Bencana : Antara Qadha’, Qodar, dan Tawakkal

Dalam perspektif ilmu kebencanaan, bencana merupakan sebuah peristiwa yang menimbulkan kerugian pada kehidupan manusia, baik itu nyawa atupun harta benda. Peristiwa peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, atau tanah longsor yang tidak menimbulkan korban atau kerugian, akan dianggap sebagai gejala alam biasa, bukan bencana. Peristiwa alam tersebut baru dikatakan bencana apabila mengakibatkan kerugian dan korban.Tugas manusialah untuk mensiasatinya supaya semaksimal mungkin tidak terkena dampak dan kerugian dari berbagai fenomena alam tersebut. Perspektif di atas dapat dicari penjelasannya melalui sudut pandang keagamaan. Bencana, dalam terminologi agama sesungguhnya tidak terlepas dari tiga konsep penting, yaitu qodlo’, tawakkal, dan qodar (takdir).

Pemahaman tentang qodlo’ akan mengantarkan pada keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini telah ditentukan hukum dan rumusan-rumusannya oleh Allah (sunnatullah). Karena itu diperlukan sebuah sikap hidup tawakkal yang merupakan bentuk dan “usaha untuk pasrah dan taat” terhadap segala qodlo’ Allah tersebut. Jika sudah ber-tawakkal terhadap qodlo’ Allah, maka setiap manusia harus selalu siap dengan segala takdir (keputusan) Allah terhadap dirinya, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan. Melalui kerangka berfikir tersebut, seluruh peristiwa dan kejadian di alam semesta ini pada hakikatnya adalah sesuatu yang sudah di-qodlo-kan oleh Allah. Dia telah menetapkan untuk mengatur ketertiban alam semesta, sehingga segala “hukum alam” yang berlaku di dunia ini pada hakikatnya sebagai sunnatullah. Fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor dalam cara pandang ini adalah sebuah kejadian alam biasa yang memang sudah sewajarnya terjadi, karena hukum kausalitas alam sudah menghendaki demikian. Manusia harus tawakkal (pasrah dan tunduk) terhadap qodlo Allah ini.

Ketika qodlo Allah berupa gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor terjadi dan menimbulkan bencana terhadap manusia, maka saat itu juga manusia harus ber-tawakkal terhadap qodlo’ Allah yang lainnya, yaitu ketentuan Tuhan bahwa jika terjadi potensi bencana yang akan menimpa dirinya, maka manusia diperintah untuk berusaha (ikhtiar) mencari keselamatan diri semaksimal mungkin dari ancaman bencana alam tersebut. Karena itu, di dalam sikap tawakkal terdapat anjuran untuk ber-ikhtiar. Tawakkal bukan berarti pasrah atas segala peristiwa yang telah menimpa diri kita dan berdimensi “pasif”, tetapi terdapat ikhtiar untuk pasrah dan tunduk terhadap segala sunnatullah (qodho) Allah di alam semesta ini, sehingga berdimensi “aktif”. Ketika terjadi suatu bencana yang menimpa, maka bentuk ke-tawakkal-an manusia adalah dengan berusaha secara maksimal untuk meminimalisir korban dan kerugian yang ditimbulkan dari bencana itu, sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an: “Apabila kamu telah berketetapan hati, maka bertawakkallah kepada Allah…” (Q.S. Al-Imran [3]: 159). Karena itu, sikap tawakkal harus sudah ada, bahkan ketika seseorang baru berniat untuk ber-ikhtiar Bencana dipersepsikan oleh Al-Quran sebagai salah satu bentuk ujian atau cobaan bagi manusia yang niscaya harus dihadapi seperti yang ditegaskan dalam ayat: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.(Q.S. Al-Baqarah [2]: 155). Tugas manusia kemudian adalah bagaimana dengan bencana itu dia tetap bisa menyikapinya secara baik, sesuai dengan ayat: “(Dia) yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, síapa di antara kalian yang paling baik amalnya.(Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Bersikap baik ketika tertimpa bencana yang dianjurkan oleh Al-Qur’an sebagaimana akhir ayat Surah al-Baqarah di atas adalah wa bassyir al-shabirin (bersikap sabar) sebagai sebuah manifestasi ketawakkalan. Sabar di sini dalam arti melakukan ikhtiar untuk meminimalisir kerugian akibat bencana atau juga sikap ketika tertimpa bencana yang diwujudkan melalui lima prinsip maqashid al-syari’ah yaitu melindungi agama dan keyakinan (hifdz al-din), melindungi dan menyelamatkan jiwa (hifdz al-nafs), melindungi akal pikiran (hifdz al-aql), menjaga keturunan dan keluarga (hifdz al-nasl), dan menjaga harta benda (hifdz al-mal). Setiap usaha dalam meminimalisir kerugian akibat bencana harus mencakup ikhtiar, baik dhahir maupun batin, untuk melindungi dan menyelamatkan kelima unsur tersebut. Di samping itu, usaha tersebut juga mesti disandarkan pada kelima hal diatas supaya selaras dengan prinsip dan tujuan diberlakukannya syari’at. Dengan begitu, usaha menghindari dan meminimalisir dampak bencana mempunyai landasan syari’at yang kuat sebagai sesuatu yang harus dilakukan.

Namun, meskipun manusia sudah bersikap pasrah dan tunduk melalui ikhtiar terhadap qodlo’ Allah, adalah hak-Nya jika menghendaki sesuatu yang berbeda dari sunnatullah atau hukum alam yang telah ditetapkannya. Manusia boleh berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan diri dari kerugian bencana dan Allah berketetapan menyelamatkannya. Tetapi bisa juga sebaliknya, Allah malah berketetapan meskipun manusia telah berusaha menghindarinya. Karena itu, peran qodar atau takdir Allah menjadi amat penting sebab di sinilah letak batasan kebebasan dan usaha manusia dengan kekuasaan Allah. Manusia, dalam hal ini boleh mamandang setiap peristiwa alam semesta ini sebagai sebuah manifestasi qodlo Allah yang lumrah terjadi, namun seberapapun usaha manusia dalam rangka ber-tawakkal terhadap qodlo-Nya, takdir tetap menjadi sebuah kata putus dari Allah, yang hukum alam dan usaha manusiapun tidak mampu mengubahnya. memberikan bencana Bencana, dengan begitu, tidaklah selalu identik dengan kesialan, kedukaan, dan peristiwa negatif jika dipersepsikan secara tepat dalam kerangka konsep qodlo’, tawakkal, dan qodar sebagaimana di atas, tetapi bisa juga berarti peristiwa yang membawa angin positif dan hikmah bagi manusia untuk bercermin diri dan menata kehidupan yang lebih baik. Karena semua takdir Allah terhadap manusia, bagi orang Mu’min adalah sesuatu yang selalu bisa disikapi secara positif.

*) Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi April 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *