“Pondok Pesantren” di Indonesia; Kurikulum, Pengembangan Spiritualitas, dan Pembentukan Karakter *)

“Para sarjana Muslim di seluruh dunia telah menyelenggarakan pendidikan Islam secara serius, dan karena itu telah dirancang berbagai program khusus dan lembaga-lembaga yang mapan untuk mengajar kan Islam. Di Timur Tengah lembaga-lembaga itu dikenal dengan Ma’had, di Anak benua Indo-Pakistan disebut Darul Uloom, di negara-negara Barat dinamakan Sekolah Muslim, dan di Indonesia dengan Pesantren.” Demikian Dr. Musharraf Hussain menjelaskan bagaimana kehidupan pesantren berlangsung.

Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Seorang anak laki-laki usia 13 tahun sedang berdiri dengan penuh kekhusyu’an di barisan shaf paling depan, dia sedang melaksanakan sholat jamaah Subuh di pagi buta. Dia telah bangun pada jam 03.30 pagi untuk bertahajud di saat terdengar kokokan ayam jantan. Setelah selesai sholat dia melantunkan rangkaian doa-doa bahasa Arab dengan merdu bersama sekitar lima ratus anak keseharian mereka, berdzikir, mengingat yang lainnya. Ini adalah Maha Kuasa dengan sepenuh hati dan pikiran melalui suara-suara yang indah. Hal ini dilakukan sekitar sepuluh menit. Lalu, Imam sholat, salah satu santri senior, mengangkat tangan, mengucapkan doa terakhir.Setelah latihan spiritual yang intens ini, semua murid berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing. Waktunya mengaji Al-Qur’an. Mereka duduk berderet satu persatu ke belakang dan dengan suara keras namun khidmat melakukan hafalan.

Tepat jam 6 pagi mereka bersarapan dengan nasi dan sayuran yang sederhana. Salah satu santri senior, mengangkat tangan, mengucapkan doa terakhir. Setelah latihan spiritual yang intens ini, semua murid berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing. Waktunya mengaji Al-Qur’an. Mereka duduk berderet satu persatu ke belakang dan dengan suara keras namun khidmat melakukan hafalan. Anak itu kemudian mengganti pakaiannya di dalam kamar asrama di mana ia hidup bersama sebelas murid lainnya. Kamar asrama mempunyai tempat tidur bersusun dan almari penyimpan barang dan pakaian. Sekali lagi semua murid datang ke masjid untuk berjamaah Shalat Dhuha. Ini merupakan sholat sunat yang dilakukan dengan dua rakaat sekali salam, yang disebutkan Nabi mempunyai pahala seperti zikir yang dilakukan secara terus menerus dan pahala berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan keji. Tepat jam 7 pagi semua siswa berkumpul (melakukan apel) di lapangan, di sini mereka mendengarkan bacaan yang diikuti dengan mendendangkan sebuah puisi Arab (yang berisi doa-doa untuk memulai belajar-pen.) Kepala Sekolah memberikan beberapa pengumuman dan setelah itu apel pun bubar (untuk masuk ke kelas masing-masing-pen.).

Jam 7 pagi sampai 1 siang merupakan waktu sekolah formal-dimulai pada Hari Sabtu dan diakhiri di Hari Kamis. Hari Jum’at adalah hari libur-meskipun di Indonesia Hari Minggu adalah hari libur resmi. Indonesia dijalankan dengan undang-undang sekuler. Selama waktu sekolah formal, anak-anak belajar dengan kurikulum nasional Indonesia; Matematika, Sains, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Imu-ilmu Sosial dan Humaniora, dan ICT (Teknologi, Komunikasi, dan Informasi). Pesantren juga memasukkan dan pelajaran-pelajaran keislaman sebagai mata pelajaran wajib bagi semua santrinya. Ini hampir sama dengan sekolah-sekolah Muslim di United Kingdom (UK). Sebagian dari mereka bermain, sebagian lagi mencuci pakaian, ada juga yang mengerjakan pekerjaan gumah (PR), dan sebagian lagi beristirahat. Sesuatu yang amat mendamaikan, bising namun juga ada ketenangan di sini, di Pesantren (Sunan Pandanaran). Ketatnya aturan-aturan keseharian dan latihan spiritual mendorong kepada suatu ketundukan hati, kesetiakawanan, dan keinginan untuk bekerjasama.

Semua santri juga mempunyai waktu lain dalam menghafal Al-Qur’an dari Maghrib sampai Isya: Santri-santri senior akan memperoleh pelajaran dalam kajian-kajlan keislaman pada Waktu ini. Mereka belajar jam 10 malam-waktu. Ketika mereka akan tidur sampai Argumen Teologis mengenai Pesantren memerintahkan Al-Qur’an kepada orang tua untuk melindungi anak-anaknya dari kekufuran dan api meraka: “Wahai orang-orang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (at Tahrim: 6) Karena pendidikan merupakan kunci bagi pemahaman keagamaan dan membangun suatu keyakinan yang kuat, maka lembaga-lembaga pendidikan. Muslim adalah kendaraan yang penting untuk mencapai tujuan itu. Lembaga-lembaga Muslim tidak hanya akan menyiapkan anak-anak dan konsumen berbagai kebutuhan ekonomi, akan tetapi juga menyiapkan pribadi dengan moral dan spiritual yang mempunyai hubungan amat kuat dengan Tuhan mereka. Al-Qur’an juga mengungkapkan kepada kita bahwa jika anak-anak yang mengikuti jejak langkah orangorang tua mereka yang Muslim, mereka orang tuanya di surga: “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.” (at-Thur: 21)

Banyak Muslim Indonesia percaya bahwa pesantren merupakan suatu sarana penting dalam pendidikan, pengasuhan, dan pengembangan masa depan Muslim yang bertakwa dan beriman. Tujuannya adalah untuk menghasilkan orang-orang muda yang bisa menjadi panutan dalam perilaku mereka sebagaimana digambarkan dalam doa. Nabi Ibrahim yang amat terkenal: “Ya Tuhan karuniakanlah kepada kami pasangan (suami-istri) dan keturunan yang bisa menjadi penyejuk dan penenang hati (kami), dan jadikanlah kami panutan bagi orang-orang yang bertakwa. Para orang tua Muslim sangat memperhatikan pendidikan sekuler terhadap anak-anak mereka. Dalam mendiskusikan kebutuhan akan adanya Sekolah Muslim di Inggris, Dr. Abdul Bari dengan kekhawatiran para orang tua Muslim ketika dia mengungkapkan; tentang dampak sangat tepat memotret ketika dia mengungkapkan; “Bahkan sekolah-sekolah yang hanya terdiri dari anak-anak dari satu jenis kelamin di dalam tatanan yang sepenuhnya sekular ternyata masih menyisakan berbagai permasalahan.

Sepanjang lingkungan sekolah-sekolah ini membuka jalan bagi pembelajaran dan nilai-nilai yang permisif dan staf lain berbaur, sekolah-sekolah itu masih dapat mendorong kepada kehidupan yang tidak sehat dan standar ganda di dalam kehidupan seorang anak Muslim. Karena itulah mengapa para orang tua Muslim tidak hanya satu-satunya masyarakat yang bersikukuh untuk mengirimkan anaknya ke sekolahsekolah agama.” (The Greatest Gift: a Guide to Parenting-Taha 2002). Kitab Kuning Kurikulum Islam terdiri dari kitab-kitab utama yang dikenal dengan Kitab Kuning (karena dicetak dalam kertas kuning). Semua santri (siswa-siswi Pandanaran) harus mempelajari teksteks Arab ini, antara lain:

Kitab Tajrid as-Sarih adalah kitab yang diambil dari Sahih Bukhari, di mana semua pengulangan tidak dicantumkan dalam kitab ini-yang berisi lebih dari tiga ribu hadis. Kitab ini merangkumi keseluruhan topik di dalam Sahih Bukhari. Mulai dari pembahasan mengenai iman, wudhu, sholat, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh Nabi Saw dan para Sahabatnya. Teks Arab kedua adalah kitab fikih yang disebut Bughyatul Kitab Mustarshidin. ini berisi tentang fatwa dari banyak sarjana. Pembahasannya mendalam mengenai fikih, bersuci (thoharoh), sholat, haji, dan muamalat, pernikahan, perceraian, transaksi bisnis.

