Pencatat Sirah Hasanah dan Sejarah Sepanjang Zaman

Evolusi Media Pandanaran (Pandanaran Post, Suara Pandanaran, pandanaran.org …)

Media massa adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan. Media massa menjadi penting karena memang memiliki kekuatan. Begitu juga halnya dengan pesantren, peran media pesantren bukan sekedar mampu menyampaikan pesan kepada khalayak tetapi lebih karena media pesantren diharapkan dapat menjalankan fungsi mendidik, mempengaruhi, menginformasikan dan menghibur. Tidak terkecuali media yang terdapat di Pesantren Sunan Pandanaran.

Dalam perjalanannya, media pesantren Pandanaran telah berevolusi menjadi tiga fase (milestone) yang tentu saja masih dinamis dan bukan menjadi suatu akhir. Maka, tidak heran tujuan utama dari eksistensi media pesantren Pandanaran adalah mendidik santri untuk menulis. Karena orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.

Fase Awal (Mading Pandanaran Post, 2001-2003)      

Pada awal abad 21 atau era milennium sekitar tahun 2001, media pesantren Pandanaran mulai terbit menyapa para santri. Media ini diinisiasi oleh santri huffadz yang bernama Muhammad Ali Hisyam. Tidak sampai disitu, Ali Hisyam juga terlibat langsung dalam pengelolaan media. Dengan bekal hobi menulis di beberapa media nasional dan ilmu jurnalistik, Ali Hisyam mulai membentuk tim redaksi untuk penerbitan media. Ia mulai menghubungi beberapa santri yang potensial dapat bekerja sama. Salah satunya adalah santri Zahron. Perannya adalah adalah membantu dalam proses pra-produksi yaitu mengetik naskah. Karena saat itu santri Zahron diamanahi sebagai pengurus kantor mempunyai akses untuk menggunakan komputer kantor administrasi pesantren.     

Pada awal debut penerbitannya media tersebut diberi nama Pandanaran Post dengan slogannya Buka Wacana Bina Talenta.  Dalam penampilannya Pandanaran Post tak ubahnya seperti majalah dinding (mading). Namun, secara format media ini banyak mengadopsi koran. Hal ini dapat dilihat dari format layout dan beberapa isi rubrik yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai layaknya sebuah koran. Sebut saja terdapat rubrik headline news, liputan khusus, feature news, ketawa itu halal, dan seterusnya, di mana beberapa nama rubriknya masih terjaga sampai kini, dalam bentuk majalah maupun web site. Secara produksi media ini hanya dicetak 1 eksemplar dengan 4-8 halaman yang dipajang di beberapa papan. Tiap papan memuat 2 halaman. Tiap halaman mempunyai ukuran berkisar 90 cm x 45 cm.

Menariknya, bak piala bergilir, publik alias para santri mengkonsumsi media ini secara bergantian. Diawali dengan memasang lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh para santri Komplek 1 (Huffadz Putra). Setelah 1 minggu, media tersebut dipasang bergantian di Komplek 2 (Huffadz Putri), lalu berlanjut di Komplek 3 (Santri MTs dan MA). 

Maka, tidak heran media ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para santri yang berada di lingkungan Komplek 1 dan Komplek 2 Pandanaran. Sebelum era digital seperti sekarang di mana informasi mengalir deras bak jamur di musim hujan, adanya berita seputar pesantren yang hanya muncul sesekali adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi para santri. Euforia luar biasa adalah ketika media ini mengulas tentang organisasi daerah (Orda). Pandanaran Post pada saat itu mampu memberikan edukasi kepada para santri agar dapat berorganisasi sesuai amanah pengasuh.   

Seiring berjalannya waktu, media ini mulai ditinggalkan oleh beberapa dewan redaksi. Beberapa santri senior seperti Ali Hisyam dan santri Zahron mulai pamit untuk boyong melanjutkan perjalanan menggapai cita-cita mulia. Tak heran, sebab pada dasarnya Pandanaran Post adalah aspirasi kreativitas pengisi waktu luang di sela-sela rutinitas wajib, menghafalkan Alquran dan menuntut ilmu. Walhasil, Pandanaran Post pun vakum, rehat sejenak sampai waktu yang tak bisa ditentukan. 

Fase Pertengahan (Majalah Suara Pandanaran, 2005 sampai Sekarang)

Hingga sampai pada periode Khatmil Qur’an 2004 mulai muncul lagi isu penerbitan media pesantren. Diinisialisasi oleh pertemuan para alumni Pandanaran yang menghasilkan rekomendasi pembuatan majalah pesantren. Tidak menunggu lama dikomandoi santri Mas’udi mulai mengerahkan para santri yang potensial dapat bekerja sama. Berbekal informasi sisa-sisa tim redaksi Pandanaran Post, Kang Mas’udi membentuk tim redaksi majalah. Personel kala itu adalah Abdul Fatah, Furqon, M. Suhaili, Syaiful, Mahbubi, dan Hisyam Zamroni plus beberapa santri lain. Tim ini mulai bergerak membagi tugas dengan membagi 2 tim yang masing-masing tugas utama. Tim pertama adalah pengumpulan data yang mempunyai tugas mengumpulkan data-data yang dibutuhkan terkait kebutuhan konten majalah pesantren. Tim kedua adalah pengolahan data yang mempunyai tugas mengolah data menjadi sebuah tampilan majalah yang menarik.

Alhasil setelah persiapan dirasa cukup santri Mas’udi bersama tim redaksi melakukan sowan kepada salah satu pengasuh, yaitu KH. Mu’tashim Billah. Hasilnya, nama Suara Pandanaran pun lahir berkat titah Beliau. Edisi perdana, majalah Suara Pandanaran mencetak sekitar 2000 ekslempar yang dibagikan kepada seluruh santri dan alumni. Sama seperti media sebelumnya, majalah ini juga mendapat sambutan yang luar biasa karena berisi informasi nasehat dan napak tilas perjalanan perkembangan pesantren Pandanaran yang dituturkan langsung oleh pendiri sekaligus pengasuh pesantren Pandanaran yaitu KH. Mufid Mas’ud. Selain itu, karena majalah pesantren adalah hasil evolusi dari media sebelumnya sehingga, beberapa nama rubrik yang ada diambil dari nama rubrik media Pandanaran Post

L’Histoire se répète , meminjam istilah Prancis bahwa sejarah akan berulang, demikian pula dengan Suara Pandanaran. Senada dengan leluhurnya, Pandanaran Post, lambat laun Suara Pandanaran mulai ditinggalkan oleh anggota redaksinya. Maka, demi kelangsungan media pesantren sebagai salah satu sarana edukasi, dibentuklah tim redaksi khusus untuk melanjutkan penerbitan Suara Pandaranan. Tongkat estafet berlanjut dipegang oleh Abdul Hakim, lalu diteruskan H. Arif Hakiem dan H. Ali Hifni sampai kini. Selama kurun waktu tersebut, beberapa perubahan terjadi di banyak aspek, terutama pada desain dan konten Majalah Suara Pandanaran. Hingga saat ini Suara Pandanaran telah menerbitkan 30 edisi dan telah diedarkan ke lebih 4000 santri.

Fase Millenial (Web pandanaran.org)

Setelah era tersebut, kini Suara Pandanaran sebagai kelanjutan dari Pandanaran Post berevolusi lagi menjadi web site, sekaligus bertransformasi menjadi media multi platform dalam bentuk media sosial Instagram, kanal YouTube dan sejenisnya. Banyak cerita di dalam media Pandanaran. Dimulai dari mading lalu menjadi majalah, sejak KH Mufid Mas’ud secara langsung mengisi konten media, banyak tema, sejarah, sekaligus tokoh secara bergantian menghiasi laman Suara Pandanaran. Semoga media ini tetap dan selalu menjadi medium edukasi sekaligus pencatat sejarah dan sirah hasanah pendiri pesantren, KH Mufid Mas’ud, sehingga warisan Beliau tetap abadi sepanjang zaman.

Bencana : Antara Qadha’, Qodar, dan Tawakkal

Dalam perspektif ilmu kebencanaan, bencana merupakan sebuah peristiwa yang menimbulkan kerugian pada kehidupan manusia, baik itu nyawa atupun harta benda. Peristiwa peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, atau tanah longsor yang tidak menimbulkan korban atau kerugian, akan dianggap sebagai gejala alam biasa, bukan bencana. Peristiwa alam tersebut baru dikatakan bencana apabila mengakibatkan kerugian dan korban.Tugas manusialah untuk mensiasatinya supaya semaksimal mungkin tidak terkena dampak dan kerugian dari berbagai fenomena alam tersebut. Perspektif di atas dapat dicari penjelasannya melalui sudut pandang keagamaan. Bencana, dalam terminologi agama sesungguhnya tidak terlepas dari tiga konsep penting, yaitu qodlo’, tawakkal, dan qodar (takdir).

Pemahaman tentang qodlo’ akan mengantarkan pada keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini telah ditentukan hukum dan rumusan-rumusannya oleh Allah (sunnatullah). Karena itu diperlukan sebuah sikap hidup tawakkal yang merupakan bentuk dan “usaha untuk pasrah dan taat” terhadap segala qodlo’ Allah tersebut. Jika sudah ber-tawakkal terhadap qodlo’ Allah, maka setiap manusia harus selalu siap dengan segala takdir (keputusan) Allah terhadap dirinya, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan. Melalui kerangka berfikir tersebut, seluruh peristiwa dan kejadian di alam semesta ini pada hakikatnya adalah sesuatu yang sudah di-qodlo-kan oleh Allah. Dia telah menetapkan untuk mengatur ketertiban alam semesta, sehingga segala “hukum alam” yang berlaku di dunia ini pada hakikatnya sebagai sunnatullah. Fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor dalam cara pandang ini adalah sebuah kejadian alam biasa yang memang sudah sewajarnya terjadi, karena hukum kausalitas alam sudah menghendaki demikian. Manusia harus tawakkal (pasrah dan tunduk) terhadap qodlo Allah ini.

Ketika qodlo Allah berupa gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor terjadi dan menimbulkan bencana terhadap manusia, maka saat itu juga manusia harus ber-tawakkal terhadap qodlo’ Allah yang lainnya, yaitu ketentuan Tuhan bahwa jika terjadi potensi bencana yang akan menimpa dirinya, maka manusia diperintah untuk berusaha (ikhtiar) mencari keselamatan diri semaksimal mungkin dari ancaman bencana alam tersebut. Karena itu, di dalam sikap tawakkal terdapat anjuran untuk ber-ikhtiar. Tawakkal bukan berarti pasrah atas segala peristiwa yang telah menimpa diri kita dan berdimensi “pasif”, tetapi terdapat ikhtiar untuk pasrah dan tunduk terhadap segala sunnatullah (qodho) Allah di alam semesta ini, sehingga berdimensi “aktif”. Ketika terjadi suatu bencana yang menimpa, maka bentuk ke-tawakkal-an manusia adalah dengan berusaha secara maksimal untuk meminimalisir korban dan kerugian yang ditimbulkan dari bencana itu, sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an: “Apabila kamu telah berketetapan hati, maka bertawakkallah kepada Allah…” (Q.S. Al-Imran [3]: 159). Karena itu, sikap tawakkal harus sudah ada, bahkan ketika seseorang baru berniat untuk ber-ikhtiar Bencana dipersepsikan oleh Al-Quran sebagai salah satu bentuk ujian atau cobaan bagi manusia yang niscaya harus dihadapi seperti yang ditegaskan dalam ayat: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.(Q.S. Al-Baqarah [2]: 155). Tugas manusia kemudian adalah bagaimana dengan bencana itu dia tetap bisa menyikapinya secara baik, sesuai dengan ayat: “(Dia) yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, síapa di antara kalian yang paling baik amalnya.(Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Bersikap baik ketika tertimpa bencana yang dianjurkan oleh Al-Qur’an sebagaimana akhir ayat Surah al-Baqarah di atas adalah wa bassyir al-shabirin (bersikap sabar) sebagai sebuah manifestasi ketawakkalan. Sabar di sini dalam arti melakukan ikhtiar untuk meminimalisir kerugian akibat bencana atau juga sikap ketika tertimpa bencana yang diwujudkan melalui lima prinsip maqashid al-syari’ah yaitu melindungi agama dan keyakinan (hifdz al-din), melindungi dan menyelamatkan jiwa (hifdz al-nafs), melindungi akal pikiran (hifdz al-aql), menjaga keturunan dan keluarga (hifdz al-nasl), dan menjaga harta benda (hifdz al-mal). Setiap usaha dalam meminimalisir kerugian akibat bencana harus mencakup ikhtiar, baik dhahir maupun batin, untuk melindungi dan menyelamatkan kelima unsur tersebut. Di samping itu, usaha tersebut juga mesti disandarkan pada kelima hal diatas supaya selaras dengan prinsip dan tujuan diberlakukannya syari’at. Dengan begitu, usaha menghindari dan meminimalisir dampak bencana mempunyai landasan syari’at yang kuat sebagai sesuatu yang harus dilakukan.

Namun, meskipun manusia sudah bersikap pasrah dan tunduk melalui ikhtiar terhadap qodlo’ Allah, adalah hak-Nya jika menghendaki sesuatu yang berbeda dari sunnatullah atau hukum alam yang telah ditetapkannya. Manusia boleh berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan diri dari kerugian bencana dan Allah berketetapan menyelamatkannya. Tetapi bisa juga sebaliknya, Allah malah berketetapan meskipun manusia telah berusaha menghindarinya. Karena itu, peran qodar atau takdir Allah menjadi amat penting sebab di sinilah letak batasan kebebasan dan usaha manusia dengan kekuasaan Allah. Manusia, dalam hal ini boleh mamandang setiap peristiwa alam semesta ini sebagai sebuah manifestasi qodlo Allah yang lumrah terjadi, namun seberapapun usaha manusia dalam rangka ber-tawakkal terhadap qodlo-Nya, takdir tetap menjadi sebuah kata putus dari Allah, yang hukum alam dan usaha manusiapun tidak mampu mengubahnya. memberikan bencana Bencana, dengan begitu, tidaklah selalu identik dengan kesialan, kedukaan, dan peristiwa negatif jika dipersepsikan secara tepat dalam kerangka konsep qodlo’, tawakkal, dan qodar sebagaimana di atas, tetapi bisa juga berarti peristiwa yang membawa angin positif dan hikmah bagi manusia untuk bercermin diri dan menata kehidupan yang lebih baik. Karena semua takdir Allah terhadap manusia, bagi orang Mu’min adalah sesuatu yang selalu bisa disikapi secara positif.

*) Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi April 2011

Membangun Sejarah Baru untuk Masa Depan

Membaca sejarah itu penting, tetapi membuat sejarah jauh lebih penting.

Pernyataan ini ditegaskan oleh KH. A. Wahid Hasyim, salah satu pendiri NKRI. Kiai Wahid, panggilannya, sadar betul bahwa untuk membangun masa depan, manusia harus berani menerobos dalam membangun sejarahnya sendiri. Tidak bisa hanya berkaca pada jaman keemasan dan terjebak dalam romantisme masa silam. Membangun sejarah baru meniscayakan kerja keras, baik dalam intelektualitas, profesionalitas, dan bahkan spiritualitas.

Mahasiswa studi al-Qur’an dan hadis menjadi aktor utama dalam upaya serius membuat sejarah masa depan bangsa ini. Peradaban Islam yang agung itu lahir dengan jejak penuh getir, hasil ramuan para filosof, teolog, fuqoha’, sastrawan, dan para negarawan. Warisan peradaban Islam ini tak lain merupakan manifestasi mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada umat Islam: Iqra! (bacalah!). Mukjizat Iqra! inilah, menurut Prof. Yudian (2010), yang akan memberikan ledakan keilmuan yang membuat pembaca bisa jadi tercengang-cengang. Belajar dari warisan peradaban Islam masa silam, spirit Iqra! menjadi pendobrak awal untuk memulai sebuah petualangan intelektual. Membaca akan mengajak pembaca untuk melakukan petualangan ke segala penjuru semesta pengetahuan tanpa batas. Aktivitas membaca juga berhak dilakukan siapa saja, tanpa peduli latar belakangnya.

Etos Iqra! inilah yang menjadi rujukan utama bagi mahasiswa. Bagi kita yang berada di Indonesia, semangat membangun sejarah baru harus segera dikerjakan dengan serius. Semua program dan agenda segera direalisasikan. Apalagi Indonesia menjadi salah satu rujukan Islam dunia. Seorang ilmuan bernama Malik Bennabi (1905-1973) pernah mengatakan: “Dunia Islam (akan) beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta (Indonesia), sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damaskus”. Pernyataan ini terkesan sarkastik, tetapi bila dirunut secara reflektif, justru bisa menjadi momentum membangun kaum muda Islam Indonesia sebagai pelopor menjadikan Islam sebagai agama peradaban.   

Sebagai agama peradaban, menurut Bennabi, perspektif Islam memandang bahwa keefektifan suatu pemikiran dan ajaran agama adalah dalam kerangka sosial, perubahan, pembentukan karakter individu-individu dan apa yang dapat dihasilkannya dalam sejarah. Dalam pengertian ini, Islam dapat berperan sebagai katalisator unsur-unsur penting peradaban: manusia, tanah, dan masa (waktu).  

Islam akan hadir sebagai agama yang praktis dan yang lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya, bukan agama menghabiskan energi dan masa hanya untuk membuktikan kebenaran dirinya.

Mahasiswa studi al-Qur’an dan hadis harus mampu membuktikan kebenaran ajaran Islam secara teoritis, sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan ke-dinamis-annya dalam kehidupan praktis. Gerak keilmuan mahasiswa juga harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena pribadi, maka sejarah masa depannya akan putus ditelan bumi dan menjadi kenangan buruk di hari kemudian.

Oleh : Enok Ghosiyah, Sekjend Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir-Hadis se-Indonesia (FKMTHI) 2015-2017

“Pondok Pesantren” di Indonesia; Kurikulum, Pengembangan Spiritualitas, dan Pembentukan Karakter *)

“Para sarjana Muslim di seluruh dunia telah menyelenggarakan pendidikan Islam secara serius, dan karena itu telah dirancang berbagai program khusus dan lembaga-lembaga yang mapan untuk mengajar kan Islam. Di Timur Tengah lembaga-lembaga itu dikenal dengan Ma’had, di Anak benua Indo-Pakistan disebut Darul Uloom, di negara-negara Barat dinamakan Sekolah Muslim, dan di Indonesia dengan Pesantren.” Demikian Dr. Musharraf Hussain menjelaskan bagaimana kehidupan pesantren berlangsung.

Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Seorang anak laki-laki usia 13 tahun sedang berdiri dengan penuh kekhusyu’an di barisan shaf paling depan, dia sedang melaksanakan sholat jamaah Subuh di pagi buta. Dia telah bangun pada jam 03.30 pagi untuk bertahajud di saat terdengar kokokan ayam jantan. Setelah selesai sholat dia melantunkan rangkaian doa-doa bahasa Arab dengan merdu bersama sekitar lima ratus anak keseharian mereka, berdzikir, mengingat yang lainnya. Ini adalah Maha Kuasa dengan sepenuh hati dan pikiran melalui suara-suara yang indah. Hal ini dilakukan sekitar sepuluh menit. Lalu, Imam sholat, salah satu santri senior, mengangkat tangan, mengucapkan doa terakhir.Setelah latihan spiritual yang intens ini, semua murid berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing. Waktunya mengaji Al-Qur’an. Mereka duduk berderet satu persatu ke belakang dan dengan suara keras namun khidmat melakukan hafalan.

Tepat jam 6 pagi mereka bersarapan dengan nasi dan sayuran yang sederhana. Salah satu santri senior, mengangkat tangan, mengucapkan doa terakhir. Setelah latihan spiritual yang intens ini, semua murid berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing. Waktunya mengaji Al-Qur’an. Mereka duduk berderet satu persatu ke belakang dan dengan suara keras namun khidmat melakukan hafalan. Anak itu kemudian mengganti pakaiannya di dalam kamar asrama di mana ia hidup bersama sebelas murid lainnya. Kamar asrama mempunyai tempat tidur bersusun dan almari penyimpan barang dan pakaian. Sekali lagi semua murid datang ke masjid untuk berjamaah Shalat Dhuha. Ini merupakan sholat sunat yang dilakukan dengan dua rakaat sekali salam, yang disebutkan Nabi mempunyai pahala seperti zikir yang dilakukan secara terus menerus dan pahala berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan keji. Tepat jam 7 pagi semua siswa berkumpul (melakukan apel) di lapangan, di sini mereka mendengarkan bacaan yang diikuti dengan mendendangkan sebuah puisi Arab (yang berisi doa-doa untuk memulai belajar-pen.) Kepala Sekolah memberikan beberapa pengumuman dan setelah itu apel pun bubar (untuk masuk ke kelas masing-masing-pen.).

Jam 7 pagi sampai 1 siang merupakan waktu sekolah formal-dimulai pada Hari Sabtu dan diakhiri di Hari Kamis. Hari Jum’at adalah hari libur-meskipun di Indonesia Hari Minggu adalah hari libur resmi. Indonesia dijalankan dengan undang-undang sekuler. Selama waktu sekolah formal, anak-anak belajar dengan kurikulum nasional Indonesia; Matematika, Sains, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Imu-ilmu Sosial dan Humaniora, dan ICT (Teknologi, Komunikasi, dan Informasi). Pesantren juga memasukkan dan pelajaran-pelajaran keislaman sebagai mata pelajaran wajib bagi semua santrinya. Ini hampir sama dengan sekolah-sekolah Muslim di United Kingdom (UK). Sebagian dari mereka bermain, sebagian lagi mencuci pakaian, ada juga yang mengerjakan pekerjaan gumah (PR), dan sebagian lagi beristirahat. Sesuatu yang amat mendamaikan, bising namun juga ada ketenangan di sini, di Pesantren (Sunan Pandanaran). Ketatnya aturan-aturan keseharian dan latihan spiritual mendorong kepada suatu ketundukan hati, kesetiakawanan, dan keinginan untuk bekerjasama.

Semua santri juga mempunyai waktu lain dalam menghafal Al-Qur’an dari Maghrib sampai Isya: Santri-santri senior akan memperoleh pelajaran dalam kajian-kajlan keislaman pada Waktu ini. Mereka belajar jam 10 malam-waktu. Ketika mereka akan tidur sampai Argumen Teologis mengenai Pesantren memerintahkan Al-Qur’an kepada orang tua untuk melindungi anak-anaknya dari kekufuran dan api meraka: “Wahai orang-orang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (at Tahrim: 6) Karena pendidikan merupakan kunci bagi pemahaman keagamaan dan membangun suatu keyakinan yang kuat, maka lembaga-lembaga pendidikan. Muslim adalah kendaraan yang penting untuk mencapai tujuan itu. Lembaga-lembaga Muslim tidak hanya akan menyiapkan anak-anak dan konsumen berbagai kebutuhan ekonomi, akan tetapi juga menyiapkan pribadi dengan moral dan spiritual yang mempunyai hubungan amat kuat dengan Tuhan mereka. Al-Qur’an juga mengungkapkan kepada kita bahwa jika anak-anak yang mengikuti jejak langkah orangorang tua mereka yang Muslim, mereka orang tuanya di surga: “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.” (at-Thur: 21)

Banyak Muslim Indonesia percaya bahwa pesantren merupakan suatu sarana penting dalam pendidikan, pengasuhan, dan pengembangan masa depan Muslim yang bertakwa dan beriman. Tujuannya adalah untuk menghasilkan orang-orang muda yang bisa menjadi panutan dalam perilaku mereka sebagaimana digambarkan dalam doa. Nabi Ibrahim yang amat terkenal: “Ya Tuhan karuniakanlah kepada kami pasangan (suami-istri) dan keturunan yang bisa menjadi penyejuk dan penenang hati (kami), dan jadikanlah kami panutan bagi orang-orang yang bertakwa. Para orang tua Muslim sangat memperhatikan pendidikan sekuler terhadap anak-anak mereka. Dalam mendiskusikan kebutuhan akan adanya Sekolah Muslim di Inggris, Dr. Abdul Bari dengan kekhawatiran para orang tua Muslim ketika dia mengungkapkan; tentang dampak sangat tepat memotret ketika dia mengungkapkan; “Bahkan sekolah-sekolah yang hanya terdiri dari anak-anak dari satu jenis kelamin di dalam tatanan yang sepenuhnya sekular ternyata masih menyisakan berbagai permasalahan.

Sepanjang lingkungan sekolah-sekolah ini membuka jalan bagi pembelajaran dan nilai-nilai yang permisif dan staf lain berbaur, sekolah-sekolah itu masih dapat mendorong kepada kehidupan yang tidak sehat dan standar ganda di dalam kehidupan seorang anak Muslim. Karena itulah mengapa para orang tua Muslim tidak hanya satu-satunya masyarakat yang bersikukuh untuk mengirimkan anaknya ke sekolahsekolah agama.” (The Greatest Gift: a Guide to Parenting-Taha 2002). Kitab Kuning Kurikulum Islam terdiri dari kitab-kitab utama yang dikenal dengan Kitab Kuning (karena dicetak dalam kertas kuning). Semua santri (siswa-siswi Pandanaran) harus mempelajari teksteks Arab ini, antara lain:

Kitab Tajrid as-Sarih adalah kitab yang diambil dari Sahih Bukhari, di mana semua pengulangan tidak dicantumkan dalam kitab ini-yang berisi lebih dari tiga ribu hadis. Kitab ini merangkumi keseluruhan topik di dalam Sahih Bukhari. Mulai dari pembahasan mengenai iman, wudhu, sholat, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh Nabi Saw dan para Sahabatnya. Teks Arab kedua adalah kitab fikih yang disebut Bughyatul Kitab Mustarshidin. ini berisi tentang fatwa dari banyak sarjana. Pembahasannya mendalam mengenai fikih, bersuci (thoharoh), sholat, haji, dan muamalat, pernikahan, perceraian, transaksi bisnis.

Berikutnya ialah Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang memiliki topik keutamaan mencari ilmu, rahasia bersuci, dasar keutamaan beribadah, puasa, haji, dzikir, tata-cara makan, mengucap salam, dan pernikahan. Pengembangan karakter, menjaga dari kejelekan lisan, kelebihan makan, menjaga diri dari sifat sombong, serakah, amarah, dan dengki. Taubat, ringkasan yang dibahas meliputi menjauhkan diri dari materialisme.

Para santri akan mempelajari kitab-kitab ini selama masa enam tahun mereka di Pesantren (Sunan Pandanaran-pen.). Ini merupakan pelajaran yang menyeluruh, yang sudah merangkumi tema-tema utama dalam ilmu-ilmu keislaman. Hal ini menyediakan landasan bagi pengembangan lebih lanjut kajian-kajian di bidang tafsir, hadis, dan fikih di tingkat perguruan tinggi. Gaya hidup Pesantren (Sunan Pandanaran-pen.) yang sederhana, guru-guru (ustadz) yang penuh kasih dan penuh perhatian, lantunan doa-doa yang secara rutin dibaca, sholat di pagi buta, dan banyak aktivitas ekstra kurikuler dari mulai berkebun taekwondo, sampai membantu dalam membentuk suatu jati diri keislaman yang seimbang. Fachry memberikan penjelasan mengenai pesantren:

“Pesantren-banyak yang telah berdiri dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu-adalah suatu tempat dan sistem pendidikan Islam yang umumnya terletak di daerah pedesaan. Ada tiga unsur utama yang secara mendasar membentuk ciri pesantren sebagai suatu sistem pendidikan Islam; Kyai, masjid, dan santri. Kyai adalah pemimpin yang seluruh menguasai masjid merupakan pusat berbagai aktivitas santri pengetahuan”. Interaksi di antara ketiga elemen ini menciptakan suatu jenis institusi pendidikan dan sosial yang khas di mana terdapat seorang pemimpin agama dan para pengikut yang setia.

Ada suatu perasaan yang nyata dalam sebuah keluarga yang besar. Terdapat lebih dari 10.000 pesantren di Jawa, dan karenanya mereka memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Para siswa dikenal sebagai santri, saya bertanya kepada beberapa santri muda tentang apa yang akan mereka lakukan pesantren dan apa yang akan mereka lakukan setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren? Sebagian dari mereka menjawab mereka akan melanjutkan pendidikan ke universitas untuk melanjutkan pembelajaran keislaman mereka. Sebagian juga akan melanjutkan mendalami ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Dengan begitu, bisa menyiapkan mereka dalam kesempatan untuk mobilisasi ekonomi.

Salah satu santri yang paling terkenal adalah mantan presiden Abdurrahman Wahid. Dia amat menyukai pesantren, dia berkata “sistem sosial pesantren telah menjadi suatu subkultur, yang bisa memperkaya budaya nasional”. Banyak santri yang mempunyal peran nasional menonjol sekarang ini; pengaruh mereka telah ditingkatkan sekali oleh Nahdlatul Ulama (NU), suatu organisasi Muslim yang berbasis pesantren. NU mempunyai sekitar 40 juta anggota. Hidup di pesantren selama empat hari merupakan pengalaman yang berharga. Saya menyaksikan suatu Islam yang penuh kasih dan kedamaian di dalam lembaga Muslim yang progresif. Saya melihat Indonesia-Abdurrahman tidak ada diskriminasi terhadap santri perempuan. Kiai dan staf seniornya amat bersahabat dan toleran. Para guru dan kiai (ulama) modernitas nampaknya menyerap dan ketakutan atau memilah-milahnva. Mereka nampaknya merasa nyaman dan mempunyai suatu sikap yang realistik terhadap keduanya. Mereka sangat paham bahwa ini merupakan proses sejarah manusia yang tidak bisa dielakkan yang menyediakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan memperkuat umat. Pandangan progresif dibandingkan dengan para Ulama di Anak Benua Indo-Pakistan atau Timur Tengah di mana para pemimpin agamanya merasa terancam (dengan modernisasi dan globalisasi-pen.). Saya rasa, pandangan ulama Indonesia yang sejuk, penuh kedamaian, dan progresif ini dapat menjadi contoh penting bagi Negara-negara Muslim lainnya di dalam dunia global kita ini.

*) Artikel bahasa Inggris diterjemahkan secara bebas oleh KH. Jazilus Sakhok, Ph.D.