Islam rahmatan lil ‘alamin. “Harapannya, ia dapat merefleksikan semangat moderasi dan nilai-nilai Islam lainnya”, jelas Kiai Tasim.

Kiai Tasim menerangkan, bahwa Kuliah Tafsir Pesantren ini juga berangkat dari semangat untuk terus melanjutkan perjuangan kecintaan KH. Mufid Mas’ud terhadap ilmu. “Almarhum Bapak (Kiai Mufid Mas’ud) itu sosok yang sangat mencintai ilmu. Meski padat dengan segudang kesibukan, Beliau masih senantiasa belajar”, papar Ketua STAI Sunan Pandanaran ini.

Hal itu dapat kita telusuri misalnya, saat dulu Kiai Mufid membentuk Majelis Musyawarah Dewan Guru. Di dalamnya, santri yang sudah hafal Al-Qur’an dikumpulkan di ndalem oleh Kiai Mufid. Mereka disuruh membaca dan menelaah kitab kemudian Kiai Mufid menyimak.

“Kitab-kitab yang dibaca antara lain, Tafsir Munir, Ibn Aqil, Hikam, dan Fathul Wahab. Nah, melalui STAISPA, apa yang sudah dirintis oleh Bapak dulu itu dapat dilanjutkan, dan Prodi IAT yang ada di dalamnya merupakan salah satu pengembangan daripada itu. Harapannya semua santri di prodi IAT dapat hafal dan memahami isi Al-Qur’an”, pungkasnya.

Sementara, Dr. Lilik Ummi Kulstum, narasumber Kuliah Tafsir mengatakan, bahwa keragaman tafsir adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, semakin banyak kitab tafsir yang kita “konsumsi”, semakin dalam pula kita paham ayat ilahi. Semakin luas kajian kita, semakin kita haus akan pengetahuan. Sayang, saat ini kian menjamur kelompok yang hanya mengikuti satu penafsiran saja dan dengan enteng menyalahkan penafsiran ulama lainnya.

“Nah, agar tetap dalam fitrahnya, mahasiswa-santri sekalian dituntut untuk tetap komit melestarikan serta mengembangkan turats (tradisi, red) Islami dan meneladani akhlak ulama”, pungkas Kaprodi IAT UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Ke depan Insya Allah Kuliah Tafsir Pesantren akan menghadirkan Dr. H. Afifuddin Dimyathi, Dr. KH. Ahsin Sakhok dan Prof. Sayyid Agil Al-Munawwar, sehingga dapat memperkaya khazanah keilmuan setelah sebelumnya pernah menghadirkan pula Dr. KH. Ali Nurdin dan Dr. KH. Husnul Hakim. (Fatikhatul Faizah & Luthfi Maulidah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *