Menyibak Kisah Para Penghafal Al-Qur’an

Banyak kisah di seputar santri Huffazd (penghafal Al-Qur’an). Kewajiban berat yang dipikulnya, yakni menghafalkan 30 juz Al-Qur’an, mengharuskan mereka melakukan segudang kegiatan untuk relaksasi. Kegiatan di luar menghafal Al-Quran bertujuan untuk melepaskan kepenatan di kepala. Atau sekadar untuk meregangkan otot-otot tubuh yang tegang akibat duduk di sudut-sudut ruangan selama berjam-jam. Betapa tidak, seorang santri yang sedang menghafal Al-Quran tidak pernah pengenal waktu istirahat dari menghafal ayat-ayat Allah. Pagi, siang, sore, dan malam mereka gunakan untuk tadarus atau nderes. Pun, mereka tidak mengenal tempat. Di manapun, asal ada tempat nyaman dan sepi, mereka duduk manis di sana sembari berkomat-kamit mengucapkan bait-bait ayat Al-Quran. Karenanya, menciptakan suasana kondusif dan lingkungan yang nyaman merupakan suatu keharusan.

Suasana kondusif untuk menghafal Al-Qur’an tercipta di antaranya dengan terjalinnya hubungan baik antara santri senior dan santri junior. Sementara kondisi nyaman dan tenteram harus mereka ciptakan dengan memelihara ketertiban dan kebersihan. Suasana kondusif antar santrisejauh ini telah tercipta dengan membudayanya penularan ilmu dari santri senior kepada santrisantri junior. Siapapun yang menjadi santri di pondok tahfidz Al-Qur’an Sunan Pandanaran diperlakukan sama. Mereka sama-sama dididik dengan berbagai macam disiplin ilmu hafalan Al-Quran. Di antaranya ilmu tajwid dan tahsin. Para santri diajari bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Materi ini ditujukan agar santri mampu membaca Al-Qur’an secara tartil dan makhraj yang benar. Metode pengajaran ini terus berlanjut hingga banyak santri yang kualitas bacaan Al-Qurannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Optimalisasi pembelajaran AlQur’an saat ini ditunjang dengan pelatihan-pelatihan di Madrasah Hufadz. Di antaranya pelatihan metode  yang diasuh langsung oleh KH Ulil Albab Arwani, Kudus, Jawa Tengah. Inilah metode cepat pembelajaran Al-Qur’an dan disertai penguasaan ilmu tajwid dan tahsin alqiraa. Sejumlah santri yang sedang menghafal Al-Qur’an diikutsertakan dalam program Yanbu’a ini. Menurut Abdullah Muslim, lurah kompleks Huffadz putra, setelah para santri mengikuti program Yanbu’a, bacaan Al-Qur’an mereka menjadi lebih baik. Sementara untuk menambah wawasan santri, diberlakukan pengajian tafsir yang diasuh langsung oleh bapak Pengasuh pondok. Pengajian ini secara rutin diselenggarakan pada malam selasa.

Sistem Pendidikan Tahfidz menurut Abdullah Muslim, para santri huffadz dengan sadar mematuhi sistem yang telah ditetapkan. Pada hari biasa, para santri diwajibkan menyetorkan hafalannya dua kali sehari, yaitu setelah Subuh dan setelah Maghrib. Setelah Subuh untuk menambah hafalan. Sedangkan setelah Maghrib untuk mengulang hafalan. Kewajiban tersebut, jelas dia, tidaklah berat bagi yang sudah mempersiapkan hafalan secara matang. Abdullah Muslim menambahkan, pihak madrasah Huffadz memberlakukan nderes wajib (mengulang hafalan AlQur’an bersama) selama dua jam. Mulai dari jam 08.00 sampai 10.00 WIB. “Madrasah Huffadz juga memberlakukan absensi santri pada setiap setoran. Nah, bagi santri yang absen tanpa pemberitahuan akan ditegur pengurus. Dan bagi yang tidak mengindahkan teguran ini akan diberikan sanksi,” jelas Muslim.

Sementara itu, evaluasi tiap semester juga diberlakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga hafalan semua santri. Di dalam evaluasi ini semua santri dilibatkan untuk saling menyimak dan hasilnya dilaporkan kepada pengurus, untuk selanjutkan diberitahukan kepada pengasuh dan wali santri. Dengan demikian, pihak wali santri mengetahui perkembangan putra dan putri mereka setiap semesternya. “Sistem laporan semester tersebut dimaksudkan untuk menjalin tali silaturahmi antara pengasuh, pengurus, wali santri dan santri,” ungkap Muslim.

Ada pula penerapan metode hafalan bergilir. Secara teknis, aturan ini mewajibkan semua santri menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada pengasuh, KH. Mu’tashim Billah, sekali atau dua kali dalam seminggu. Itulah momen bagi santri untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh pondok. KH. Mu’tashim Billah pun tak jarang berpesan kepada para santri setiap selesai mengaji, “Deresannya dijaga ya”. Untaian nasihat pengasuh bagi para santri bak air hujan yang merangsang tumbuhnya pohon dan tanaman di lahan gersang. Pasalnya, nasehat tersebut tersemat dalam benak santri dan memotivasinya untuk menyuburkan semangat menghafal dan menjaga Al-Qur’an.

Nah, apakah pola pendidikan santri huffadz cukup sampai di situ saja? Ternyata tidak. Mereka sejak dini diberikan kesadaran bakal menjadi pemimpin-pemimpin di masyarakat. Misalnya menjadi pengurus harian, mendapatkan giliran menjadi imam shalat rawatib di masjid, menjadi khatib jumat dan bilal, memimpin tahlil di makam al-Maghfurullah KH. Mufid Mas’ud, dan menjalankan piket membangunkan santri lain di pagi hari.

Menurut KH. Mu’tashim Billah, dengan pola pendidikan yang demikian itu diharapkan semua santri kelak mampu berperan aktif di tengah masyarakatnya. Keberadaan mereka menjadi penting ketika tuntutan-tuntutan masyarakat, baik itu di bidang sosial maupun keagamaan, bisa mereka perankan sebaik-baiknya.

Menjadi Juara

Sistem pendidikan semacam itu sejak dahulu telah mencetak santri-santri huffadz yang jempolan. Banyak alumni huffadz yang telah berkiprah di tengah masyarakat, baik di bidang sosial keagamaan maupun pendidikan. Sementara itu, bagi mereka yang masih berstatus santri, tampaknya tak pernah kering dari prestasi. Tak jarang mereka menjuarai berbagai lomba, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bak pepatah Arab, “Barang siapa menanam pasti akan memetik”. Pun demikian para santri huffadz yang telah menikmati hasil jerih payahnya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Pada bulan April 2010 ini, santri huffadz Sunan Pandanaran mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. Hasilnya, sangat menggembirakan. Dari 45 santri huffadz Sunan Pandanaran yang mengikuti lomba, 30 santri meraih juara. Sementara di tingkat provinsi yang diadakan pada awal Mei 2010, dari 17 santri Sunan Pandanaran, 12 di antaranya meraih juara. Kejuaraan ini dilanjutkan pada tingkat nasional. Ulil Absor, sekretaris komplek Huffadz, mengatakan, pada 5-13 Juni 2010, tiga santri diutus untuk mewakili Pesantren Sunan Pandanaran di tingkat nasional. Mereka adalah Abdul Rasyid, Desti, dan Fina Raudhatul Jannah.

Abdul Rasyid mengikuti lomba 10 juz bilghaib, Desti mengikuti 20 juz bilghaib, sementara Fina mengikuti Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) untuk tilawah. “Prestasi apapun yang diraih santri merupakan bentuk dari usaha keras mereka dalam bidang yang ditekuninya. Kita semua berharap supaya prestasi yang sudah sangat baik itu bisa dipertahankan. Bahkan harus ditularkan kepada santri-santri lainnya,” ujar KH. Mu’tashim Billah.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *