Berpijak pada yang Lokal untuk Membangun Peradaban Global

Berbagai kasus global menjadi tantangan serius bagi umat Islam. Terorisme selalu menjadi hantu seram. Tidak sedikit anak muda yang sedang disorientasi ketika mendapatkan suntikan semangat “jihad”, tiba-tiba menjadi aktor yang menghancurkan tatanan dunia : bom meledak, banyak nyawa yang sia-sia. Bagaimana umat Islam mesti menjawabnya? Berpijak pada yang lokal. Inilah gerakan yang mesti dibangun bersama, termasuk yang selalu digerakkan oleh Jama’ah Muballighin Sunan Pandanaran (Jamuspa). Nilai-nilai lokal dalam gerakan Jamuspa menjadi titik pijak dalam bergerak, membangun masyarakat, untuk kemaslahatan umat manusia. Berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya : masjid,mushola, majlis taklim, dan lainnya. Jamuspa tak mau berhenti, selalu bergerak di tingkat lokal untuk menguatkan jalan keberagamaan yang santun dan membahagiakan.

Semangat nguri-nguri tradisi ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) menjadi konsentrasi utama Jamuspa. Membumikan aswaja di tingkat lokal adalah menjawab tantangan global yang kompleks. Gerakan ini wujud nyata kaum santri memberikan kontribusi untuk peradaban Indonesia dan dunia. Inilah beraswaja yang berpijak pada yang lokal, tetapi menjadi ruh membangun tantangan global. Jamuspa, walaupun berada di tingkat lokal, tetapi semangat beraswajanya di era global menjadi bermakna strategis.

Bagaimanakah beraswaja di era global? Muhammad Al-Fayyadl (2015), melihat bahwa dengan mengetahui kekuatan dan daya tahan internal Aswaja, kita dapat mengukur seberapa jauh kekuatan tersebut mampu menghadapi tantangan-tantangan global. Tidak cukup memahami Aswaja semata-mata Aswaja sebagai paham keagamaan, sementara tantangan global yang dihadapi tidak mesti bersifat keagamaan. Paham keagamaan itu merupakan modal yang perlu di-upgrade agar dapat menjadi perekat bagi ikatanikatan sosial yang riil yang setiap saat mengalami proses pelapukan dan destruksi karena globalisasi yang mendorong individualisme, eksploitasi, kekerasan, dan oportunisme yang sempit.

Dengan berlandaskan pada sikap-sikap tawassuth, tawazun, dan i’tidal, maka keragaman pemahaman dan praktik keagamaan yang menjadi mozaik dari kaum Sunni di berbagai negeri akan dapat meregenerasi ikatan-ikatan sosial itu, dan memperkuat tidak saja persaudaraan seagama (ukhuwwah islamiyyah) tetapi juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah).

Aswaja, lanjut Fayyadl, tidak saja muncul sebagai ikatan keagamaan, tapi juga ikatan sosial baru. Seorang Muslim kulit langsat di pelosok Indonesia dapat menjalin ikatan dengan seorang Muslim kulit hitam dari Afrika Tengah, atau seorang muallaf kulit putih dari sebuah negeri di Eropa Barat. Perbedaan dan keragaman latar belakang ras, budaya, dan mazhab fiqh yang dianut menjadi kekuatan yang mempertemukan dan memungkinkan lahirnya solidaritas baru. Jamuspa, dengan nilai-nilai lokal yang melekat, menyajikan dan mengaktualisasikan aswaja sebagai jalan pikir dalam melakukan pribumisasi ajaran Islam, sekaligus menatap masa depan dengan jalan progresif dan mandiri. Jamuspa dengan berbagai pengajian, kajian kitab, dan diskusi dengan berbagai pakar, mampu berkreasi di tingkat lokal, tetapi langkah nyata yang dijalani sebagai jawaban di tengah tantangan global.

Globalisasi yang dimungkinkan oleh interaksi dan konektivitas di antara berbagai pihak, dapat memungkinkan Jamuspa untuk membangun ikatan-ikatan baru yang tak terduga di antara berbagai elemen penganut Aswaja di berbagai negeri. Lokalitas yang melekat kuat dalam Jamuspa justru menjadi pengikat sangat menarik, apalagi menjadi titik pijak lahirnya generasi muda yang beraswaja secara global. Bravo Jamuspa, lokalitasmu dalam beraswaja menjadi inspirasi manusia global hari ini. Buktikan langkah selanjutnya!

Mengapa Harus Jadi Hartawan?

Pertanyaan judul terasa klise. Pasalnya, para hartawan sering dipersepsikan sebagai orang yang bergaya hidup hedonis dan lupa dengan kehidupan akhiratnya. Pandangan ini setengah
dibenarkan ketika melihat fenomena para hartawan itu yang tersangkut kasus korupsi, mewah-mewahan, dan pamer kekayaannya. Sebenarnya menjadi hartawan sangat dianjurkan dalam Islam. Sebab sebagaian besar pelaksanaan rukun Islam memerlukan harta. Hanya membaca dua kalimat syahadah saja yang tidak perlu biaya. Ketika seorang muslim hendak melakukan shalat maka perlu pakaian untuk menutupi auratnya dan itu perlu biaya untuk membeli pakaian yang layak. Ketika hendak melaksanakan ibadah puasa tentu butuh biaya membeli makanan yang bergizi untuk menjaga kesehatan tubuh. Ketika perintah zakat diwajibkan kepada umat muslim tentu perintah itu hanya bagi orang yang mempunyai kekayaan harta tertentu. Demikian juga ibadah haji tentu pelaksanaannya sangat tergantung pada kemampuan seseorang, baik secara finansial ataupun fisik. Seseorang dapat melaksanakan ibadah haji jika memiliki harta dan kemampuan raga.

Paradigma yang salah ketika memahami harta adalah sesuatu yang rendah dan mengantarkan pada kehinaan. Bahkan banyak yang menganggap kekayaan dalah laknat sedangkan kefakiran bagian dari hidup zuhud menuju surga. Zuhud adalah sikap orang yang meninggalkan harta sedangkan orang yang ditinggalkan harta sehingga berkekurangan adalah fakir atau miskin. Artinya, orang zuhud itu adalah orang yang memiliki banyak kekayaan tetapi tidak bergelimang dan megah-megahan dengan kekayaannya tetapi memilih hidup tetap sederhana, merasa sama dalam perasaan hatinya antara memiliki dan tidak memiliki harta, antara dipuji dan dimaki oleh orang lain dan dambaannya hanya semata-mata mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kemiskinan bukan berarti zuhud meskipun menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Hidup sederhana belum tentu zuhud Meskipun hidup zuhud tampak dalam kehidupannya yang sederhana. Sebab adakalanya hidup sederhana karena keterpaksaan bukan karena pilihan, sementara hidup sederhana yang disebut zuhud jika karena pilihannya meninggalkan kemewahan. Jika seseorang yang hidup hanya dengan satu baju dan satu sarung yang lusuh karena tidak mampu membeli yang baru, tinggal dalam rumah sepetak atau gubuk yang lapuk dengan banyak jumlah keluarga atau mengkonsumsi makanan yang tidak bergizi karena tidak punya penghasilan yang mencukupi maka hal tersebut disebut kemelaratan hidup bukan hidup zuhud.

Harta Perspektif Islam

Demikian pentingnya peran harta dalam pelaksanaan ajaran Islam sehingga memeliharanya (hifzhul mal) termasuk dari salah satu tujuan syariah (maqashid al-syari’ah) dalam mencapai kebaikan dan menghindari keburukan. Harta yang halal dan diperoleh dengan cara baik akan mengantarkan kepada kesempunaan pelaksanaan syariah Islam, tetapi sebaliknya, kesullitan mangais rezeki atau memperoleh harta dengan cara haram akan mengganggu atau bahkan merusak kehidupan beragama.  Harta pada dasarnya dapat menyebabkan terpuji atau tercela, tergantung pada cara seseorang untuk memperoleh dan sikap dalam menggunakan harta. Harta menyebabkan terpuji jika diperoleh dengan cara halal dan dipergunakan untuk kebaikan, sedangkan harta tercela adalah harta yang diperoleh dengan cara tidak benar dan digunakan untuk kemaksiatan atau untuk menumpuk kekayaan. Harta adalah cobaan, akan menjadi kebaikan jika dipandang sebagai sarana untuk mendukung pelaksanaan ajaran Islam, dan harta akan menjadi bencana jika dijadikan sebagai tujuan hidup. Sebaiknya harta hanya cukup berputar dari tangan ke tangan untuk mempermudah mendapat dan melakukan kebaikan, jangan sampai menyikapi harta dengan penuh cinta di dalam hati agar tidak menjadi malapetaka.

Rasulullah saw bersabda : “Setiap umat pasti mendapat cobaan (fitnah), sedangkan cobaan umatku adalah harta”. HR. Turmudzi Harta ada dua. Yaitu halal dan haram. Allah swt telah menjelaskan mana harta yang haram dimakan dan mana harta yang boleh dikonsumsi. Sesuatu yang haram dimakan dijelaskan oleh Allah SWT secara rinci, seperti babi, anjing dan darah. Atau sesuatu itu sebenarnya halal kalau prosesnya sesuai tuntunan syari’ah, seperti hewan yang halal dengan syarat dipotong menurut ketentuan syariah, namun jika hewan itu tidak dipotong sesuai syariah maka haram dikonsumsi. QS. Al-Baqarah [2] : 173. Ada pula harta yang sebenarnya halal tetapi karena prosesnya yang tidak sesuai syariah sehingga harta itu haram diperoleh dan haram dikonsumsi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada kita untuk mengkonsumsi yang secara esensi halal dan cara mendapatkannya atau prosesnya juga halal

Bisnis adalah Alternatif

Secara filosofi, Manusia adalah makhluk ekonomi. Karena tidak satupun manusia yang dapat hidup tanpa mengkonsumsi, memproduksi dan mendistribusi. Kebutuhan mengkonsumsi menuntut adanya produksi, namun tidak semua orang mampu memproduksi semua kebutuhannya sehingga diperlukan adanya distribusi. Karenanya, keterpautan kemampuan seseorang dengan yang lain menciptakan ketergantungan antara sesama sebagai ciri manusia sebagai makhluk sosial. Ekonomi dalam pandangan Islam tidak hanya harta yang berupa materi dan produksi yang bersifat fisik, tetapi juga harus dapat memenuhi kebutuhan rohani. Karenanya, ekonomi tidak semata-mata kepentingan profit, namun semestinya berakar dari etika dan nilai kemanusiaan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat (falah).

Karakteristik ekonomi Islam terletak pada kerangka moral dan etika. Aturan yang dibentuk dalam ekonomi Islam merupakan aturan yang bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya dengan Tuhan, kehidupan, dan tujuan akhir manusia setelah kematian. Ekonomi menurut Islam tidak semata-mata keuntungan materi, lebih dari itu ekonomi adalah sarana untuk membangun ikatan kemanusiaan yang saling membutuhkan dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Islam memandang ekonomi tidak lepas dari emapat ciri, yaitu Rabbaniyyah (ke-Tuhan-an), Akhlak, Kemanusiaan, dan Wasathiyah (keseimbangan). Ciri-ciri ini yang menyatukan kepentingan duniawi dan uhkrawi, ketuhanan dan kemanusiaan, materi dan ruh. Ciri Rabbaniyah terletak pada katerkaitan seluruh aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi semata-mata untuk menjalankan tugas sebagai khaifah dimuka bumi, membangun peradaban manusia dan memakmurkan bumi. Ciri Rabbani ini meniscayakan beretika. Ciri etika teletak pada tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak. Islam memandang aktivitas ekonomi untuk kemaslahatan. Dilarang menipu, mempraktikkan riba dan mendzalimi kepada yang lain hanya untuk kepentingan pribadi.

Ciri kemanusiaan juga terlihat dalam relasi persaudauraan dan tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan. Dalam transaksi tidak semuanya berbasis profit, karena adakalanya untuk menolong dengan skim qardlul hasan (pinjaman tanpa bagi hasil). Ciri keseimbangan (wasathiyah) terlihat dari pengakuan Islam terhadap hak milik individu, tetapi di sisi lain mengakui hak umum. Hak milik individu memungkinkan seseorang untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya, tetapi harus berbagi dengan yang lain sebagai implementasi dari hak umum, yaitu beupa zakat, wakaf, dan sadekah.

Islam mengajarkan kemandirian ekonomi dan hasil pencaharian sendiri. Karenanya Nabi Muhammad saw memuji orang yang bekerja keras dan mengerahkan segala kemampuannya untuk memperoleh rezeki. Hanya ada dua cara hidup dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, yaitu bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya atau tidak bekerja mencari rezeki tetapi menghidupi diri dan keluarganya dengan cara meminta bantuan orang lain.

Nabi Saw mengajarkan agar pandai berniaga, karena di dalamnya terdapat 90% pintu rezeki, sedangkan yang 10% terdapat pada profesi lain seperti pegawai negeri, perawat, karyawan, bertani dan lain-lain. Lalu, apakah kita masih ingin berkutat mempertahankan yang 10% dan mengorbankan yang 90%? “Sesungguhnya sebaik-baik mata pencaharian adalah seorang pedagang (entrepreneur).” (HR Baihaqi).

Islam mengkutuk para pemintaminta, baik secara langsung maupun melalui cara lain seperti pengajuan proposal selama dirinya masih mampu untuk bekerja sendiri. Oleh karenanya, bekerja adalah kewajiban manusia untuk menjalankan tugas agama dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Islam, mata pencaharian yang paling baik adalah berdagang. Sebab berbisnis bukan hanya meraup keuntungan dengan cepat, baik secara kualitas atau kuantitas. Akan tetapi bisnis adalah mata pencaharian yang mandiri, jauh dari tekanan atau menghamba kepada orang lain juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang banyak serta dapat memeratakan distribusi ekonomi dari satu tempat ke tempat lain, sehingga antara masyarakat dapat menikmati hasil bumi dan produksi dari berbagai tempat yang berbeda untuk saling memenuhi kebutuhan.

Nabi Saw mengajarkan agar pandai berniaga, karena di dalamnya terdapat 90% pintu rezeki, sedangkan yang 10% terdapat pada profesi lain seperti pegawai negeri, perawat, karyawan, bertani dan lain-lain. Lalu, apakah kita masih ingin berkutat mempertahankan yang 10% dan mengorbankan yang 90%? “Sesungguhnya sebaik-baik mata pencaharian adalah seorang pedagang (entrepreneur).” (HR Baihaqi).

Nabi Muhammad saw pun menerapkan prinsip bisnisnya sebagai ladang menjemput surga. Pesantren adalah kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan strategis. Karena Pesantren mencetak pemimpin-pemimpin masyarakat, baik dalam bidang keagamaan maupun kemasyarakatan. Di samping itu, jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai 25.000 unit. Jumlah santrinya berdasarkan data 2011, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 33 provinsi. Kelompok ini sangat strategis dalam mengembangkan program kewirausahaan.

Dalam konteks inilah, Yayasan Investa Cendekia Amanah (ICA) akan memberdayakan komunitas pesantran agar bisa lebih memotivasi dan mendorong generasi muda mengembangkan jiwa dan mindset atau pola pikir menjadi seorang enterpreneur. Jumlah wirausaha Indonesia saat ini baru mencapai 1,56% dari populasi penduduk, dan angka ideal adalah 2%. Selain itu, Yayasan ICA melalui pelatihan di ICA Institute dan Koprasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau kita kenal Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) memposisikan diri sebagai pusat mediasi antara perbankan dengan lembaga keuangan dan usaha mikro, sehingga diharapkan terciptanya wirausaha-wirausaha baru dari Pondok Pesantren. Program ini diharapkan menjelma jadi mesin ekonomi yang hasilnya bisa digunakan untuk peningkatan ekonomi umat sekitar pesantren dan masyarakat di mana para santri akan kembali.

Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi April 2013, oleh M. Cholil Nafis, Lc., Ph D (Pembina BMT Pandanaran ICA)

Antara Krisis Eropa, Indonesia, dan Ekonomi Syari’ah

Masih ingatkah Anda dengan krisis Eropa? Juga dengan kasus subprime mortgage tahun 2008? Kawasan Eropa secara global mengalami krisis moneter yang disebabkan hutang negara. Pada awal krisis, bangkrutnya Lehman Brothers yang diiringi kasus subprime mortgage melemahkan perekonomian Amerika yang berdampak besar ke negara lain di seluruh penjuru dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kebanyakan negara memiliki cadangan devisa dalam bentuk dolar Amerika Serikat, sehingga inflasi tersebut berpengaruh pada negara-negara lain yang memakai dolar AS. Yunani mengalami krisis ekonomi karena overload hutang. Spanyol dan Italia dengan pengangguran terbuka yang semakin meningkat. Negara Portugal dan Irlandia mengalami degradasi kepercayaan terhadap mata uang Euro. Sejumlah negara Eropa lain bahkan kehilangan inner beauty dalam menarik Foreign Direct Investment (FDI) dari para investor.

Data dan fakta ini menegaskan kedigdayaan krisis ekonomi yang masih belum dapat diselesaikan. Melihat hal tersebut, beberapa negara di luar Eropa dan Amerika berusaha menguatkan fundamental ekonomi mereka masing-masing untuk mengantisipasi efek krisis tersebut. Asia, yang sebagian negaranya pernah terkena krisis moneter, juga sudah membuat langkah-langkah pengamanan terhadap kondisi perekonomiannya, termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo mengatakan bahwasannya pemerintah mulai mengantisipasi memburuknya situasi dan kondisi perekonomian Eropa yang bisa berdampak ke Asia. Sementara itu, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia akan tahan dengan dampak krisis Eropa. “Negara-negara ASEAN sangat tahan krisis karena mereka masih punya kemampuan manuver dari ruang kebijakannya, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dan itu sangat penting”, demikian ujar Sri Mulyani.

Mengapa bisa terjadi krisis Eropa, banyak fakta yang menekankan bahwa kemungkinan besar penyebab utama dari krisis Eropa yang terjadi dikarenakan fundamental sistem ekonomi yang rapuh (fundamental economic fragility). Dalam kondisi ekonomi saat ini dibutuhkan pilihan alternatif sistem ekonomi yang solutif dengan pendekatan berbeda.

Ekonomi Mikro Islam dimaksudkan sebagai pelayanan keuangan terhadap nasabah unbankable, alias tidak terjangkau layanan Bank. Salah satu wadahnya adalah BMT yang dapat menjadi “islamic micro finance”.

Islam sebagai way of life yang bersifat universal dan komprehensif memiliki strategi dalam usahanya memecahkan permasalahan kehidupan. Kehadiran Ekonomi Mikro Syari’ah dengan instrumen anti riba, anti spekulasi, dan anti manipulasi memiliki tujuan dan ruang lingkup multidimensi lebih luas. Ekonomi Mikro Islam dimaksudkan sebagai pelayanan keuangan terhadap nasabah unbankable, alias tidak terjangkau layanan Bank. Salah satu wadahnya adalah BMT yang dapat menjadi “islamic micro finance”. Layanan BMT sendiri meliputi pembiayaan, jasa tabungan, transfer dana, dan insurance.

Boleh jadi, krisis Eopa memberikan pengaruh terhadap perubahan ekonomi di Indonesia –dalam arti positif, terutama dalam Ekonomi Mikro Syari’ah. Salah satu buktinya adalah “Islamic micro finance” atau BMT yang semakin berkibar kiprahnya di kancah lembaga keuangan.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Sinergi Agama dan Budaya Lokal

Sebagai makhluk beragama (homoreligiosus), manusia sepenuhnya tak bisa dipisahkan dari (kebutuhan terhadap) agama. Agama berperan sebagai outlet atau jalan keluar (makhraj) di saat manusia dirundung oleh kenestapaan psikologis serta kegamangan sosial yang mendesak untuk dipecahkan. Agama diandalkan untuk mengikis pragmatisme hidup yang dilahirkan oleh modernitas.

Kendati demikian, dalam perjalanannya, hal ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan apakah agama anutan tersebut layak disebut sebagai agama, ataukah itu hanya sekedar “manipulasi” mereka terhadap potensi mistik yang terdapat   pada alam semesta. Dari sinilah, lalu mengemuka apa yang diperdebatkan orang perihal klasifikasi agama. Agama kemudian didekati dengan serangkuman teori untuk menemukan khazanah keaslian yang dikandungnya. Untuk itu dibuatlah garis demarkasi yang sedemikian rupa memisahkan secara diametral antara agama yang bertolak dari wahyu (samawi) serta agama yang lahir dari rahim alam (ardhi).

Kesetempatan

            Semua agama tak bisa dilepaskan dari budaya lokal. Sebagai latar sejarah, lokalitas budaya amat berperan dalam perkembangan sebuah agama. Sekadar contoh, tak sedikit ritual Islam yang pada kenyataannya ternyata (semata) melanjutkan “ritual” dari agama lokal yang pernah dipraktekkan para kaum pendahulu sebelum Islam lahir.

Kebiasaan menyepi di goa  adalah salah satu misal dari kebiasaan orang Arab primitif, para pemeluk agama Hanif. Sehingga jika Nabi Muhammad terkenal dengan laku nyepi (tahannus) di goa Hira untuk beribadah dan menerima wahyu pada bulan Ramadhan, hal itu juga bisa dibaca sebagai pelestarian dari kebiasaan kaum sebelumnya dalam mendekatkan diri dengan Tuhan.

Fenomena ini di satu sisi bisa kita sikapi sebagai kejituan Islam dalam penampilannya sebagai agama yang mengusung nilai-nilai ketuhanan serta aturan sosial kemasyarakatan. Sedangkan di sisi lain, kita tak bisa menafikan bahwa bagaimanapun juga masyarakat telah mampu hidup (walau beberapa saat lamanya) di bawah naungan agama lokal yang membaur melalui tradisi mereka.

Dalam pada itu, ada baiknya kita menelusuri secara etnografis perkembangan agama di dunia. Dalam pemetaan yang menarik, Joesoeb Sou’yb menyebut bahwa semua agama besar lahir dari Asia. Islam, Yahudi dan Kristen yang acapkali disebut sebagai rumpun agama Ibrahim (Abrahamic religion) dan memiliki penganut terbesar, lahir dari Asia barat (Timur Tengah).

Sementara di Asia Tengah dan Selatan muncul agama-agama semisal Zarathustra, Brahma, Buddha, Jaina, dan Sikh. Adapun Asia Timur melahirkan agama Shinto, Konghucu dan Tao. Dalam perkembangan wacana perbandingan agama, agama yang dilahirkan di Timteng di atas sering didefinisikan sebagai agama langit, karena dianggap memenuhi syarat-syarat formal agama. Sedangkan sebagian besar agama-agama di luar itu dipandang sebagai agama bumi diakibatkan kedekatan mereka dengan akar budaya tempatan (lokal) serta ketidakjelasan mereka dalam konsep ketuhanan.

Agama Lokal

Secara general, agama lokal bisa didekati, setidaknya, dari  dua aspek antropologis. Pertama, ia adalah agama formal (resmi) yang perkembangannya sarat dengan warna tempatan di mana ia dianut oleh sebuah komunitas sosial. Salah satu misal adalah Islam dan Kristen yang hidup di daerah-daerah penyebaran (asing). Di kawasan-kawasan Kaukasus, misalnya, muncul Islam dengan nuansa berbeda dengan Islam “asli” yang ada di Timur Tengah. Demikian pula yang berkembang di tempat lain. Sehingga lumrah belaka jika lahir Islam Amerika, Islam Cina, dan lain-lain. Begitu pula Kristen dengan Kristen Arab, Kristen Roma, Kristen Latin, dan sebagainya.

Kedua, agama lokal bisa diartikan sebagai ajaran-ajaran yang muncul secara murni dari akar budaya setempat. Oleh karenanya ia amat berkait dengan faktor geografis. Jika pada aspek pertama cenderung bergerak sinkretis, maka aspek kedua sangat kental dengan nuansa historis-demografis. Pada aspek ini, ajaran bisa bersumber dari warisan leluhur serta kepercayaan dan kekuatan alam tertentu. Ini berbeda dengan aspek pertama yang memiliki tilikan ideologis pasti berupa kitab suci.

Sementara kalangan ada yang menyebut agama kategori kedua ini dengan sebutan agama primitif maupun agama tradisional. Corak primitif di sini di antaranya dicirikan dari struktur dan pola-polanya yang berbau dinamisme, animisme serta kepercayaan pada dewa-dewa. Aloysius Pieris lebih gemar menggolongkannya sebagai agama kosmis (lawan dari agama metakosmis). Disebut demikian karena ia selalu berurusan dengan kekuatan-kekuatan kosmis (alam) seperti api, pohon, angin, tanah, batu, air, dan sebagainya sebagai wujud perlambang dari roh-roh halus. Agama-agama jenis ini sangat subur di kawasan Asia.

Peta Indonesia

Tak terlampau keliru bila Pieris menandaskan bahwa benua Asia merupakan lahan subur bagi pertumbuhan agama lokal. Premis ini tertopang oleh kondisi sosial masyarakat Asia sendiri yang demikian majemuk. Sekadar catatan, di India saja terdapat tak kurang dari 4000 etnik dan kasta. Belum lagi di negara-negara maritim semisal Jepang, Filipina dan Indonesia. Ia merentang luas dari empat arah penjuru angin. Mulai teologi Minjung di Korea hingga kepercayaan Dalit di India. Mulai dari Buddha di Nepal hingga Hindu Kaharingan di Indonesia.

Kalau kita bertumpu pada aspek pertama di atas, maka kita dengan leluasa bisa menyodorkan bukti betapa beragamnya agama lokal yang terdapat, misalnya, di nusantara ini. Agama besar dengan warna lokal semacam ini bisa kita wakilkan pada fenomena kelahiran Islam Kejawen, Kristen aliran Kiai Sadrach, Islam Minang di Sumbar, Islam sasak (Nusa Tenggara), Katolik Batak di Sumut sampai masyarakat-masyarakat Tionghoa pribumi yang menyebar di daerah-daerah pecinan di seantero negeri kita.

Khusus islam kejawen, Woodward menengarai bahwa hegemoni Islam bernuansa kejawen, diantaranya diakibatkan oleh pengaruh kultur pesantren (santri) pada masyarakat Jawa. Sikap nyantri ini tampak sekali pada prilaku dan pola keseharian mereka yang cenderung memadukan unsur batin (agama) dengan bentuk lahir (sebagai ekspresi keimanan) secara dialektis (Mark R Woodward : 1999).

Demikian halnya bila kita berpangkal pada aspek yang kedua. Di sini kita dapat menghidangkan fenomena-fenomena keagamaan yang begitu kaya. Mulai Kaharingan di Kalimantan Tengah (suku Dayak), Tengger di kaki gunung Bromo, Samin di wilayah utara Jawa Timur, suku Naga (Tasikmalaya) hingga agama Sunda Wiwitan pada masyarakat Kanekes Serang dan suku Baduy di Banten.

Jika acuan serupa ini disepakati sebagai “kategori” agama lokal, maka Indonesia dalam konteks ini mampu menghadirkan lanskap yang riuh dan bergemuruh. Bayangkan, di Jawa Barat (melting pot subkutur antara Sunda dan Jawa) saja, paham atau aliran keagamaan yang survive sampai 1975 tidak kurang dari 46 paham. Belum lagi di daerah lain yang tentu saja menawarkan khazanah keanekaragaman etnis dan suku yang tak kalah jumlahnya.

Karakter dan Ciri

Paling tidak, dalam kerangka besar, ada empat ciri mencolok yang menempel pada agama-agama primitif. Yakni necloratry, spiritisme, naturisme dan animisme. Necrolatry adalah pemujaan terhadap roh-roh atau jiwa manusia dan binatang, terutama pemujaan terhadap roh yang telah mangkat. Spiritisme ialah pemujaan kepada makhluk spiritual yang tidak dihubungkan dalam suatu cara yang mapan dengan jasad-jasad dan objek-objek tertentu.

Naturisme lebih berbentuk pemujaan terhadap makhluk spiritual yang dikaitkan dengan fenomena alam dan kekuatan kosmos yang besar, seperti angin, bintang-bintang, sungai, serta aneka objek yang menyelimuti bumi berupa binatang dan aneka tanaman. Sementara animisme bertitik-tumpu pada pemujaan makhluk spiritual yang objeknya tidak terlihat oleh mata telanjang (mistik atau ghaib). Dalam konteks keindonesiaan, keempat ciri tersebut secara kentara bisa ditelisik pada ajaran dan laku aliran-aliran kebatinan yang sampai hari ini masih tumbuh dan terwarisi secara turun-temurun.

Sebingkai dengan pencirian di muka, beberapa tokoh kebatinan memetakan (sedikitnya) empat hal yang tak bisa dipenuhi agama-agama kosmis tersebut. Dan inilah  sebagian karakter pokok yang membedakan antara agama konvensional dengan agama lokal. Pertama, peraturan yang jelas dan baku tentang hubungan antara Tuhan dan Manusia. Kedua, norma-norma antarmanusia serta antara manusia dengan binatang, tumbuhan dan alam semesta. Ketiga, memuat kepercayaan eskatologis dan ajaran ihwal kehidupan setelah mati (beyond life). Keempat, sudah berumur ratusan dan ribuan tahun.

Pada titik inilah, sesungguhnya agama lokal tidak cukup syarat untuk dinisbatkan sebagai sejati agama (genuine religion) melainkan tak ubahnya agama semu (pseudo religion) yang berasal dari rekayasa akal manusia sendiri. Maka tak heran bilamana potensi agama lokal sebagian ada yang dipergunakan untuk tujuan buruk (negatif). Seperti magi yang dijadikan sebagai muara dari tindak kebatilan (contohnya ilmu nujum, sihir dan tenung). Kendati demikian, bukan berarti agama sejati bersih dari lumuran praktek mistik negatif. Hans H. Penner justru menganggap mistik sebagai sebuah sistem yang esensial dalam agama. Hanya saja mistik dalam bingkai ini senantiasa bergerak dalam koridor positif, yaitu sebagai energi bagi kemesraan hubungan dengan Tuhan yang memancar pada prilaku social (Steven Katz: 1983). Ingat, ayat-ayat kitab suci pun acapkali diperalat sebagai “mantra” untuk tendensi-tendensi tertentu yang tidak baik.

Sikap yang keliru dan berlebihan terhadap mistik, betapapun, akan mengakibatkan agama semata disimbolkan sebagai sesuatu yang sakral. Padahal urat nadi dari agama yang subtil adalah kelangsungan hidup profan antarmanusia (kemasyarakatan) yang tercermin lewat realitas plural keseharian. Ketika agama dipisahkan dari dimensi profan, maka secara bersamaan ia sejatinya sedang terpental dari realitas sosio-kultural di mana ia berada. Sehingga karenanya ia serta-merta menjadi ahistoris. Pada saat itulah agama laksana “tubuh tanpa kaki”.

Memburu Titik Temu

Yang jelas, walaupun agama dan budaya (termasuk di dalamnya agama lokal) merupakan dua entitas yang berbeda, kedua kutub ini tetap sangat terbuka dan memungkinkan untuk dipadukan. Paling tidak, diharmonisir supaya bisa berdamping-beriringan secara sinergis guna menciptakan kehidupan sosial yang kondusif.

Pada kerangka demikian, dibutuhkan semacam (meminjam ajaran Konghucu) visi “jalan tengah” yakni akomodasi yang bijak terhadap manusia dan alam secara wajar. Karena sejatinya, pada aras inilah kekuatan alam (termasuk di dalamnya budaya) serta potensi kesejatian manusia (baca : agama) bisa bertemu secara akrab dan utuh. Corak budaya yang selama ini tersimbolisasi melalui beragam sistem ritus-ritus tradisional, akhirnya  bertemu dengan keprihatinan-keprihatinan abadi dari agama yakni berupa penderitaan, kejahatan serta suka-duka kehidupan sosial. Pada konteks tersebut, budaya hadir sebagai wadah, sementara agama tampil sebagai (penafsir) maknanya.

Dengan cara demikian, diharapkan para pelaku budaya dan pemeluk agama mampu menyajikan sikap keberagamaan yang lapang, yang menghargai pluralitas dan perbedaan. Titik temu semacam itu penting kiranya untuk terus dijaga dan dipertahankan demi memelihara keutuhan dan kedamaian hidup (sosial). Lebih-lebih kian hari, masyarakat sudah mulai menampakkan kebergegasannya menuju masyarakat berubah yakni masyarakat dengan realitas keseharian selaksa wajah (multifaces). Terpenting, jangan sampai kita beragama hanya karena latah, tanpa pemikiran dan penghayatan yang lurus. Rasyid Ridha menyodorkan sindiran: apakah kita selama ini bukanlah muslim geografis (muslimun jughrafiyyun) yang beragama semata karena faktor lingkungan dan keturunan? Gugatan-gugatan kristis senada ini akan mampu mendewasakan akidah keagamaan serta sikap keberagamaan kita, bila ia disikapi secara kritis dan arif.