Darurriyadlah…. Dulu, Sekarang, dan Esok

Pada tanggal 20 Desember 1994 KH Mufid Mas’ud berkeinginan untuk membangun tanah peninggalan orang tua. Pada waktu itu baru ada langgar gedek berbentuk gubuk dengan ukuran 6×9 M. Almarhum KH Mufid Mas’ud berkeinginan membangun gedung besar dengan ukuran 192 m2.

Sesungguhnya pada waktu itu keluarga tidak ada yang setuju dengan rencana almarhum KH. Mufid Mas’ud tersebut. Karena belum ada keluarga yang tinggal di Bayat. Akan tetapi al-marhum al-maghfurlah tetap bersikeras untuk membangun gedung baru tersebut. Mengapa beliau tetap bersikeras untuk membangun gedung tersebut? apakah itu hanya sekedar keinginan tanpa tujuan?

Gedung yang terleak di Ds. Golo Bayat Klaten (dekat Makam Sunan Pandanaran) oleh KH. Mufid Mas’ud diberi nama “Darurriyadloh Li Hamalatil Qur’an”. Komplek ini dipergunakan untuk riyadhoh bagi santri yang sudah selesai hafalannya. komplek tersebut mempunyai beberapa tujuan, yaitu: 1). Untuk mendapatkan ketenangan suasana dan tidak terganggu dengan rutinitas pesantren, 2). Mendapat barokah dari para auliya’ di sekitar pesantren, terutama Sunan Pandanaran, 3). Bisa merasakan suasana sederhana seperti yang terlihat di langgar (musholla) peninggalan ayah KH. Mufid Mas’ud, dan 4). Agar menjadi jariyah para leluhur KH. Mufid Mas’ud.

Dalam pendidikan, KH. Mufid Mas’ud tidak hanya memperhatikan kecerdasan intelektual, akan tetapi beliau juga sangat memperhatikan peningkatan kecerdasan spiritual bagi semua elemen keluarga dan santri agar terhindar dari rasa ujub dan membentuk pribadi-pribadi santri yang berkarakter tawadlu’, tidak congkak dengan ilmu yang mereka miliki.

Selain itu, ada kisah menarik tentang manfaat jangka panjang yang sungguh tidak diduga oleh keluarga Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA). Pada malam Jum’at tanggal 4 November PPSPA mengundang Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf untuk  berdoa dan bershalawat memohon keselamatan bersama-sama dengan para santri dan masyarakat.

Pada saat itu mulai terjadi erupsi Merapi dengan skala besar. Efek erupsi itupun sudah sampai di PPSPA, bukan hanya hujan abu, tetapi juga disertai dengan hujan kerikil. Suasana jalan Kaliurang sudah sangat sibuk dengan kendaraan-kendaraan yang mengevakuasi warga lereng Merapi. Melihat kondisi yang seperti ini, bersamaan dengan dilaksanakan shalawat dan doa keselamatan, Pengasuh -setelah berkonsultasi dengan para ahli- memutuskan untuk memulangkan seluruh santri dengan tujuan menjaga keselamatan dan memberi ketenangan kepada wali murid.

Setelah selesai acara shalawat dan doa keselamatan oleh Habib Syekh, evakuasi pemulangan santri dimulai. Wali murid yang hadir pada acara tersebut diminta langsung membawa putra putrinya untuk langsung dibawa pulang. Bagi santri yang rumahnya terjangkau sekitar Jateng dan Jatim, dan bagi santri yang berasal dari Cirebon dan Jakarta searah diantar menggunakan kereta api.

Pada waktu itu kondisi gunung Merapi sudah sangat mengkhawatirkan, sebagian keluarga sudah mulai diungsikan ke tempat kelahiran KH. Mufid Mas’ud, yaitu di Dusun Golo, Bayat, Klaten. Sementara, sebagian keluarga termasuk pengasuh masih berada di Pesantren untuk menyelesaikan proses evakuasi pemulangan santri.

Hari Jum’at tanggal 5 November 2010, pukul 16:10 WIB ada info yang diterima oleh posko Pandanaran bahwa radius yang harus diamankan adalah 20 KM dari puncak Merapi. Sementara pondok pesantren Sunan Pandanaran berada pada posisi 17,5 KM. dari puncak Merapi. Untuk itu, demi mematuhi pengumuman pemerintah, maka seluruh keluarga dan santri yang yang tersisa sekitar seratus orang (putra-putri) di bawa ke Bayat. Sampai di Bayat sekitar ba’da Maghrib. keluarga merasa al-maghfurlah KH. Mufid Mas’ud telah mempersiapkan segala sesuatunya sejak jauh-jauh hari. Manfaat gedung yang dibangun oleh KH. Mufid Mas’ud -yang. dulu tidak ada keluarga yang setuju- baru benar-benar dirasakan oleh keluarga dan para santri setelah beliau meninggal dunia.

Gedung yang dibangun dengan bentuk sepertiga sebelah utara adalah aula besar, di tengah ada empat kamar, dan satu ruang tamu, serta di selatan ada aula besar. Pada waktu pengungsian inilah keluarga merasakan betul manfaat dari gedung yang dibangun oleh almarhum. Aula sebelah utara digunakan untuk santri putra, aula selatan digunakan untuk santri putri. Sementara empat kamar pas dibagi untuk empat keluarga. Pertama untuk keluarga KH. Masykur Muhammad, kedua untuk keluarga H. Ninik afifah, ketiga untuk KH. Hasan, dan keempat untuk keluarga KH. Mu’tashim Billah. Subhanallah, ruangan yang dibangun oleh almarhum al-maghfurlah pas dengan kebuthan keluarga Sunan Pandanaran yang mengungsi di Bayat. Maha Besar Allah. Semoga amal baik al-maghfurlah diterima, semua dosa diampuni, serta seluruh keturunan dapat melanjutkan wadhifah al-maghfurlah. Lahul fatihah

Cinta Membawa Mereka Ziarahi Makam

Sejuk dan menyejukkan. Begitu suasana yang segera terasa ketika menginjakkan kaki di area makam KH. Mufid Mas’ud. Rerimbunan pohon dan bunga di sekitar areal makam dipadu dengan lantunan ayat-ayat Alquran dan shalawat menciptakann kesejukan di hati.

Ketika hendak memasuki area makam KH. Mufid, peziarah terlebih dahulu melewati sebuah jembatan kayu yang klasik dan eksotis. Dari jembatan itu, tampak air mengalir deras di sela-sela bebatuan. Gemericik air sungai terdengar jelas.

Air yang menimbulkan kesegaran berpadu dengan rimbunnya pohon menciptakan suasana yang menentramkan. Betapa tidak, Alquran sendiri menegaskan bahwa air lah yang dijadikan Allah untuk menghidupkan segala sesuatu. Air pula yang digunakan untuk menggambarkan indahnya surga, yaitu air yang mengalir di sungai-sungai di bawah surga firdaus.

Area makam semakin tampak apik tatkala peziarah memasuki pelataran makam. Aneka bunga tumbuh di sana. “Kok suasananya seperti di taman bunga ya?”, gumam seorang peziarah. Bunga-bunga itu tampak selalu basah dan segar. Diletakkan berjajar rapi di dalam pot-pot kecil di sepanjang pelataran yang bersih. Suasana makam jauh dari kesan kumuh dan angker. Bangunan makam pun didesain secara modern. Atap berarsitektur joglo yang disangga dengan beberapa tiang. Lantainya dari keramik mengkilat. Sebagiannya ditutup karpet merah dan hijau. Penerangan makam pun sudah sangat memadai. Plus area parkir yang cukup luas.

Tak Pernah Sepi Peziarah

Dalam prosesi membaca surat Yasin, doa, atau tahlil, para peziarah biasanya duduk melingkar di makam KH Mufid. Area makam dapat menampung ratusan orang, tanpa pagar besi pembatas. Sehingga para peziarah bisa berada sedekat mungkin dengan makam. Seolah ada pesan bahwa kedekatan antara almarhum dengan orang-orang di sekelilingnya senantiasa terjaga. Bagian dalam makam dibagi menjadi dua. Bagian selatan untuk laki-laki dan utara untuk wanita.

Menurut pengurus makam, makam KH. Mufid tidak pernah sepi dari peziarah. Terutama para santri huffadz. Bahkan para santri senior kerap menginap untuk tirakat khataman Alquran di hadapan sang Guru. “Karena banyaknya orang yang baca Alquran di sini, maka di sana-sini banyak ditemui mushaf AlQur’an”, kata salah seorang pengurus makam.

Ia melanjutkan, pada hari Kamis dan Jumat jumlah santri yang berziarah jauh lebih banyak. Pun demikian dengan alumni dan masyarakat sekitar. Ramainya peziarah disebabkan oleh banyak hal. Sebagian alumni mengakui bahwa pengaruh pendidikan KH Mufid kepada para santrinya membekas begitu dalam.

Itulah sebabnya, mengapa mereka harus menziarahi makam Beliau. Ikatan antara KH Mufid dengan santri bukan didasari atas hutang budi, tetapi dilandasi cinta antara murid dan guru. Pesan-pesan yang Beliau sampaikan kepada para santri terus hidup dalam jiwa mereka.

Para santri KH Mufid tidak meragukan keikhlasan Beliau dalam mendidik. Islam sendiri mengajarkan, bahwa jika amal perbuatan dilandasi atas keikhlasan, maka pelakunya seolah hidup sepanjang masa. Meski KH Mufid telah menghadap Sang Pencipta, namun Beliau tetap hidup di hati keluarga dan santri Beliau.

Sanad Ilmu KH Mufid Mas’ud

Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Imam Syafii pernah berkata, “Tiada ilmu tanpa sanad”. Pada kesempatan lain, Imam Mazhab yang sangat populer di Indonesia ini menyatakan, “Penuntut ilmu tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar di tengah malam, yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tak mengetahuinya”. Penyataan serupa pernah juga dilontarkan Al-Hafidz Imam Attsauri, “Sanad adalah senjata orang Mukmin, maka bila engkau tak memiliki senjata, dengan apa engkau membela diri?”. Berkata pula Imam Ibnu al-Mubarak, “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”. Masih banyak lagi pernyataan ulama-ulama terdahulu yang menegaskan pentingnya sanad dalam ilmu. Bahkan dalam tradisi ahli-ahli hadis, sanad ilmu merupakan hal yang wajib dimiliki oleh penekun ilmu hadis. Mereka tidak mengakui suatu hadis dari seseorang kecuali bila orang itu mempunyai sanad yang jelas.

Demikianlah pentingnya sanad ilmu bagi para penekun ilmu-ilmu Islam. Disiplin ilmu keislaman apapun, sanadnya akan bermuara kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Ilmu hadis bermuara kepada Beliau, pun demikian dengan ilmu tafsir dan tasawuf. Karena begitu kuatnya tradisi sanad tersebut, maka sudah sewajarnya apabila para penuntut ilmu di Pandanaran mengetahui sanad ilmu yang dimiliki oleh al-Maghfurllah KH Mufid Mas’ud. PP Sunan Pandanaran dikenal sebagai pondok takhasus li tahfizdil Qur’an. Sementara itu, KH. Mufid Mas’ud belajar Al-Qur’an pada tiga guru AlQur’an, yaitu: pertama, KH. Abdul Qodir Munawwir al-Hafidz (Krapyak); kedua, KH. Muntaha al-Hafidz (Wonosobo); dan ketiga KH. Dimyathi al-Hafidz (Comal). Sanad dari ketiga guru tersebut menyambung kepada KH. Munawwir al-Hafidz (Krapyak).

Selain mengajar AlQur’an, KH. Mufid Mas’ud juga melaksanakan dawuh Mbah KH. Mukhlash (Panggung, Tegal Jawa, Tengah), bahwa seorang santri penghafal Al-Qur’an harus memperbanyak bacaan shalawat Nabi Muhammad saw. KH Mufid mendapatkan ijazah dari guru kitab Dalail al-Khairat, karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Saran KH. Mukhlash pun Beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya, di mana KH. Mufid memperoleh ijazah Dalail dari KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta, Jawa Tengah. KH. Ma’ruf juga seorang guru Qismul ‘Ulya di Manbaul Ulum Surakarta, serta seorang mursyid (pemimpin) Tarekat Sadzaliyah di daerah itu.

“Di samping mendapatkan ijazah dari Beliau, saya juga diperintahkan untuk menulis sanad, mulai dari pengarang Dalail al-Khairat sampai dengan almarhum Romo KH. Ma’ruf”, ungkap KH Mufid dalam suatu kesempatan. Di lain pihak, KH. Mufid Mas’ud juga mendapatkan ijazah Dalail al-Khairat dari KH. Profesor Muhammad Adnan asal Surakarta, yang kala itu bermukim di Kotabaru Yogyakarta, setelah pensiun dari PTAIN Yogyakarta.

Di samping itu, KH Mufid, tanpa Beliau meminta, juga diijazahi Dalail al-Khairat oleh almarhum mbah KH. Hamid asal Pasuruan yang masyhur sebagai min auliaillah wa ulamaillah (termasuk wali dan ulama Allah). “Pernah juga saya mohon ijazah Dalail al-Khairat kepada guru saya, Dr. Assayyid Muhammad Al Maliki di Makkah” cerita KH. Mufid kepada santri-santrinya. Sanad lengkap Dalail al-Khairat almarhum Romo KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta adalah sebagai berikut : KH. Ma’ruf Surakarta -> KH. Abdul Mu’id (Klaten) -> KH. Muhammad Idris -> Sayyid Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali bin Yusuf al Hariri al Madani -> Sayyid Muhammad bin Ahmad al Murghibiy -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy -> Sayyid Ahmad al Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas Ash Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz At Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli (penulis kitab Dalail al-Khairat). Dengan ijazah dari para masyayikh yang termasuk ulama besar tersebut, hadlaratussyaikh KH. Mufid Mas’ud merasakan manfaatnya yang tidak dapat Beliau paparkan dengan lisan. Hanya saja, Beliau tak henti-hentinya menganjurkan agar para santrinya membiasakan wiridan Al-Qur’an dan Dalail al-Khairat agar mendapat syafa’at Al-Qur’an dan syafa’at Sayyidul Anam, Rasulullah saw.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010