Membangun Sejarah Baru untuk Masa Depan

Membaca sejarah itu penting, tetapi membuat sejarah jauh lebih penting.

Pernyataan ini ditegaskan oleh KH. A. Wahid Hasyim, salah satu pendiri NKRI. Kiai Wahid, panggilannya, sadar betul bahwa untuk membangun masa depan, manusia harus berani menerobos dalam membangun sejarahnya sendiri. Tidak bisa hanya berkaca pada jaman keemasan dan terjebak dalam romantisme masa silam. Membangun sejarah baru meniscayakan kerja keras, baik dalam intelektualitas, profesionalitas, dan bahkan spiritualitas.

Mahasiswa studi al-Qur’an dan hadis menjadi aktor utama dalam upaya serius membuat sejarah masa depan bangsa ini. Peradaban Islam yang agung itu lahir dengan jejak penuh getir, hasil ramuan para filosof, teolog, fuqoha’, sastrawan, dan para negarawan. Warisan peradaban Islam ini tak lain merupakan manifestasi mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada umat Islam: Iqra! (bacalah!). Mukjizat Iqra! inilah, menurut Prof. Yudian (2010), yang akan memberikan ledakan keilmuan yang membuat pembaca bisa jadi tercengang-cengang. Belajar dari warisan peradaban Islam masa silam, spirit Iqra! menjadi pendobrak awal untuk memulai sebuah petualangan intelektual. Membaca akan mengajak pembaca untuk melakukan petualangan ke segala penjuru semesta pengetahuan tanpa batas. Aktivitas membaca juga berhak dilakukan siapa saja, tanpa peduli latar belakangnya.

Etos Iqra! inilah yang menjadi rujukan utama bagi mahasiswa. Bagi kita yang berada di Indonesia, semangat membangun sejarah baru harus segera dikerjakan dengan serius. Semua program dan agenda segera direalisasikan. Apalagi Indonesia menjadi salah satu rujukan Islam dunia. Seorang ilmuan bernama Malik Bennabi (1905-1973) pernah mengatakan: “Dunia Islam (akan) beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta (Indonesia), sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damaskus”. Pernyataan ini terkesan sarkastik, tetapi bila dirunut secara reflektif, justru bisa menjadi momentum membangun kaum muda Islam Indonesia sebagai pelopor menjadikan Islam sebagai agama peradaban.   

Sebagai agama peradaban, menurut Bennabi, perspektif Islam memandang bahwa keefektifan suatu pemikiran dan ajaran agama adalah dalam kerangka sosial, perubahan, pembentukan karakter individu-individu dan apa yang dapat dihasilkannya dalam sejarah. Dalam pengertian ini, Islam dapat berperan sebagai katalisator unsur-unsur penting peradaban: manusia, tanah, dan masa (waktu).  

Islam akan hadir sebagai agama yang praktis dan yang lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya, bukan agama menghabiskan energi dan masa hanya untuk membuktikan kebenaran dirinya.

Mahasiswa studi al-Qur’an dan hadis harus mampu membuktikan kebenaran ajaran Islam secara teoritis, sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan ke-dinamis-annya dalam kehidupan praktis. Gerak keilmuan mahasiswa juga harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena pribadi, maka sejarah masa depannya akan putus ditelan bumi dan menjadi kenangan buruk di hari kemudian.

Oleh : Enok Ghosiyah, Sekjend Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir-Hadis se-Indonesia (FKMTHI) 2015-2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *