Antara Krisis Eropa, Indonesia, dan Ekonomi Syari’ah

Masih ingatkah Anda dengan krisis Eropa? Juga dengan kasus subprime mortgage tahun 2008? Kawasan Eropa secara global mengalami krisis moneter yang disebabkan hutang negara. Pada awal krisis, bangkrutnya Lehman Brothers yang diiringi kasus subprime mortgage melemahkan perekonomian Amerika yang berdampak besar ke negara lain di seluruh penjuru dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kebanyakan negara memiliki cadangan devisa dalam bentuk dolar Amerika Serikat, sehingga inflasi tersebut berpengaruh pada negara-negara lain yang memakai dolar AS. Yunani mengalami krisis ekonomi karena overload hutang. Spanyol dan Italia dengan pengangguran terbuka yang semakin meningkat. Negara Portugal dan Irlandia mengalami degradasi kepercayaan terhadap mata uang Euro. Sejumlah negara Eropa lain bahkan kehilangan inner beauty dalam menarik Foreign Direct Investment (FDI) dari para investor.

Data dan fakta ini menegaskan kedigdayaan krisis ekonomi yang masih belum dapat diselesaikan. Melihat hal tersebut, beberapa negara di luar Eropa dan Amerika berusaha menguatkan fundamental ekonomi mereka masing-masing untuk mengantisipasi efek krisis tersebut. Asia, yang sebagian negaranya pernah terkena krisis moneter, juga sudah membuat langkah-langkah pengamanan terhadap kondisi perekonomiannya, termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo mengatakan bahwasannya pemerintah mulai mengantisipasi memburuknya situasi dan kondisi perekonomian Eropa yang bisa berdampak ke Asia. Sementara itu, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia akan tahan dengan dampak krisis Eropa. “Negara-negara ASEAN sangat tahan krisis karena mereka masih punya kemampuan manuver dari ruang kebijakannya, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dan itu sangat penting”, demikian ujar Sri Mulyani.

Mengapa bisa terjadi krisis Eropa, banyak fakta yang menekankan bahwa kemungkinan besar penyebab utama dari krisis Eropa yang terjadi dikarenakan fundamental sistem ekonomi yang rapuh (fundamental economic fragility). Dalam kondisi ekonomi saat ini dibutuhkan pilihan alternatif sistem ekonomi yang solutif dengan pendekatan berbeda.

Ekonomi Mikro Islam dimaksudkan sebagai pelayanan keuangan terhadap nasabah unbankable, alias tidak terjangkau layanan Bank. Salah satu wadahnya adalah BMT yang dapat menjadi “islamic micro finance”.

Islam sebagai way of life yang bersifat universal dan komprehensif memiliki strategi dalam usahanya memecahkan permasalahan kehidupan. Kehadiran Ekonomi Mikro Syari’ah dengan instrumen anti riba, anti spekulasi, dan anti manipulasi memiliki tujuan dan ruang lingkup multidimensi lebih luas. Ekonomi Mikro Islam dimaksudkan sebagai pelayanan keuangan terhadap nasabah unbankable, alias tidak terjangkau layanan Bank. Salah satu wadahnya adalah BMT yang dapat menjadi “islamic micro finance”. Layanan BMT sendiri meliputi pembiayaan, jasa tabungan, transfer dana, dan insurance.

Boleh jadi, krisis Eopa memberikan pengaruh terhadap perubahan ekonomi di Indonesia –dalam arti positif, terutama dalam Ekonomi Mikro Syari’ah. Salah satu buktinya adalah “Islamic micro finance” atau BMT yang semakin berkibar kiprahnya di kancah lembaga keuangan.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *