Di Suatu Pagi Buta

Oleh : Diasz Kundi

(1)
Di pagi yang buta ini, semuanya terasa begitu membabi buta.
Hingga suara adzan mengetuk jendela,
masih kujaga gelombang pasang yang memburu
dari balik tatapan mata itu.
Siapapun akan tenggelam oleh tatapan matamu, jagoan.
Ringkih jasadku yang dibesarkan oleh suaramu yang lantang
jadi gemetaran seperti tiang listrik di perempatan.
Maka bersetubuhlah aku dengan rasa rindu.
Bergulungan dengan harapan dan pakaian kotor, menjadi satu.
Sesampai di pagi yang begitu buta,
aku masih tak percaya dengan pertemuan kita.
“Anda pahlawan saya!”
“wuih…”, jawabmu.
“boleh saya memeluk Anda?”
– aku jadi gadis puber yang dewana.


(2)
Di pagi yang buta ini, semuanya terasa begitu membabi buta.
Gerimis yang tengah malam tadi mengirim kabut
jadilah ia angin subuh, menggrayangiku lewat celah selimut.
Aku berdiri menghindari rasa gamang
juga mimpi buruk yang mungkin datang.
Di luar sana, pagar tembok terlihat menggigil.
Hawa fajar mulai turun memanggil.
Pohon-pohon dan rumputan yang meninggi
tersiksa oleh musim penghujan yang terlambat pergi.
Di pagi yang buta ini, semuanya begitu terasa membabi buta.
Tatapan matamu – di waktu kunikmati “Dendam Damai” **
dan sedikit pelukan yang kau berikan
adalah gelombang pasang yang selalu memburu di jantungku.
Kulepaskan wajah-wajah yang menghampiriku dengan tiba-tiba
bersama bayang-bayang wajahku di cermin kaca.
Saat tak sengaja kulihat potret diriku bersamamu di pagi yang buta
ini,
ah, aku jadi tersenyum sendiri.

Yogyakarta, di pagi buta 15 Mei 2010

*Diasz Kundi, lahir di Rembang, 8 April 1985 dengan nama Mohammad Dzul Fahmi bin Asrori Zein. Nama “Diasz” merupakan singkatan dari nama itu. Sedangkan “Kundi” adalah nama daerah dimana dia dibesarkan. Buku antologi puisinya yang segera terbit adalah “Teras”.

**Dendam Damai adalah judul lagu ke-empat dari lima lagu yang dinyanyikan Iwan Fals saat konser religi di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Puisi di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

Mursyid Naqsyabandiyah Syria Sirami Hati Santri Pandanaran

Siapa saja santri putra maupun putri di Pesantren Sunan Pandanaran ini yang bisa menghafal Al-Qur’an dengan lancar dalam waktu enam bulan, akan saya beri hadiah kalung permata dari Suria. Tahun depan Insya Allah saya datang ke sini lagi untuk menepati janji saya ini”, demikian salah satu tawaran Syaikh Rajab Al-Daib, Mursyid ‘Am Thariqoh Naqsyabandiyah di Republik Arab Suria, kepada para santri saat mengunjungi Pesantren Sunan Pandanaran pada Jumat, 28 Mei 2010. Apa yang disampaikan oleh Syaikh Rajab merupakan ungkapan rasa cintanya kepada para santri yang dengan ikhlas menghafal Al-Qur’an. “Sebaik-baiknya orang Muslim adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya,” kata Syaikh Rajab lebih lanjut. Beliau juga mengatakan bahwa apabila seorang penuntut ilmu agama sedang berjalan, maka malaikat Jibril menaruh sayapnya di dekatnya sebagai rasa hormat terhadapnya. Dan Jibril tidak pernah melakukan hal itu kecuali terhadap para penuntut ilmu. Malaikat Jibril bertindak demikian, jelasnya, karena derajat para penuntut ilmu berada satu tingkat di bawah derajat para nabi.

Maka, para santri di pesantren ini tengah berada di derajat yang sangat mulia. Teruskanlah belajar Al-Qur’an karena kalian mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt. “Tetapi jangan lupa memperhatikan hal-hal yang menunjang kemuliaan ini. Mempelajari Al-Qur’an harus dibarengi pula dengan membersihkan hati dan raga. Wudhu akan memberihkan raga, dan melakukan hal-hal yang baik akan membersihkan jiwa. Maka hendaklah kalian senantiasa melakukan semua itu,” kata Syaikh Rajab memberikan saran.

Beliau mencontohkan dengan sebuah riwayat, suatu ketika wahyu tidak kunjung turun kepada Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang cukup lama. Para sahabat pun bertanya kepada baginda Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan wahyu begitu lama tidak turun kepadamu?” Rasulullah pun menjawab, “Bagaimana mungkin wahyu Allah akan turun kepadaku, sedangkan kalian tidak menjaga kebersihan diri kalian. Kalian tidak memotong kuku, tidak merapikan rambut, dan tidak membersihkan gigi”.

Syaikh Rajab berziarah ke maqbarah KH Mufid Mas’ud, 28 Mei 2010

Menurut Syaikh Rajab, ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang hanya diturunkan kepada orang-orang yang menjaga kesucian diri. Baik itu suci jiwa ataupun raganya. Kunjungan pertama Syaikh Rajab ini mendapat sambutan cukup meriah dari pihak Pesantren Pandanaran. Tidak hanya pengasuh dan santri yang hadir menyambutnya, tetapi juga sejumah alim-ulama di Yogyakarta. KH. Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Sunan Pandanaran, mengatakan bahwa kehadiran Syaikh Rajab ke sini ingin melihat langsung proses pengajaran Al-Qur’an.

Di samping itu, juga ingin bersilaturahmi dengan ulama-ulama di Yogyakarta. “Maka, saya mengundang beberapa ulama untuk turut hadir menyambut Beliau,” tutur KH Mu’tashim. Syaikh Rajab sendiri disertai tiga ulama dari Suria. Mereka keliling ke pesantren-pesantren di pulau Jawa. “Setelah berkunjung ke banyak pesantren di Jawa ini, saya melihat adanya potensi umat Islam Indonesia untuk maju. Saya berdoa semoga Allah memberikan berkah-Nya kepada umat Islam Indonesia,” tuturnya kepada Suara Pandanaran.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

Banyak Pesantren Mengalami Kemunduran Akibat Sirah Hasanah-nya Tidak Dibukukan

Sambutan Pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran KH. Mufid Mas’ud

Para pembaca Majalah Suara Pandanaran, kaum muslimin dan muslimat terutama para alumni Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran. Atas saran alumni, agar lebih mempererat tali silaturrahim keluarga besar Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran (PPSPA), antara satu dengan yang lainnya. Maka, dengan didukung oleh ananda-ananda dewan guru dan dewan pengurus di lingkungan PPSPA Alhamduliliah, Anak saya, H. Mu’tashim Billah telah memenuhi saran dari para alumni untuk menerbitkan Majalah Suara Pandanaran. Hal ini memang penting, karena dengan adanya media tersebut dapat memberikan informasi-informasi tertulis mengenal perkembangan dan perjuangan PPSPA, dari titik awal sejarah berdirinya PPSPA hingga perkembangan-perkembangan selanjutnya. Dengan harapan, semoga segala usaha kita tetap ditolong dan amal baik kita dapat diterima oleh Allah SWT. Sehingga, untuk selanjutnya dapat menjadi tauladan anak cucu. Sebaliknya, jika terdapat kekurangan-kekurangan di dalam PPSPA, dapat menjadi evaluasi bagi anak cucu dan penerus-penerus yang akan melanjutkan perjuangan PPSPA, supaya bisa lebih sempurna. Dengan ini saya sangat memohon pertolongan dari Allah SWT.

Memang menarik sirah hasanah para sahabat, para ulama-ulama dan murid-muridnya dan seterusnya. Namun, kalau tidak dibukukan (di-tadwin-kan) itu kadang-kadang mengalami perubahan-perubahan menurut siapa yang meneruskan. Bisa diteliti pada pesantren-pesantren zaman para pendahulu kita adalah almarhum yang sangat berwibawa. Menelorkan ulama-ulama yang tersebar di beberapa daerah. Namun, karena sirah hasanah-nya tidak ditadwinkan dan penerusnya mempunyai kehendak yang sebagian tidak cocok dengan pendiri pertamanya, akhirnya pondok pesantren mengalami kesurutan tersebut, na’udzubillah. Jadi, dengan adanya penerbitan Majalah Suara Pandanaran ini selain menjadimedia mempererat tali silaturrahim, juga agar menjadi pedoman serta ukuran seberapa jauh usahanya para penerus. Apakah sesuai dengan apa yang saya rintis selama ini? Hanya dengan memohon pertolongan dari Allah dan doa para ulama,baik ulama dalam negeri serta ulama luarnegeri yang pernah singgah di PPSPA ini.Mudah-mudahan para penerus pondok kita tetap berjalan sesual dengan apa yang telah saya rintis.

Penerbitan ini bukan untuk umu’-umu’an atau menonjolkan sesuatu hal, bukan! Tetapi dengan penerbitan Majalah Suara Pandanaran ini diharapkan menjadi landasan dan laporan saya kepada para alumni dan seluruh simpatisan PPSPA, akibat sirah mengenai perkembangan PPSPA. Sudah barang tentu orang hidup di dunia ini tidak selamanya langgeng. Jadi, sejarah akan hasanah-nya dimulai dari kurun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Akhir kata, kalau ingin pondok-pondok tetap berwibawa hingga sampai beberapa turunan, saya mengharap sirah hasanah-nya para pendiri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya agar diambil hikmah dan menjadi pedoman untuk meneruskan pondok tersebut.

Suara Pandanaran, Edisi 1 Th. I, September 2005.