Berikutnya ialah Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang memiliki topik keutamaan mencari ilmu, rahasia bersuci, dasar keutamaan beribadah, puasa, haji, dzikir, tata-cara makan, mengucap salam, dan pernikahan. Pengembangan karakter, menjaga dari kejelekan lisan, kelebihan makan, menjaga diri dari sifat sombong, serakah, amarah, dan dengki. Taubat, ringkasan yang dibahas meliputi menjauhkan diri dari materialisme.

Para santri akan mempelajari kitab-kitab ini selama masa enam tahun mereka di Pesantren (Sunan Pandanaran-pen.). Ini merupakan pelajaran yang menyeluruh, yang sudah merangkumi tema-tema utama dalam ilmu-ilmu keislaman. Hal ini menyediakan landasan bagi pengembangan lebih lanjut kajian-kajian di bidang tafsir, hadis, dan fikih di tingkat perguruan tinggi. Gaya hidup Pesantren (Sunan Pandanaran-pen.) yang sederhana, guru-guru (ustadz) yang penuh kasih dan penuh perhatian, lantunan doa-doa yang secara rutin dibaca, sholat di pagi buta, dan banyak aktivitas ekstra kurikuler dari mulai berkebun taekwondo, sampai membantu dalam membentuk suatu jati diri keislaman yang seimbang. Fachry memberikan penjelasan mengenai pesantren:

“Pesantren-banyak yang telah berdiri dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu-adalah suatu tempat dan sistem pendidikan Islam yang umumnya terletak di daerah pedesaan. Ada tiga unsur utama yang secara mendasar membentuk ciri pesantren sebagai suatu sistem pendidikan Islam; Kyai, masjid, dan santri. Kyai adalah pemimpin yang seluruh menguasai masjid merupakan pusat berbagai aktivitas santri pengetahuan”. Interaksi di antara ketiga elemen ini menciptakan suatu jenis institusi pendidikan dan sosial yang khas di mana terdapat seorang pemimpin agama dan para pengikut yang setia.

Ada suatu perasaan yang nyata dalam sebuah keluarga yang besar. Terdapat lebih dari 10.000 pesantren di Jawa, dan karenanya mereka memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Para siswa dikenal sebagai santri, saya bertanya kepada beberapa santri muda tentang apa yang akan mereka lakukan pesantren dan apa yang akan mereka lakukan setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren? Sebagian dari mereka menjawab mereka akan melanjutkan pendidikan ke universitas untuk melanjutkan pembelajaran keislaman mereka. Sebagian juga akan melanjutkan mendalami ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Dengan begitu, bisa menyiapkan mereka dalam kesempatan untuk mobilisasi ekonomi.

Salah satu santri yang paling terkenal adalah mantan presiden Abdurrahman Wahid. Dia amat menyukai pesantren, dia berkata “sistem sosial pesantren telah menjadi suatu subkultur, yang bisa memperkaya budaya nasional”. Banyak santri yang mempunyal peran nasional menonjol sekarang ini; pengaruh mereka telah ditingkatkan sekali oleh Nahdlatul Ulama (NU), suatu organisasi Muslim yang berbasis pesantren. NU mempunyai sekitar 40 juta anggota. Hidup di pesantren selama empat hari merupakan pengalaman yang berharga. Saya menyaksikan suatu Islam yang penuh kasih dan kedamaian di dalam lembaga Muslim yang progresif. Saya melihat Indonesia-Abdurrahman tidak ada diskriminasi terhadap santri perempuan. Kiai dan staf seniornya amat bersahabat dan toleran. Para guru dan kiai (ulama) modernitas nampaknya menyerap dan ketakutan atau memilah-milahnva. Mereka nampaknya merasa nyaman dan mempunyai suatu sikap yang realistik terhadap keduanya. Mereka sangat paham bahwa ini merupakan proses sejarah manusia yang tidak bisa dielakkan yang menyediakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan memperkuat umat. Pandangan progresif dibandingkan dengan para Ulama di Anak Benua Indo-Pakistan atau Timur Tengah di mana para pemimpin agamanya merasa terancam (dengan modernisasi dan globalisasi-pen.). Saya rasa, pandangan ulama Indonesia yang sejuk, penuh kedamaian, dan progresif ini dapat menjadi contoh penting bagi Negara-negara Muslim lainnya di dalam dunia global kita ini.

*) Artikel bahasa Inggris diterjemahkan secara bebas oleh KH. Jazilus Sakhok, Ph.D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *