Tradisi Menghafal Al-Quran

Lima belas abad yang lalu, ketika Alquran pertama kali diturunkan, masyarakat Arab dikenal banyak  mengandalkan hafalan. Kemampuan menghafal bangsa Arab memang sangat mengagumkan. Ibnu Abbas misalnya, selain AlQur`an juga hafal berbagai syair Arab klasik (jahiliah). Bahkan ketika Umar Ibn Abi Rabiah membacakan tujuh puluh bait syair dia langsung menghafalnya dengan sekali dengar secara baik. Setiap kali ditanya oleh Ibn al-Azraq tentang makna kosa kata sulit dalam Alquran dengan piawai ia mendatangkan dari hafalannya berbagai syair Arab yang menjelaskan maknanya. Imam Thawus, seorang tabi`in, setiap kali mengajarkan hadis melalui hafalan selalu disertai dengan menyebutkan jumlah bilangan hurufnya (Siyar A`lâm al-Nubalâ 5/46). Proses transformasi ilmu secara umum berlangsung secara verbal, kendati ada beberapa di antara mereka yang pandai baca-tulis. Para pencatat wahyu adalah yang ternama. Para sahabat berlomba dalam menghafal, sehingga jumlah huffâzh atau qurrâ pada masa itu tidak terbilang. Mereka adalah generasi yang telah dipersiapkan untuk menjamin keterpeliharaan Alquran. Berkat mereka Alquran terjaga dan sampai kepada kita persis seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Tidak berlebihan jika Imam Al-Qarafi mengatakan, seandainya Rasulullah saw tidak dibekali dengan mukjizat maka para sahabat itu dapat menjadi mukjizat yang membuktikan kenabiannya (AlFurûq, 4/170). Dengan hafalan Alquran terpelihara, selain tulisan yang juga dilestarikan. Dalam surat Al-Hijr ayat 9 memang menyatakan Allah yang akan memeliharanya, tetapi penggunaan ungkapan “wa innâ lahû lahâfizhûn”(dan pasti Kami pula memeliharanya) memberi kesan adanya keterlibatan pihak-pihak lain, termasuk para penghafal Alquran. Jaminan ini tidak berlaku pada kitab suci lain. Para ulama dan pendeta Yahudi-lah yang diperintahkan memelihara kitab Allah (bimâstuhfizhî min kitâbillâh) seperti termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 44.

Selain daya ingat yang kuat, generasi pertama umat Islam menerima Alquran dengan penuh  kecintaan, sehingga pesanpesannya meresap sampai ke dalam jiwa yang terdalam. Jiwa mereka ibarat tanah subur yang disirami dengan air sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Dalam jiwa mereka, seperti kata Ibnu Umar, telah tertancap keimanan sebelum disirami ‘air’ Alquran. Berbeda dengan generasi setelah mereka yang menerima Alquran sebelum tertancap keimanan. Mereka enggan mempelajari dan menghafal Alquran sebelum melarutkannya dalam jiwa dan mengamalkannya dalam wujud tingkah laku. Mempelajarinya setiap sepuluh ayat. Tidak melangkah kepada sepuluh ayat berikutnya sebelum mampu memahami dan mengamalkannya (al-Thabari, 1/35).

Mereka memperlakukan Alquran seperti sepucuk surat dari Yang Dicintai, Allah; membaca dan mentadabburi maknanya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari (al-Tibyân, 44). Selain `âlim, mereka juga `amil, sehingga pantas disebut ahlu alQur`ân. Media simpan  dan transformasi ilmu saat itu memang tidak seperti sekarang. Hafalan menjadi andalan. Tidak berlebihan jika dikatakan tradisi keilmuan Islam yang pernah melahirkan peradaban gemilang selalu dimulai dari hafalan. Ulama dan ilmuwan Muslim memulai karir keilmuannya dengan menghafal AlQur`an, kemudian hadis dan ilmu-ilmu dasar keislaman lainnya. Seperti dikemukakan Imam al-Nawawi, mereka memulai belajar dengan menghafal Alquran. Ilmu hadis, fiqih dan lainnya baru diajarkan setelah hafal al-Qur`an. Hal tersebut dimulai dengan menghafal mukhtashar (ringkasan) setiap disiplin ilmu, dengan dimulai dari yang terpenting yaitu fiqih, kemudian nahwu, hadis, dan seterusnya (Al-Majmû` 1/38).

Pentingnya hafalan di awal masa studi juga dikemukakan Ibn Abd al-Barr. “Menuntut ilmu ada tingkatan-tingkatannya, yang harus dilalui tangga demi tangga”, demikian katanya. “Yang tidak melalui itu menyalahi tradisi ulama salaf. Yang pertama dilalui adalah menghafal al-Qur`an dan memahaminya. Segala ilmu yang mendukung pemahaman al-Qur`an harus dihafal oleh mereka yang ingin pandai ilmu agama” (Jâmi bayân al-`ilm wa fadhlihi, h. 526). Meneladani tradisial-salaf alshâlih, menghafal Alquran bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai perantara untuk menjiwai Alquran dan memaknai pesan-pesannya, sehingga dapat dipetik buahnya dalam bentuk akhlak karimah.

Sebutan al-hâfizh (yang belakangan ini sering digunakan), atau hâmilul Qur`an, al-qâri dan ahlul qur`an (yang biasa digunakan di masa lalu) belumlah pantas diberikan kepada yang sekadar hafal AlQur`an, kecuali jika dibarengi pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.
Sekadar hafal ibarat kerangka rumah yang kosong dan belum diisi apa pun, sehingga belum layak digunakan. Tradisi hafalan melahirkan model lembaga pendidikan yang disebut kuttâb, yaitu tempat memperoleh pendidikan dasar pada awal Islam yang hampir ada di semua kota atau desa. Di situ baca-tulis diajarkan selain hafalan, mulai al-Qur’an dan hadis sampai pada ilmu-ilmu lain. Model katâtîb (jamak kuttâb) sampai sekarang masih lestari di banyak negara Islam di Timur Tengah dan Afrika. Untuk memudahkan ingatan, para ulama Islam menyusun berbagai matan dan manzhûmat (nazhaman) berupa bait-bait syair yang berisi ringkasan pembahasan setiap disiplin ilmu.

Matan dan manzhûmat itu bertingkat, mulai dari yang dasar sampai tingkat tinggi. Prinsip yang ditanamkan, man hafizha al-mutûn hâza al-funûn (siapa yang hafal matan-matan, maka ia telah menguasi banyak disiplin ilmu). Tradisi menghafal matan dan manzhûmat saat ini sudah banyak ditinggalkan dalam sistem pendidikan Islam modern. Mengikuti sistem pendidikan Barat, banyak orang beralih dengan lebih menekankan pemahaman. Hafalan seolah dihadapkan dengan pemahaman. Hafalan hanya akan menghasilkan manusia seperti kaset atau compact disc. Begitu kata sebagian mereka.

Sistem pendidikan Barat sebenarnya tidak meninggalkan hafalan, tetapi metode yang digunakan jauh lebih bervariasi, sehingga melalui permainan, lagu, puzzle dan lainnya sehingga anak seakan tidak merasa kalau dirinya sedang menghafal. Hafalan sangat membantu dalam menemukan kembali unsur-unsur yang penting pada waktu dibutuhkan. Imam Ibnu Hazm tidak khawatir ketika penguasa saat itu membakar kitab-kitabnya, karena ilmunya tersimpan baik di dalam dada. Pengetahuan terletak dalam hati, bukan dalam catatan (al-`ilmu fi al-shudûrlâfî alsutûr).

Kita mesti berpikir lebih kreatif untuk membuat anak senang menghafal, bahkan bila perlu membuatnya seakan tidak merasa sedang menghafal. Mulailah dari al-Qur`an dan hadis. Bila ingin memahami keduanya lebih dalam ikuti tradisi ulama salaf di atas. Dengan begitu karakter keilmuan menjadi kuat, dan akan muncul pribadi-pribadi yang tangguh, bukan sekadar kaset atau compact disc. Wallahu a`lam.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012

* Dr. Muchlis M Hanafi, MA merupakan alumnus Huffadz PP Sunan Pandanaran