Merintis Rute Masyarakat Multikultur

Kita hidup di dunia yang semakin terpolarisasi oleh ketatnya identitas budaya, agama, politik, dan ekonomi. Artinya, semakin kita tidak fleksibel menjadi masyarakat global, semakin sulit kita untuk membangun masyarakat yang dibangun atas dasar kesopanan, kecerdikan, rasa hormat, dan kepercayaan di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Ini tentu saja menyedihkan karena hal itu merupakan petanda yang memungkinkan adanya keterlibatan masyarakat multikultural. Meski begitu, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengajari para santrinya nilai-nilai masyarakat multikultural melalui dialog lintas budaya dan agama.

Sejak pertama kali tiba di PPSPA, saya tersentuh oleh sambutan hangat kepada Volunteer in Asia (VIA) (saya termasuk di dalamnya) yang langsung dianggap sebagai keluarga. Betapa tidak, keluarga besar PPSPA begitu ringan dan sedia membantu sukarelawan dan bahkan teman-teman relawan VIA.

Tidak hanya itu, sikap menerima kami apa adanya, dan tidak menyuruh kami berpakaian atau mengekspresikan diri kami dengan cara tertentu, adalah nilai lebih dan rasa hormat yang tinggi yang ditunjukkan oleh PPSPA.

Dan, membolehkan semua sukarelawan VIA untuk mengajar di ruang kelas PPSPA semakin menunjukkan bahwa para guru dan staf PPSPA percaya bahwa siswa dapat berbaur dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda tanpa kehilangan kepercayaan mereka sendiri.

Saya jadi teringat ketika salah satu sukarelawan baru, perempuan, yang mengenakan gaun selutut ke PPSPA, senyatanya dia tetap diterima. Sebab, para santri mengerti bahwa dia berpakaian dengan cara sebagaimana lazimnya acara serupa dalam budaya di negara asalnya.

Lebih jauh, para santri di PPSPA begitu menghayati nilai-nilai kesopanan, kebaikan, menghormati perbedaan, dan kepercayaan, sehingga memungkinkan adanya keterbukaan bertukar pikiran antara dunia di luar Indonesia dengan para santri tentang budaya dan agama lain.

Sebagai volunteer pada tahun 2008-2009, tidak pernah ada momen ketika saya merasa dihakimi karena memegang kepercayaan agama yang berbeda. Bahkan, keingintahuan para santri dan guru tentang agama dan hubungan antar suku-bangsa di Amerika Serikat sangat mengesankan.

Dan, yang lebih menginspirasi lagi adalah keterbukaan mereka untuk mengevaluasi kembali stereotip yang biasa dimiliki orang Barat. Kami berdialog dan berdiskusi tentang kemungkinan kelompok minoritas untuk bertindak sebagai mediator dalam konflik antara agama mayoritas, kemudian mempromosikan gagasan untuk menghormati agama lain, dan berfokus pada tujuan bersama.

Ada banyak kenangan yang berkesan bagi saya selama berada di PPSPA. Beberapa di antaranya adalah ketika saya diundang untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban dan membantu memasak di hari raya Idul Adha serta menyaksikan para siswa berpawai ria di jalan-jalan dengan mengenakan kostum di malam takbiran sambil membawa obor.

Tentu saja, saya merasa bersyukur sekali karena keluarga besar PPSPA mau melibatkan saya di berbagai acara, baik yang bersifat kebudayaan maupun ritual keagamaan itu.

Pasalnya, pada tingkat yang lebih mendasar, hidup dalam komunitas multikultural dan terlibat dalam dialog antarbudaya adalah tentang berbagi makan malam, melakukan perjalanan bersama, menari, dan membuat kue pai bersama.

Akhirnya, antusiasme dimana para guru dan staf berinteraksi dengan budaya lain mendorong para santri untuk meneladaninya. PPSPA telah menetapkan fondasi bagi para santri untuk menjadi komunikator antar budaya yang hebat, tinggal bagaimana hal itu bisa semakin dilebarkan cakupannya dengan membuat grup diskusi lintas budaya, dialog antar kelompok daring menggunakan internet, dan berusaha menjadi salah satu peserta pertukaran pelajar.

Saya berharap PPSPA terus menghasilkan para pemikir kritis yang berpengetahuan luas dan berusaha membangun jembatan serta menutup kesenjangan antar budaya, agama, gagasan politik, dan ekonomi untuk menciptakan peradaban yang damai, hangat, dan ramah untuk kehidupan bersama.

[Rebecca Wick Gluckstein, Volunteer in Asia 2008-2009 at PPSPA]

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Suara Pandanaran Ed. I, Th. 6, Juni, 2010

Memaknai Kembali Pesan-pesan Romo KH Mufid Mas’ud

Pada bulan September tahun 1991, saya diantar oleh ayah saya berpamitan kepada Romo Kiai Mufid Mas’ud, sekaligus mohon doa restu untuk dapat melanjutkan kuliah di Jakarta. Saat itu, hati saya berdebar-debar menunggu respon Beliau. “Kowe tak izinke, ning adimu ora usah melu kowe” (kamu saya izinkan tapi adikmu tidak usah ikut kamu). Akhirnya saya mantap melangkah untuk meneruskan studi di Jakarta. Sementara adik saya, Dalhari, mengikuti pesan Romo Kiai ke Jawa Timur. Saya percaya setiap santri, apalagi yang huffadz, pasti memperoleh isyarah, amanah, pesan -atau apalah namanya- baik langsung maupun tidak langsung, dari Romo Kiai. Hal-hal tersebut begitu penting untuk kita renungkan kembali sebagai bekal untuk melanjutkan estafet perjuangan Beliau dalam berhidmat kepada Alquran khususnya, dan Islam pada umumnya. Di sisi lain yang juga menarik adalah, bahwa pesan yang ditujukan kepada masing-masing santri tidak sama. Beliau memberi arahan yang belakangan disadari oleh masing-masing santri sebagai hal yang tepat untuk dijadikan lahan pengabdian.

Dalam berspektif ilmu pendidikan modern, inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “guru visioner”. Yang bukan hanya memberi pengetahuan dan wawasan, melainkan juga mampu menginspirasi agar setiap murid atau santri nantinya dapat memberikan pengabdian terbaik pada bidang masing-masing. Ada beberapa pesan Beliau -sepanjang yang saya dapat tangkap- yang selalu relevan untuk menjadi bekal kehidupan.

Menuntut Ilmu Tiada Henti
Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari. Menghafal Alquran secara lancar adalah sebuah kewajiban khususnya bagi santri huffadz, tetapi hanya berhenti di menghafal saja belum cukup untuk dapat menjadi bekal berhidmat secara ideal terhadap Alquran. Maka setiap usaha untuk lebih dapat memahami, menghayati, dan pada akhirnya mengamalkan isi kandungan Alquran adalah cita-cita Romo Kiai yang harus terus digelorakan oleh setiap santri. Harapan Beliau jelas merupakan manifestasi dari ajaran Alquran.

“Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari.”

Di sini saya berikan ilustrasi bagaimana Alquran mendorong orang agar terus menuntut ilmu. Apresiasi atau perhatian Alquran terhadap ilmu pengetahuan dapat kita mulai dari melihat betapa seringnya kitab suci ini menyebut kata ‘ilm (pengetahuan) dengan segala derivasinya (pecahannya) yang mencapai lebih dari 800-an kali. Belum lagi ungkapan lain yang dapat memiliki kesamaan makna menunjuk arti pengetahuan, seperti: kata al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, aldzikr, dan lain sebagainya. Kata ‘ilm menurut para ahli bahasa Alquran mengandung arti “pengetahuan akan hakekat sesuatu”.

Dari kata kunci inilah, kita dapat mulai melacak bagaimana Alquran memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan di antaranya : Pertama, wahyu Alquran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun, al-’Alaq [96]: 1-5, tergambar dengan jelas betapa kitab suci Alquran memberi perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah Swt menurunkan petunjuk pertama kali terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut menggunakan kata ”Iqra”. Makna perintah tersebut bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra’ adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman. Itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang, makna iqra’ dekat dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan pemahaman).

Kedua, tugas manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam surat alBaqarah [2]: 30-31. Ketiga, Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Ajaran ini tertuang dalam surat Thaha [20] : 114. Dalam ayat tersebut diajarkan salah satu doa yang harus dipanjatkan oleh setiap Muslim untuk memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu pengetahuan. Dari ayat ini juga dapat dipetik pelajaran bahwa Alquran mengajarkan, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai tinggi dan harus dilakukan oleh setiap Muslim sepanjang hidupnya. Maka kalau pada masa modern dikenal istilah pendidikan seumur hidup (long live education), maka Islam sejak awal menekankan kepada umatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Etos untuk terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa yang disebut belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada usia tertentu atau dalam formalitas satuan pendidikan tertentu.

Sepanjang hayat masih di kandung badan, maka kewajiban untuk terus menuntut ilmu tetap melekat dalam diri setiap muslim. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kehidupan terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju kemajuan. Maka, kalau seorang Muslim tidak terus menambah pengetahuannya jelas akan tertinggal oleh perkembangan zaman. Alquran jelas membedakan antara orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Zumar [39] : 9, yaitu ”… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Keempat, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam surat al-Mujadalah [58]: 11. Dari ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan dan kesuksesan hidup hanya milik orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan maka tidak akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah swt. Sebaliknya, bagi orang yang hanya berilmu saja tanpa disertai iman maka juga tidak akan membawa manfaat bagi kehidupannya, termasuk di akhirat kelak. Pesan lain Romo Kiai yang tidak kalah pentingnya adalah agar setiap santri istiqamah dalam bermujahadah.

Memaknai Mujahadah
Setiap santri Pesantren Sunan Pandanaran pasti mengetahui apa itu mujahadah, yang minimal mereka laksanakan setiap seminggu sekali, yaitu pada Kamis malam dan Jum’at pagi. Dengan bermujahadah, pesan moral seperti apa yang hendak Romo Kiai ajarkan kepada para santrinya? Dari yang selalu Beliau sampaikan kepada para santri, paling tidak ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu: Pertama, berusaha sungguh-sungguh. Pesan moral yang ingin Beliau ajarkan kepada para santri adalah, cita-cita mulia tidak mungkin tercapai tanpa kesungguhan. Ini sesuai dengan makna kebahasaan mujahadah yang mengandung arti ”sungguh-sungguh”.

Saya masih selalu ingat bagaimana Beliau menekankan agar bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup dan akan mengecam santri yang malas dan banyak tidur. Kedua, mengajarkan kemandirian. Dengan bekal mujahadah, setiap santri dididik untuk dapat berkhidmad kepada Alquran secara mandiri. Maksudnya tidak menggantungkan uluran tangan orang lain, tetapi berserah diri kepada Allah swt. Tekad yang kuat, usaha sungguh-sungguh dan bertawakkal kepada Allah Swt itulah resep yang selalu Beliau ulang untuk dapat diresapi para santri.

Ketiga, kekuatan doa. Dengan bermujahadah, Romo Kiai Mufid ingin mengajarkan kepada para santri bahwa pintu pertolongan Allah tidak pernah terkunci, hanya perlu didatangi secara istiqomah. Terkadang pintu pertolongan dari-Nya harus diketuk, dan itulah fungsi berdoa. Dengan berdoa secara sungguhsungguh setiap niat baik insya Allah akan mendapat ridha Allah swt. Firman Allah, “Tuhanmu tidak akan mempedulikan hidupmu kalau bukan karena doa-doamu…” (al-Furqan [25]: 77). Wallahu a’lam.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

* Dr. Ali Nurdin merupakan alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta

Sanad Ilmu KH Mufid Mas’ud

Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Imam Syafii pernah berkata, “Tiada ilmu tanpa sanad”. Pada kesempatan lain, Imam Mazhab yang sangat populer di Indonesia ini menyatakan, “Penuntut ilmu tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar di tengah malam, yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tak mengetahuinya”. Penyataan serupa pernah juga dilontarkan Al-Hafidz Imam Attsauri, “Sanad adalah senjata orang Mukmin, maka bila engkau tak memiliki senjata, dengan apa engkau membela diri?”. Berkata pula Imam Ibnu al-Mubarak, “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”. Masih banyak lagi pernyataan ulama-ulama terdahulu yang menegaskan pentingnya sanad dalam ilmu. Bahkan dalam tradisi ahli-ahli hadis, sanad ilmu merupakan hal yang wajib dimiliki oleh penekun ilmu hadis. Mereka tidak mengakui suatu hadis dari seseorang kecuali bila orang itu mempunyai sanad yang jelas.

Demikianlah pentingnya sanad ilmu bagi para penekun ilmu-ilmu Islam. Disiplin ilmu keislaman apapun, sanadnya akan bermuara kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Ilmu hadis bermuara kepada Beliau, pun demikian dengan ilmu tafsir dan tasawuf. Karena begitu kuatnya tradisi sanad tersebut, maka sudah sewajarnya apabila para penuntut ilmu di Pandanaran mengetahui sanad ilmu yang dimiliki oleh al-Maghfurllah KH Mufid Mas’ud. PP Sunan Pandanaran dikenal sebagai pondok takhasus li tahfizdil Qur’an. Sementara itu, KH. Mufid Mas’ud belajar Al-Qur’an pada tiga guru AlQur’an, yaitu: pertama, KH. Abdul Qodir Munawwir al-Hafidz (Krapyak); kedua, KH. Muntaha al-Hafidz (Wonosobo); dan ketiga KH. Dimyathi al-Hafidz (Comal). Sanad dari ketiga guru tersebut menyambung kepada KH. Munawwir al-Hafidz (Krapyak).

Selain mengajar AlQur’an, KH. Mufid Mas’ud juga melaksanakan dawuh Mbah KH. Mukhlash (Panggung, Tegal Jawa, Tengah), bahwa seorang santri penghafal Al-Qur’an harus memperbanyak bacaan shalawat Nabi Muhammad saw. KH Mufid mendapatkan ijazah dari guru kitab Dalail al-Khairat, karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Saran KH. Mukhlash pun Beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya, di mana KH. Mufid memperoleh ijazah Dalail dari KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta, Jawa Tengah. KH. Ma’ruf juga seorang guru Qismul ‘Ulya di Manbaul Ulum Surakarta, serta seorang mursyid (pemimpin) Tarekat Sadzaliyah di daerah itu.

“Di samping mendapatkan ijazah dari Beliau, saya juga diperintahkan untuk menulis sanad, mulai dari pengarang Dalail al-Khairat sampai dengan almarhum Romo KH. Ma’ruf”, ungkap KH Mufid dalam suatu kesempatan. Di lain pihak, KH. Mufid Mas’ud juga mendapatkan ijazah Dalail al-Khairat dari KH. Profesor Muhammad Adnan asal Surakarta, yang kala itu bermukim di Kotabaru Yogyakarta, setelah pensiun dari PTAIN Yogyakarta.

Di samping itu, KH Mufid, tanpa Beliau meminta, juga diijazahi Dalail al-Khairat oleh almarhum mbah KH. Hamid asal Pasuruan yang masyhur sebagai min auliaillah wa ulamaillah (termasuk wali dan ulama Allah). “Pernah juga saya mohon ijazah Dalail al-Khairat kepada guru saya, Dr. Assayyid Muhammad Al Maliki di Makkah” cerita KH. Mufid kepada santri-santrinya. Sanad lengkap Dalail al-Khairat almarhum Romo KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta adalah sebagai berikut : KH. Ma’ruf Surakarta -> KH. Abdul Mu’id (Klaten) -> KH. Muhammad Idris -> Sayyid Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali bin Yusuf al Hariri al Madani -> Sayyid Muhammad bin Ahmad al Murghibiy -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy -> Sayyid Ahmad al Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas Ash Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz At Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli (penulis kitab Dalail al-Khairat). Dengan ijazah dari para masyayikh yang termasuk ulama besar tersebut, hadlaratussyaikh KH. Mufid Mas’ud merasakan manfaatnya yang tidak dapat Beliau paparkan dengan lisan. Hanya saja, Beliau tak henti-hentinya menganjurkan agar para santrinya membiasakan wiridan Al-Qur’an dan Dalail al-Khairat agar mendapat syafa’at Al-Qur’an dan syafa’at Sayyidul Anam, Rasulullah saw.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

Mengabdikan Hidup pada Al-Qur’an

Sejuk dan tenang. Demikian suasana hati Hj. Lilik Ummi Kulsum atau biasa disapa Bu Nyai Lilik saat pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren Sunan Pandanaran. Menurutnya, kala itu kesejukan dan ketenangan yang ia rasakan bukan ditimbulkan oleh suasana fisik pesantren, melainkan karena spirit keihlasan Al-Mukarram KH. Mufid Mas’ud dalam mendidik santri-santrinya. Nyai Lilik nyantri di Pesantren Sunan Pandanaran pada tahun 1991 hingga 1996. Ada satu hal yang masih ia kenang, bahkan tidak mungkin dilupakan. Yaitu, saat pertama kali sowan kepada Romo KH. Mufid, dirinya tidak ditanya mengapa memilih Sunan Pandanaran sebagai tempat tujuan pendidikannya. Tetapi justru ditanya seberapa sering ia bersilaturahmi kepada para alim ulama dan berziarah ke makam para wali Allah. “Ulama dan para wali Allah mana saja yang sudah ananda kunjungi?” demikian pertanyaan KH. Mufid seperti dikenang Nyai Lilik. Ia mengaku telah bersilaturahmi kepada banyak alim ulama. Telah pula mengunjungi banyak makam wali Allah. Akan tetapi, saat itu yang diingat hanya satu nama, yaitu Sunan Ampel. Karena jelasnya, makam Sunan Ampel terletak di daerah asalnya, Surabaya.

Menurut Nyai Lilik, pertanyaan Romo KH. Mufid itu mengandung pelajaran yang sangat berharga. Bahwa, seorang Muslim harus menyambung tali silaturahmi dengan orang-orang yang dicintai Allah. “Kita tidak boleh memutuskan hubungan silaturahmi dengan para alim ulama dan para wali, meskipun kita secara pribadi tidak mengenalnya. Itulah pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Kiai Mufid,” tutur Nyai Lilik.

Ada pelajaran lain yang tak kalah pentingnya. Menurut Nyai Lilik, KH. Mufid tak henti-hentinya menanamkan nilai-nilai tauhid kepada santri-santrinya. Seperti ia akui, nilai tauhid yang disampaikan KH. Mufid hingga saat ini dipegangnya erat-erat. Di antaranya nasehat Beliau supaya memasrahkan segala urusan hanya kepada Allah, dan tidak bergantung kepada orang lain.

“Sopo wae anak didikku sing arep nggedekake pesantren ora usah njaluk-njaluk sumbangan rono-rene. Njaluk nang Pengeran wae”, kata KH Mufid di banyak kesempatan. Maksud dari nasehat itu adalah, siapa saja santri-santri KH. Mufid yang akan mendirikan dan mengembangkan pesantren, tidak pantas memintaminta sumbangan kepada orang lain, cukuplah meminta pertolongan kepada Allah. Nasihat itu laksana pagar beton dalam hati Nyai Lilik. Ia senantiasa mengingatnya, bahkan menjadikannya senjata tatkala menghadapi berbagai cobaan hidup yang cukup berat.

Dalam urusan penguatan akidah, tambahnya, KH. Mufid tidak berhenti pada penanaman nilai-nilai tauhid saja, tetapi juga memberikan pelajaran bagaimana mencintai baginda Nabi Muhammad Saw. Di antaranya memperbanyak bacaan shalawat serta mencontoh perilaku dan kepribadian Beliau. Mendengar tuntunan KH. Mufid ini, Nyai Lilik merasa malu karena ternyata cintanya kepada baginda Nabi saat itu masih akonakon (sebatas di bibir) saja. “Jika cinta kepada Nabi hanya di bibir saja, bagaimana mungkin kita akan mampu meneladani kepribadian dan sifat-sifat Nabi Muhammad,” katanya.

Hasrat Kuliah

Kisah penuh hikmah yang dialami Nyai Lilik tidak hanya berkisar tentang peningkatan kualitas ibadah, tetapi juga peningkatan pendidikan formal. Suatu ketika, orang tua Nyai Lilik berharap dirinya bisa melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Yogyakarta. Tentu, dengan pendidikan formal itu orang tua berharap anaknya akan bisa membangun masa depan dengan lebih baik. Namun bagaimana nasehat KH. Mufid kala itu? Nyai Lilik dipanggil menghadap dan diberikan nasehat, “Mbak Lilik, ora usah gupuh daftar kuliah disik, tahun sesuk wae” (Mbak Lilik, tidak usah tergesa-gesa masuk kuliah dulu, sebaiknya tahun depan saja). Mendengar nasehat ini, Nyai Lilik serasa mendapatkan siraman hati yang teramat sejuk. Ia pun berketetapan hati mematuhi nasehat Romo Kiai Mufid. Dan ia segera menyampaikan berita itu kepada orang tuanya.

Memasuki tahun berikutnya, ketika tiba masa kuliah, Romo Kiai Mufid memberikan nasehat yang membakar semangat Nyai Lilik untuk terus maju di dunia kampus. Kata Beliau, “Yen wis mlebu dunia akademis terusno sampe entek bangku kuliahe” (Kalau sudah masuk dunia akademis, teruskan hingga habis bangku kuliahnya).

Rentetan nasehat tersebut, bagi Nyai Lilik menekankan konsistensi atau istiqamah ketika sudah menentukan pilihan hidup. Meski demikian, lanjut Nyai Lilik, nasehat itu jauh sekali dari unsur keserakahan mengejar jabatan, pangkat, atau gelar. Karena, Kiai Mufid, dalam nasehat-nasehatnya, selalu menegaskan penataan hati agar tidak terjebak dalam niat yang tidak baik. “Ditoto niate yo,” (Ditata niatnya ya) demikian nasehat Beliau, sebagaimana dikenang Nyai Lilik.

Di samping itu, Kiai Mufid juga menekankan pentingnya menjaga Al-Qur’an, baik itu di lidah, pikiran, maupun perbuatan. Artinya, Alquran tidak hanya dibaca secara lisan saja, tetapi harus dimasukkan ke dalam akal dan hati, kemudian diwujudkan ke dalam tindakan-tindakan. Nasehat terindah Romo Kiai Mufid bagi santrinya yang hendak boyong adalah, “Uripmu gawe ngabdi nang Qur’an, ora usah wedi mlarat” (Gunakan hidupmu untuk mengabdi kepada Alquran, tidak usah takut miskin).

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010