Banyak Pesantren Mengalami Kemunduran Akibat Sirah Hasanah-nya Tidak Dibukukan

Sambutan Pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran KH. Mufid Mas’ud

Para pembaca Majalah Suara Pandanaran, kaum muslimin dan muslimat terutama para alumni Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran. Atas saran alumni, agar lebih mempererat tali silaturrahim keluarga besar Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran (PPSPA), antara satu dengan yang lainnya. Maka, dengan didukung oleh ananda-ananda dewan guru dan dewan pengurus di lingkungan PPSPA Alhamduliliah, Anak saya, H. Mu’tashim Billah telah memenuhi saran dari para alumni untuk menerbitkan Majalah Suara Pandanaran. Hal ini memang penting, karena dengan adanya media tersebut dapat memberikan informasi-informasi tertulis mengenal perkembangan dan perjuangan PPSPA, dari titik awal sejarah berdirinya PPSPA hingga perkembangan-perkembangan selanjutnya. Dengan harapan, semoga segala usaha kita tetap ditolong dan amal baik kita dapat diterima oleh Allah SWT. Sehingga, untuk selanjutnya dapat menjadi tauladan anak cucu. Sebaliknya, jika terdapat kekurangan-kekurangan di dalam PPSPA, dapat menjadi evaluasi bagi anak cucu dan penerus-penerus yang akan melanjutkan perjuangan PPSPA, supaya bisa lebih sempurna. Dengan ini saya sangat memohon pertolongan dari Allah SWT.

Memang menarik sirah hasanah para sahabat, para ulama-ulama dan murid-muridnya dan seterusnya. Namun, kalau tidak dibukukan (di-tadwin-kan) itu kadang-kadang mengalami perubahan-perubahan menurut siapa yang meneruskan. Bisa diteliti pada pesantren-pesantren zaman para pendahulu kita adalah almarhum yang sangat berwibawa. Menelorkan ulama-ulama yang tersebar di beberapa daerah. Namun, karena sirah hasanah-nya tidak ditadwinkan dan penerusnya mempunyai kehendak yang sebagian tidak cocok dengan pendiri pertamanya, akhirnya pondok pesantren mengalami kesurutan tersebut, na’udzubillah. Jadi, dengan adanya penerbitan Majalah Suara Pandanaran ini selain menjadimedia mempererat tali silaturrahim, juga agar menjadi pedoman serta ukuran seberapa jauh usahanya para penerus. Apakah sesuai dengan apa yang saya rintis selama ini? Hanya dengan memohon pertolongan dari Allah dan doa para ulama,baik ulama dalam negeri serta ulama luarnegeri yang pernah singgah di PPSPA ini.Mudah-mudahan para penerus pondok kita tetap berjalan sesual dengan apa yang telah saya rintis.

Penerbitan ini bukan untuk umu’-umu’an atau menonjolkan sesuatu hal, bukan! Tetapi dengan penerbitan Majalah Suara Pandanaran ini diharapkan menjadi landasan dan laporan saya kepada para alumni dan seluruh simpatisan PPSPA, akibat sirah mengenai perkembangan PPSPA. Sudah barang tentu orang hidup di dunia ini tidak selamanya langgeng. Jadi, sejarah akan hasanah-nya dimulai dari kurun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Akhir kata, kalau ingin pondok-pondok tetap berwibawa hingga sampai beberapa turunan, saya mengharap sirah hasanah-nya para pendiri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya agar diambil hikmah dan menjadi pedoman untuk meneruskan pondok tersebut.

Suara Pandanaran, Edisi 1 Th. I, September 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *