Berita Duka dan Belasungkawa

Telah kembali pada sang khalik, Hj Mukharomah (Ibunda Bp. Faizun) pada hari Kamis Wage 23 April 2020 jam 02.30 WIB. Alamat: Jl KH Yasin no 6 Saripan Jepara
Mohon doa semoga Almarhumah khusnul khotimah, segala amal kebaikan diterima segala dosa & khilaf diampuni, dan kami yang ditinggalkan diberi kesabaran & ketabahan
Mohon ziyadah doa untuk almarhumah dengan bacaan surah Al Fatehah.. Laha Al- Fatehah….

CERITA FOTO: Satu Dekade Haul Gus Dur

Malam puncak acara satu dekade haul Gus Dur diadakan di Auditorium Al-Jauharoh Ponpes Sunan Pandanaran pada Kamis, 27 Februari 2020. Tema besar yang diusung adalah “Menggerakkan Budaya, Meneguhkan Kemanusiaan”. Berbagai rangkaian kegiatan telah dilakukan di hari-hari sebelumnya, 1000 lukisan wajah Gus Dur, peringatan Haul Gus Dur, Khatmil Qur’an, dan lain sebagainya. Acara ini terselenggara atas kerjasama dengan banyak  pihak, Ponpes Sunan Pandanaran, Komunitas Gusdurian Yogyakara, dan lainnnya.

Transmisi Ilmu dan Kemiripan Tradisi

Maroko tidak asing bagi Indonesia, khususnya kalangan pesantren. Ash-Shanhaji adalah ulama kelahiran Fez Maroko. Ia pengarang al-Jurumiyah, kitab ilmu Nahwu yang diajarkan di pesantren-pesantrean. Pengarang kitab Alfiyatu Ibn Malik, Ibnu ‘Aqil berdarah Maroko. Wirid buku Dalailul Khairat adalah karangan Syaikh Ibnu Sulaiman al-Jazuli, ulama kelahiran Marakesy, Maroko. Ibnu Rusyd seorang filsuf yang fakih dan Ibnu Khaldun seorang sejarawan-sosiolog sangat dikenal dan buku-bukunya dipelajari di pesantren adalah alumni halaqah Masjid dan Universitas Al-Qurawiyin di Fez, Maroko. Sayyid Maulana Malik Ibrahim (Syaikh al-Maghribi), salah satu dari Wali Songo berasal dari Maghrib. Thariqah al-Syadziliyah al-Jazuliyah yang didirikan oleh Ibn Sulaiman al-Jazuli sebuah Thariqah pembaharu terhadap Thariqah al-Syadziliyah, dan cabangnya, Thariqah Al Tijaniyah yang bersambung langsung kepada al-Junaid didirikan oleh Ahmad al-Tijani adalah termasuk Thariqah Mu’tabarah yang banyak diikuti di Indonesia berasal dari Maroko. Ibnu Bathuthah, sang petualang yang pernah singgah di Aceh sangat dikenal di Indonesia.

Ini semua bukti transmisi keislaman Maroko dengan keislaman Indonesia, sehingga tidak aneh jika paham dan tradisi keislaman terdapat kemiripan antara Maroko dengan Indonesia, utamanya kalangan Nahdliyin. Di Marakesy, kota selatan arah Sahara Maroko dikenal Tujuh Wali (sab’atu rijal) sebagaimana Indonesia mengenal Wali Songo dalam penyebaran Islam. Tujuh Wali adalah orang-orang yang mempunyai peran menonjol dan yang berjasa membangun masyarakat Islam berpendidikan, berperadaban dan tasawwuf. Tujuh wali itu adalah Yusuf bin Ali al Shanhaji, ‘Iyadh bin Musa al Yahshabi, Abu al-Abbas Ahmad bin Ja’far al-Khazraji al-Sabti, Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, Abdul Aziz bin Abdul Haq al-Tiba’, Abu Muhammad Abdullah bin Ajjal al-Ghazwani, dan Abdurrahman bin Abdillah al-Suhaili al-Dharir.

Maroko adalah sumber ilmu tasawuf. Maka suatu angka menurut penganut Sufi mempunyai arti dan rahasia tersendiri. Angka 7 bagi para Wali adalah rahasia yang sangat dalam sehingga ada kitab yang ditulis untuk mengungkap rahasia angka tujuh, yaitu kitab “Al-Sab’inaat”. Rahasia angka 7 karena ganjil dan tidak dapat dibagi, sehingga para ulama terdahulu menyebutnya angka awal dan pijakan.

Angka 7 dipakai untuk menyebut 7 langit, 7 bintang, 7 surga, 7 neraka, 7 pintu neraka, 7 hari, 7 dalam kalimat syahadat La Ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah, bahkan Nabi Muhammad saw membatasi dalam makanan yang dapat memberi pengaruh baik dengan angka 7 seperti dalam bersabdanya riwayat Amir bin Sa’ad bin Abi Waqash, “Barangsiapa yang sarapan pagi dengan 7 kurma yang baik (‘aliyah) maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun dan sihir”.

Tradisi Ziarah

Para Wali Tujuh Marakesy dimakamkan di tempat yang terpelihara, sehingga memudahkan banyak orang untuk melakukan ziarah kubur. Tradisi masyarakat Maroko adalah ziarah kubur pada malam Jum’at untuk mendoakan ulama yang telah berjasa sekaligus mengharap berkah agar dapat meneladani kehidupannya. Saat ziarah kubur tradisinya membaca secara bersama-sama dengan suara keras dan dilanjutkan dengan membaca tahlil, bahkan mereka biasa membaca doa bersama-sama dengan suara keras tanpa ada satu orang pun yang mengucapkan “amin”. Tradisi “Kus-kus” selalu menghiasi di sekitar makam para Wali Tujuh dan di masjid-masjid pada saat malam jum’at. “Kus-kus” adalah makanan yang terbuat dari berbagai bahan makanan pokok masyarakat yang dibentuk bulat dan melonjong seperti tumpeng yang dihidangkan oleh masyarakat kepada para peziarah atau jama’ah masjid. Ini adalah bentuk “sadekahan” yang dilakukan untuk membangun silaturrahim dan kebersamaan.

Tradisi Islam Maroko sangat mirip dengan tradisi kaum sarungan di Indonesia. Meskipun masyarakat Maghrib mengikuti madzhab Maliki dan kaum Nahdliyin mengikuti madzhab salah satu imam madzhab yang empat, madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali yang pada praktiknya mengikuti pendapat Syafi’iyah. Alquran yang dipakai di Maroko adalah Qiraah Nafi’ dari riwayat Warsy sedangkan Alquran di Indonesia qiraah ‘Ashim dari riwayat Hafsh. Maroko punya keterkaitan ilmu dan tradisi yang erat dengan Indonesia, khusus dalam transmisi ilmu dan Thariqah.

Ulasan di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2014, Catatan pinggir dari Program Post Doctral di Rabat, Maroko oleh M. Cholil Nafis, Lc., Ph D (Pembina BMT Pandanaran ICA)

Melukis dari Dalam

Kumis tebal, kulit sawo matang cenderung keling mengkilat, dan kerap memegang kuas atau pena. Profil ini gampang ditebak identitasnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Nuruddin BHB alias Bin Haji Baharuddin, kaligrafer legendaris Pandanaran. Pak Kumis, begitu panggilan akrabnya, selain dikenal sebagai seorang guru Quran Hadist, juga populer sebagai sosok pelukis khat yang selalu berkiprah di setiap even Pandanaran di masa orang-orang belum banyak kenal komputer; Khataman, Isra’ Mi’raj, Perpisahan, dst.

Pria kelahiran Cirebon ini dengan gaya khasnya selalu menggores kuas demi membuat sebuah maha karya Kaligrafi Arab. Melanglang buana dari kota ke kota pun pernah Beliau jalani saat masih dalam kembara semasa bujangan. Baginya, lukisan kaligrafi adalah cermin suasana hati terdalam. Refleksi perasaan. Sebab mata pena bukan sekedar alat. Dari situlah mengalir suara hatinya.

Salah satu kisah uniknya adalah saat didawuhi oleh almaghfurlah KH Mufid Mas’ud membuat kaligrafi. Pak Kumis bingung sebab al-Mukarram tak menyebut harus menulis ayat atau hadist apa. Salah pilih ayat kan bisa berabe. Ide tulisan akhirnya diperoleh saat melintas di Komplek II PPSPA. Khat kaligrafi “ar-Raudlatul Munawwarah li Tahfidzi Kitabillahi wasshalatu ‘ala khairil bariyyah” yang ada di selasar ndalem pun Beliau tulis untuk memenuhi titah Pak Kiai. Walhasil, karya itulah kini yang terpampang di ruang pengajian Huffadz Komplek I.

Lantas, apa kuncinya dalam berkaligrafi?

“Melukis dari dalam”, demikian jawabnya penuh arti.

Maknanya, silakan pembaca telaah sendiri, yang barangkali bisa dicerna dari lukisan-lukisan kaligrafi Pak Kumis.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012