Dr. Fakhrudin Faiz: Setiap Pelajar adalah Wadah Ilmu

Sleman, Pandanaran.org

“Apakah teman-teman sekalian siap untuk diinternalisasi dengan nilai-nilai tasawuf ?”

Demikian ungkap Dr. Fahruddin Faiz pada acara kuliah umum bertajuk “Internalisasi Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Membentuk Intelektual yang Berintegritas di Era Milenial” di Hall STAI Sunan Pandanaran, Ahad (6/10) pagi.

Kepada sedikitnya tiga ratusan mahasiswa STAI Sunan Pandanaran (STAISPA), pakar filsafat UIN Sunan Kalijaga ini mengatakan bahwa setiap pelajar, mahasiswa, atau santri adalah wadah ilmu. Jika wadah itu tidak bersih maka hasil dari ilmu itu pun juga tidak jernih.

Untuk itu, lanjut dia, seperti dikatakan Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah ada sedikitnya tiga hal utama agar ilmu itu bermanfaat.

“Pertama, niat. Niat merupakan kunci dari segala bentuk pengamalan atau kegiatan. Jika niat sudah tertata, naik pada tahap selanjutnya yakni tahap orientasi. Tahap orientasi ini berkaitan dengan jasmaniyah, ruhaniyah, dan Ilahiyah”, tegasnya.

Ketiga tahap itu, kata Faiz, akan mengantarkan manusia pada tingkat ke mana sesungguhnya kita akan menghadap. Atau, kalau dalam istilah, Agama menyebutnya sebagai esensi dari kalimat innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Lebih jauh, narasumber tetap kajian filsafat mingguan di Masjid Jenderal Sudirman ini menegaskan bilamana manifestasi dari terinternalisasinya nilai-nilai tasawuf dalam diri seseorang itu dapat dilihat dari dua hal.

“Raut wajah yang murah senyum dan menggembirakan adalah puncak dari manifestasi terinternalisasinya nilai-nilai tasawuf dalam diri seseorang. Selain itu, sikap ridho atas segala ketetapan Allah dan selalu menjadikan Allah SWT sebagai pertimbangan atas apapun yang akan dilakukan, juga merupakan indikator lain yang tidak kalah penting”, tandasnya.

Acara ini dimeriahkan oleh kolaborasi antara penari sufi dengan hadrah STAISPA dan Sanggar Tari Dewi Sartika. Berlaku sebagai moderator Dr. Rima Ronika, dan Tajul Muluk (Dosen Ilmu Tasawuf STAISPA) sebagai panel narasumber.

[Lidya/An]

Ijtihad Keilmuan Pesantren Pandanaran

Saat membuka Kuliah Tafsir Pesantren di Aula Komplek I Pondok Pesantren Sunan  Pandanaran (PPSPA), Kamis, 30 November 2017 lalu, kata H. Mu’tashim Billah, “Kita semua di sini adalah santri yang  juga menyandang status sebagai  mahasiswa. Namun, jangan sampai status santri itu membatasi kita dalam proses berpikir dan berinovasi mengembangkan nilai-nilai keislaman”.

Kepada para hadirin, Beliau berpesan, bahwa kita harus tetap terbuka pikirannya tanpa menanggalkan identitas sebagai seorang santri. “Kembangkanlah pemikiran kita setinggi-tingginya, namun hati kita tetap mengarah pada Ka’bah. Tunjukkan jiwa kita sebagai seorang santri secara lahiriyah maupun bathiniyah, tanpa menghalangi kreatifitas berpikir kita”. Tegasnya.

Melalui Kuliah Tafsir Pesantren ini, PPSPA bersama STAI Sunan Pandanaran (STAISPA) berupaya menciptakan produk pemikiran tafsir yang tidak ekstrem condong ke “kanan” maupun “kiri”. Sebagaimana diungkapkan Pengasuh Pesantren Pandanaran tersebut, bahwa output dari kegiatan ini adalah lahirnya produk tafsir yang selaras dengan nilai-nilai pesantren dan ruh Islam rahmatan lil ‘alamin. “Harapannya, ia dapat merefleksikan semangat moderasi dan nilai-nilai Islam lainnya”, jelas Kiai Tasim.

Kiai Tasim menerangkan, bahwa Kuliah Tafsir Pesantren ini juga berangkat dari semangat untuk terus melanjutkan perjuangan kecintaan KH. Mufid Mas’ud terhadap ilmu. “Almarhum Bapak (Kiai Mufid Mas’ud) itu sosok yang sangat mencintai ilmu. Meski padat dengan segudang kesibukan, Beliau masih senantiasa belajar”, papar Ketua STAI Sunan Pandanaran ini.

Hal itu dapat kita telusuri misalnya, saat dulu Kiai Mufid membentuk Majelis Musyawarah Dewan Guru. Di dalamnya, santri yang sudah hafal Al-Qur’an dikumpulkan di ndalem oleh Kiai Mufid. Mereka disuruh membaca dan menelaah kitab kemudian Kiai Mufid menyimak.

“Kitab-kitab yang dibaca antara lain, Tafsir Munir, Ibn Aqil, Hikam, dan Fathul Wahab. Nah, melalui STAISPA, apa yang sudah dirintis oleh Bapak dulu itu dapat dilanjutkan, dan Prodi IAT yang ada di dalamnya merupakan salah satu pengembangan daripada itu. Harapannya semua santri di prodi IAT dapat hafal dan memahami isi Al-Qur’an”, pungkasnya.

Sementara, Dr. Lilik Ummi Kulstum, narasumber Kuliah Tafsir mengatakan, bahwa keragaman tafsir adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, semakin banyak kitab tafsir yang kita “konsumsi”, semakin dalam pula kita paham ayat ilahi. Semakin luas kajian kita, semakin kita haus akan pengetahuan. Sayang, saat ini kian menjamur kelompok yang hanya mengikuti satu penafsiran saja dan dengan enteng menyalahkan penafsiran ulama lainnya.

“Nah, agar tetap dalam fitrahnya, mahasiswa-santri sekalian dituntut untuk tetap komit melestarikan serta mengembangkan turats (tradisi, red) Islami dan meneladani akhlak ulama”, pungkas Kaprodi IAT UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Ke depan Insya Allah Kuliah Tafsir Pesantren akan menghadirkan Dr. H. Afifuddin Dimyathi, Dr. KH. Ahsin Sakhok dan Prof. Sayyid Agil Al-Munawwar, sehingga dapat memperkaya khazanah keilmuan setelah sebelumnya pernah menghadirkan pula Dr. KH. Ali Nurdin dan Dr. KH. Husnul Hakim. (Fatikhatul Faizah & Luthfi Maulidah)

Rutinan Majelis Jumapon

Rutinan Majelis Jumapon Ponpes Sunan Pandanaran

Kamis, 19 September 2019

Ponpes Sunan Pandanaran mengadakan Mejelis Jumapon. Mejelis Jumapon merupakan majelis rutinan bulanan yang diadakan oleh ponpes Sunan Pandanaran pada setiap hari Kamis, tepatnya di setiap malam Jumu’ah Pon.

Majelis diisi dengan rangkaian sholawat yang dipimpin oleh Hadrah Pandanaran. Majelis diadakan di Masjid Komplek 1 PP. Sunan Pandanaran dan dihadiri oleh warga masyarakat, alumni, beserta para santri PP. Sunan Pandanaran. Pada kesempatan kali ini, Mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH. Agus Masruri, Pengasuh PP. Al-Muhdi, Sleman.

Tergerak Karena Cinta

Cinta ditandai dengan perhatian aktif pada orang yang dicintai dan ada kenikmatan saat menyebut namanya. Saat nama sang kekasih disebutkan, ada getaran hati terasa. Tiada yang lebih menyenangkan hati dari pada mengingatnya dan menghadirkan kebaikankebaikannya. Jika ini menguat dalam hati, lisan akan memuji dan menyanjungnya. Seperti itulah orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw.

Salah satu contoh kecil mencintai Sang Rasul ialah dengan bershalawat. Dengan memperbanyak shalawat, pikiran dalam benak bak ‘taman cinta Rasulullah’. Insan pecinta shalawat ingin agar tindakan adalah pancaran keharuman akhlak Sang Teladan Segala Zaman.

Tiada hari tanpa siraman shalawat. Agar pohon kerinduan kepada Rasulullah Saw terus tumbuh subur dan menakjubkan orang yang menanamnya. Terlihat seluruh santri berduyun-duyun memasuki areal Komplek 3 Putri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Dengan berpakaian dominan putih, berkalungkan sorban, dan membawa bendera kecil bertuliskan “Syekher Mania Pandanaran”. Ditambah aksesoris bawaan yaitu lampu mini berwarna-warni yang dilekatkan di masing-masing jari para santri. Tidak ketinggalan ribuan jamaah hadir berjamaah menuju arena.

