Peserta Khatimat Bil Ghoib 30 Juz Khatmil Qur’an ke-46 Ponpes Sunan Pandanaran

NO NAMA KOTA ASAL ASRAMA
1 Adrini Amalia Chusna binti H. Fathul Amam Banten Hajar Aswad Ngawen
2 Nurul Falihani binti H. Ahmad Affandi Banjarnegara Hajar Aswad Ngawen
3 Umi Nadhiroh binti Sardi Brebes Hajar Aswad Ngawen
4 Rahma Damayanti binti Suroyo Riau Darur Riyadhoh Bayat
5 Mustakimah binti Zamarodin Magelang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
6 Norma Ummu Habibah binti KH. M Thohari Askandar, S.Ag Surabaya Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
7 Nurul Falihana binti H. Ahmad Affandi Banjarnegara Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
8 Rif’ah Karlos binti Amir Karlos Gorontalo Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
9 Roudhotul Jannah binti K. Ghozali (alm) Indramayu Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
10 Ulfatunnisa Nuriansyah binti Ir. Iriansyah (alm) Bogor Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
11 ‘Ulya Nahdliyyah binti Syamsuddin Brebes Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
12 Ummi Habibah binti H. Abdul Fatah Lamongan Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
13 Siti Muzayyanah binti Abdullah Cirebon Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
14 Wardah Hani Mufidah binti KH. M. Farhan ‘Utsman (alm) Bogor Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
15 Zidni Manfa’ati binti Muslim (alm) Rembang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
16 Neli Maghfiroh binti Masyhuri (alm)* Pemalang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
17 Nur Anida binti Sudarmo* Tegal Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
18 Ahla Widadirrohmah binti Muhammad Adib* Malang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
19 Naili Zulfah binti Muh Mishbah* Bantul Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
20 Idah Faridah binti H. Muhammad Syakur* Subang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
21 Siti Khodijah binti Tahyudin* Subang Ki Ageng Wonokusumo Karangmojo
22 Munjidah binti Badrun Ardie* Kalimantan Tengah komplek II Sunan Pandanaran Sleman
23 Inti Fa’aturrohmah binti Sayid Ikhsanudin* Banyumas komplek II Sunan Pandanaran Sleman
24 Aulia Zahira binti Nur Mubin Viraga, ST (alm)* Klaten komplek II Sunan Pandanaran Sleman
25 Febriana Hasti Fauziyyah binti Hasan Suryaman Wonosobo Komplek III Sunan Pandanaran Sleman
26 Muyassarotul Murowwahah binti Ahmad Abdullah Supardi Grobogan Komplek III Sunan Pandanaran Sleman
27 Sa’atin binti Nahrowi Cirebon Komplek III Sunan Pandanaran Sleman
28 Suriyah binti Waryanto Bantul Komplek IV Sunan Pandanaran Sleman
29 Ilmi Mukaromah binti Asrofin* Kendal Komplek IV Sunan Pandanaran Sleman
30 Eva Hanifah binti KH. Muhibburrohman* Madura Komplek IV Sunan Pandanaran Sleman
31 Anita Putri binti Muadi (alm) Cirebon Komplek V Sunan Pandanaran Sleman
32 Azizah Amin binti Sugeng Indardi Yogyakarta Komplek VI Sunan Pandanaran Sleman
33 Vina Badriyatul Kamaliyah binti KH. Mastur Asy’ari (alm) Magelang Komplek VI Sunan Pandanaran Sleman
34 Kunti Fadlilah binti H. Abdullah Musyaffa (alm) Gresik Umum

*Masih dalam tahap seleksi

Contact Person: Ahmad Qodri Yassirul Amri (0813 9021 0607)

Penyelenggaraan Khatmil Qur’an ke-46 Ponpes Sunan Pandanaran Diadakan di Kediaman Masing-masing

Assalamualaikum wa Rahmatullah wa Barokatuh

Segala puji bagi Allah, Sang Maha Pencipta Langit dan Bumi. Sholawat serta salam kami haturkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kita senantiasa diberikan rahmat, hidayah, dan kesehatan, baik jasmani maupun rohani.

Sehubungan dengan akan diadakannya Acara Khatmil Qur’an Ponpes Sunan Pandanaran yang ke-46 dan Haul KH. Mufid Mas’ud. Melihat kondisi dan keadaan yang belum kondusif dikarenakan adanya wabah covid-19. Maka kami selaku panitia mengumumkan bahwa acara khataman akan dilaksanakan di kediaman masing-masing.

Untuk menggelorakan kegiatan tersebut maka para santri dimohon untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an masing-masing satu kali khataman sampai pada tanggal 10 April 2020.

Demikian yang bisa kami sampaikan. Kami selaku panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

wallahul muwaffiq ilaa aqwamitthariq

wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh

TAHFIDZUL QUR’AN MEMBUTUHKAN KEMANDIRIAN

Yogyakarta, bulan Juli 1987. Polos namun bertekad baja, seorang anak memenuhi panggilan hati demi menjawab cita-cita sang bunda untuk belajar di sebuah Pesantren. Awalnya, anak ini berniat mendalami ilmu-ilmu agama dengan masuk Pesantren di Jawa Timur sesuai anjuran ibunya. Namun, Tuhan berkehendak lain ketika Sang Ibu mendapat informasi melalui salah satu rekannya dalam organisasi “Muslimat NU” bahwa di Yogyakarta ada Pesantren khusus untuk mendalami ilmu-ilmu agama. “Tak usah jauh-jauh ke Jawa Timur, di Pandanaran saja, daerah Candi, malah tak repot kalau saya ingin menjenguk”, Demikian titah sang ibu kepada anaknya.

Menatap arsitektur sederhana, namun seolah bangunan itu memberikan getaran tersendiri dalam relung jiwa sang Ibu ketika sowan kepada KH. Mufid Mas’ud saat menitipkan putranya di Pandanaran. Anak itulah Yusuf Ahsani, menampakkan tangisan pertama yang dirindukan semesta di daerah Yogyakarta, dan hadir sebagai dambaan orang tua pada 28 Maret 1974. Seorang remaja dengan kehidupan serba prihatin dari ayah yang disiplin dan ibu penuh kasih sayang serta selalu mendukung sepenuh hati untuk menjadi orang sukses. Mulailah ia mengaji di Pesantren. dari nol sama sekali.

Yusuf kecil memulai kehidupan barunya di Pandanaran dengan menghafal Juz 30 kepada Ust. Sayid sembari menempuh pendidikan formal di SMP 93 Ngaglik, Sleman. Setelah selesai dengan hafalan Juz ‘Amma-nya, ia melanjutkan mengaji bin nadzri dari Juz 1 sampai Juz 30 kepada Ust. Buchori. Setelah itu, barulah ia mulai belajar langsung kepada pendiri Pandanaran, Kiai Mufid.

Pengajaran Tahfidz Ala Kiai Mufid

Model pertama kali ia mengaji kepada kiai Mufid sama seperti ketika mengaji bersama Ust. Buchori, yaitu mengaji secara bin nadzri. Satu hal yang menarik dibandingkan santri pada umumnya, adalah ketika Yusuf muda masih mengaji bin nadzri kepada Kiai Mufid dan telah sampai pada surat Yasin. Pada saat itu, Yusuf muda tiba-tiba disuruh berhenti mengaji oleh Kiai Mufid dan diminta untuk menyetorkan hafalan Juz 30 plus menghafal beberapa surat pilihan. Akhirnya, dalam tempo singkat ia sukses menyelesaikan tugasnya, dan pada saat itulah ia diperintahkan oleh Kiai Mufid untuk menghafal Al-Qur’an, suatu hal yang belum pernah tersbesit dalam benaknya.

“Sekarang saya hendak berangkat Haji, segera mulai menghafal Juz 1, besok kalau saya kembali dari tanah suci, hafalannya disetorkan kepada saya.” Demikian titah Kiai Mufid kepada Yusuf.

Ibarat air mengalir, Yusuf muda akhirnya mulai menghafal sebagaimana dawuh Kiai Mufid. Waktu yang tersedia dipergunakannya untuk bercengkerama bersama Al-Qur’an. Ia memilih waktu malam hari untuk mengaji secara sementara kebanyakan orang sedang terlelap. Baginya, waktu tengah malam hingga subuh adalah saat paling nikmat untuk menghafalkan ayat-ayat suci, dan itulah yang ia lakukan selama menghafalkan Al-Qur’an.

Saat melakoni proses tahfidzul Quran, normal bilamana menemui hambatan, begitu pun dengan Yusuf. Cobaan merupakan keniscayaan, tinggal bagaimana kita menyikapi cobaan itu apakah akan menjadi nikmat atau sebaliknya.

Ada hal menarik tentang relasi antara Kiai Mufid dengan Yusuf muda. Kerap terjadi ketika pribadi ia dilanda gelisah atau beragam cobaan, tiba-tiba ia dipanggil oleh Kiai Mufid ke ndalem untuk sekadar makan secukupnya. Ia disuruh menginap sampai kegelisahannya sirna, baru boleh kembali ke asrama.

Hal itu berlangsung setiap kali Yusuf mengalami kerisauan hati dan aneka problem kehidupan. Uniknya, ia baru menyadari ketika Kiai Mufid telah wafat pada tahun 2007. Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji’un.

Saat hafalan Yusuf muda mencapai Juz 24, ia mengalami cobaan luar biasa, ibundanya wafat, sehingga ia menjadi yatim-piatu sebab ayahnya telah lama dipanggil Tuhan sejak dirinya masih kecil. Hati Ust. Yusuf saat itu merasa sangat kehilangan sosok yang dicintainya. Ia bagai terhempas ke dalam badai. Ketika akal sehat mulai kembali menguasai emosinya, Yusuf muda dihadapkan pada dua pilihan.

“Kalau saya pulang berarti gagal, kalau menetap berarti harus berhasil.” Begitu gumamnya dalam hati.

Akhirnya ia memilih untuk menyelesaikan hafalan 30 Juz-nya yang sudah di  ambang pintu, dan di tahun 1996 ia resmi diwisuda sebagai khatimin Bil Ghaib 30Juz. Suatu capaian yang ia yakin dapat membanggakan ayah-bundanya di alam sana. Perjuangan Yusuf muda tidak berhenti di panggung khataman.

Pasca wisuda Khatmil Quran, ia kembali mendapat wejangan dari sang guru. “Yang namanya Al-Qur’an ya harus di-riyadlahi.” Demikian pesan Kiai Mufid kepada Yusuf muda. Maka, ia pun melakukan berbagai amaliyah seperti apa yang diperintahkan oleh Kiai Mufid seperti tadarrus, wirid, dan shalawat.

Semuanya tak pernah lepas dari aktivitas harian, sesibuk apapun hari-harinya berlalu. Ia bercermin pada Kiai Mufid, di mana setiap pergi keluar kota, tidak pernah Kiai Mufid duduk dalam keadaan terjaga kecuali dengan tadarrus Al-Qur’an. Lini masa terus berlalu dan pada tahun 1998, Yusuf muda turut mengantar Kiai Mufid menunaikan Ibadah Haji ke Makkah al-Mukarramah. Ia selalu menemani Kiai Mufid, melayani apapun keperluan Beliau

Dari pengalaman tersebut, ia semakin menyerap pelajaran dari gurunya, yakni tak pernah berhenti berdzikir. “Mulai bandara, dari pesawat lepas landas hingga turun lagi di Jeddah, Bapak tidak pernah tidur, Beliau selalu tadarrus Al-Qur’an atau membaca wirid dan shalawat tertentu dalam keadaan apapun.” Demikian akunya.

Sepulang haji, ia tetap melakukan aktivitas seperti biasa, mengaji dan mengaji hingga ia merasa sudah saatnya untuk pulang ke kampung halaman. Ust. Yusuf Ahsani pun sowan kepada Kiai Mufid guna memperoleh restu. Di luar dugaan, belum sempat ia berkata apa-apa, Kiai Mufid sudah mendahului apa yang akan disampaikannya,

“Tak usah aneh-aneh bikin program, sudah kan? Sekarang makan saja sana demikian jawaban Kiai Mufid atas permintaan yang belum sempat diutarakan oleh H. Yusuf Ahsani.

Tanpa berpikir ulang, ia pun mengambil keputusan. Kalimat sang maha guru tampak jelas dalam benaknya, bahwa ia belum diperbolehkan pulang oleh Kiai Mufid. Hal demikian berlangsung sampai tiga kali dalam selang waktu agak lama.

Akhirnya, ketika sowan untuk ketiga kali, ia memberanikan diri untuk berkata,”Saya akan pamit pulang” Kiai Mufid pun menjawab, “Hendak liburan atau mukim? Kalau mukim, tidak saya perbolehkan.” Lagi-lagi Kiai Mufid belum memberi izin. Apalah daya, sebagai santri, ia hanya bisa patuh pada keputusan gurunya. Namun selang beberapa saat, Kiai Mufid

melanjutkan, “Ya bertanyalah pada Tasim, aku ikut apa kata Tasim saja”

Maka, Kaji Yusuf (demikian sapaan akrabnya ketika itu) menceritakan semuanya kepada putra Kiai Mufid, H. Mu’tashim Billah. Setelah itu, akhirnya ia diperbolehkan kembali ke rumah dalam arti mukim, bukan liburan. Hanya saja, izin tersebut disertai syarat bahwa setiap hari Kamis, Yusuf harus datang ke Candi untuk menyimak hafalan Al-Qur’an para pengurus dan santri di Pandanaran.

Setelah konsisten setiap Kamis pergi-pulang ke Pandanaran, Kiai Tasim menambah durasinya menjadi Kamis-Jum’at. Begitu seterusnya, hingga sekarang H. Yusuf Ahsani masih tetap pergi-pulang ke Pandanaran guna mengajarkan Al-Qur’an kepada para pengurus dan santri.

Pendidikan Tahfidz

Kini kesibukan Ust H. Yusuf Ahsani bertambah seiring dengan amanah yang ia terima untuk ikut mengajar beberapa mata pelajaran di MTs Sunan Pandanaran, yang mana salah satunya adalah mata pelajaran Tahfidz. Menurut Kaji Yusuf, esensi Tahfidz bukan sekadar terletak pada pendidikannya, tetapi lebih kepada pelakunya, sebab sangat butuh kemandirian untuk menempuh Tahfidzul Quran. Dalam pendidikan formal, kurikulum Tahfidz hanya berlangsung beberapa jam saja dan hal ini sangat tidak efektif jika hanya mengandalkan waktu di kelas.

Di luar itu, siswa wajib mengeksplorasi dirinya sendiri untuk lebih mandiri dalam menghafalkan Al-Qur’an. Konsekuensi logisnya, alokasi waktu Tahfidz bagi seorang santri harus menjadi fokus utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan kegiatan lainnya yang bersifat hura-hura wajib disingkirkan  Di Pandanaran, kini Ust. H. Yusuf Ahsani adalah salah satu garda terdepan dalam menerapkan pendidikan tahfidz ala Kiai Mufid, yakni menghafalkan Al-Qur’an sampai ke akar-akarnya dan bukan sekadar formula kurikulum formal nan rigid.

Teladan Kiai Mufid

Dalam kehidupannya, H. Yusuf Ahsani banyak terinspirasi oleh Kiai Mufid, seperti soal ibadah, riyadlah, wiridan, serta amalan-amalan lainnya. “Bapak itu sederhana, namun rapi dalam berpakaian. Baik pakaian dzahir maupun batin. Ibadahnya pun rapi, juga istiqamah mengamalkan wiridan dan amalan-amalan sunnah”, begitu ujarnya. Terakhir, menurut H.Yusuf Ahsani.

Sesuatu yang masih menjadi misteri bagi dirinya dan ia masih mencoba untuk mengamalkan, ialah ketika melaksanakan ibadah Haji, Kiai Mufid memberikan wejangan, “Kalau wiridan yang tenang ya”. Kalimat “tenang” bagi Kaji Yusuf bermakna demikian luas, yakni tenang secara dzahir dengan duduk bersila dan semacamnya, atau “tenang” dalam artian tenang jiwanya ketika berdzikir. Di sisi lain, dari kalimat “tenang” itulah yang menginspirasi dirinya untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan keadaan tenang, bagaimanapun keadaannya.

Aksi Nyata Kaum Cendekia

Tiada kata henti untuk mengabdi. Lepas wisuda, Muhammad Ridlo, alumnus pertama STAI Sunan Pandanaran (STAISPA) ini menjejakkan kaki ke ujung Timur Indonesia.

Berbekal “sami’na wa atha’na”, Ridlo dengan mantap meng-iya-kan manakala ditunjuk oleh Ketua STAISPA, H. Mu’tashim Billah untuk terbang ke Merauke. Bukan untuk wisata, namun mengabdi di sana.

Penerimaan yang cukup heroik sekaligus pertaruhan, mengingat Papua yang selama ini hanya ia tatap lewat peta, kini Ridlo musti “bergelut” dengan budaya yang benar-benar baru seumur hidupnya.

Walhasil, pada tanggal 7 November 2017 ia tiba di Yayasan Pondok Pesantren Barokatul Quran (Cabang Pesantren Sunan Pandanaran), Waninggap Say, SP 4, Tanah Miring, Merauke, Papua, tempat di mana ia mengabdi.

Ketika dihubungi oleh Suara Pandanaran lewat telepon seluler, Ridlo mengaku bilamana Pengasuh Pesantren Barokatul Quran, KH. Muhson Syahid sangat antusias dan merasa beruntung.

“Ya, Kiai Muhson merasa bahagia karena ada tambahan mujahid perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad saw di Papua. Lebih-lebih mujahid yang notabene seorang santri-cendekia”, kata Ridlo seolah-olah menirukan Kiai Muhson.

Lebih jauh, Ridlo mengatakan bahwa ilmu yang selama ini ia dapat selama proses belajar di Pesantren Sunan Pandanaran dan STAISPA cukup berguna.

Jadi saya rasa, apa yang telah saya pelajari baik di pesantren maupun ruang perkuliahan lalu terjun di masyarakat, itu berguna sekali”, terangnya.

Nyatanya, lanjut Ridlo, masyarakat sangat membutuhkan sekali ur pendampingan keagamaan terutama di daerah Papua. “Kebanyakan orang orang di sini terhitung cukup awam tentang agama”, katanya.

la berharap agar para mahasiswa tidak hanya bergelut dengan wacana, sementara enggan melakukan aksi nyata.

“Ya mau tidak mau kita harus siap diterjunkan di masyarakat. Sebagai agen perubahan mestinya tidak hanya berkutat di zona nyaman. Jadi harus siap mental dan wawasan keagamaan. Sebab yang dibutuhkan masyarakat dari mahasiswa-santri itu bukan gelar sarjana tapi ejawantah dari ilmu agama.” pungkas Ridlo. [M. Sabiq Basyiri]

Sumber: Majalah Suara Pandanaran edisi 17, Januari 2018