Sudah menjadi tradisi setiap satu tahun sekali bagi Pandanaran untuk berdoa dan bershalawat bersama Habib Syaikh bin Abdul Qadir As-Segaf. Terselenggara pada hari Kamis, tepatnya tanggal 4 September 2014, acara ini juga dihadiri oleh tamu undangan khusus yakni calon jama’ah haji KBIH Sunan Pandanaran 2014, Jama’ah Difabel Ikhwanul Qalbi, dan beberapa dalang dari masyarakat sekitar.

Sebelum acara bershalawat dan berdoa dimulai, para hadirin disuguhkan acara yang pertama yaitu Kesenian Tari Badui, Tahlil, dan Mujahadah. Belum sampai selesai pembacaan Ratibul Haddad, Habib Syaikh pun hadir dengan diiringi lantunan shalawat dari Hadrah Pandanaran dan langsung menyapa seluruh jamaah seraya mengucap salam dan melambaikan tangan.

Gema lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Syaikh dan diiringi langsung oleh 200 personel Tim Hadrah Pandanaran berhasil memecah keheningan malam dan menenangkan hati para jamaah yang hadir. Suara merdu bait shalawat dan iringan hadrah yang begitu memukau benar-benar membawa suasana ke-khusyukan tersendiri. Tidak ketinggalan kibaran bendera kecil dan gemerlap lampu mini yang berwarna-warni turut menghiasi suasana malam shalawat.

Di tengah-tengah acara gema bershalawat, adalah KH. Abdul Karim Achmad (Gus Karim) dari Solo yang berkesempatan memberikan sedikit taushiyah. Beliau menyampaikan bahwa beruntungnya orang seperti kita yang telah dikenalkan shalawat sedari kecil, maka dari itu kita harus banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan tidak ketinggalan dengan membaca al-Quran yang bertujuan untuk mendapatkan syafa’at uzhma (syafa’at yang paling besar). Dan diniatkan untuk ber-istikhfa (mencari syafa’at dari Rasul Saw melalui al-Quran dan Shalawat). Selain memberikan sedikit taushiyah, Gus Karim juga memberikan beberapa bait puisi untuk Habib Syaikh yang didengarkan oleh seluruh hadirin.

Walaupun jauh, tapi tetap bercahaya…
Kadang menghilang, tapi tetap ada…
Sulit dimiliki, tapi tak bisa dilupakan…
Beliau selalu ada dalam hati kita…
Oh, Habib Syaikh..I love you…

Setelah Gus Karim memberikan taushiyah singkat, acara berlanjut dengan penampilan unik dari dalangdalang yang menembangkan sedikit macapat berirama islami. Tidak lupa, Habib Syaikh juga memberikan nasihat singkat agar seluruh santri Pandanaran yang berdomisili di pusat maupun cabang, agar selalu senantiasa giat dan berusaha berjuang mencari ilmu karena telah berada di tempat yang tepat. Saling mendoakan untuk keselamatan baik dari ahlul bait, para pengajar di pondok ini dan seluruh putra putrinya semoga diberi kemudahan untuk berjuang dalam membangun pondok ini. Sebelum berakhir, doa untuk keselamatan dibacakan oleh yang diberi kesempatan yaitu Gus Karim dan ditambah lagi doa oleh K.H Nawawi Dencik (Imam Besar Masjid Agung Palembang dan Pengasuh Pondok Pesantren Ahl-Qur’an). Kemudian kembali Habib Syaikh mengguyur para jama’ah dengan pembacaan mahallul qiyam yang diikuti oleh seluruh jama’ah dengan khusyuk dan khidmat.

Last minute, acara diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama sebagai tanda nasionalisme. Sudah sangat sewajarnya bahwa umat Islam Indonesia harus mencintai negerinya, mendukung penuh nilai-nilai Pancasila yang di dalamnya banyak yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Mudah-mudahan dengan lantunan shalawat ini hati kita semakin cinta kepada Rasulullah Saw serta mendapatkan syafa’atnya. Dan dengan untaian doa yang disuarakan bersama,semoga kita selalu diberikan kekuatan, keistiqamahan, dan kemudahan dalam menuntut ilmu, dalam memahami ilmu serta mangamalkannya. Amin, amin, Ya Rabbal ‘Alamiin.

*) Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2015