Tergerak Karena Cinta

Cinta ditandai dengan perhatian aktif pada orang yang dicintai dan ada kenikmatan saat menyebut namanya. Saat nama sang kekasih disebutkan, ada getaran hati terasa. Tiada yang lebih menyenangkan hati dari pada mengingatnya dan menghadirkan kebaikankebaikannya. Jika ini menguat dalam hati, lisan akan memuji dan menyanjungnya. Seperti itulah orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw.

Salah satu contoh kecil mencintai Sang Rasul ialah dengan bershalawat. Dengan memperbanyak shalawat, pikiran dalam benak bak ‘taman cinta Rasulullah’. Insan pecinta shalawat ingin agar tindakan adalah pancaran keharuman akhlak Sang Teladan Segala Zaman.

Tiada hari tanpa siraman shalawat. Agar pohon kerinduan kepada Rasulullah Saw terus tumbuh subur dan menakjubkan orang yang menanamnya. Terlihat seluruh santri berduyun-duyun memasuki areal Komplek 3 Putri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Dengan berpakaian dominan putih, berkalungkan sorban, dan membawa bendera kecil bertuliskan “Syekher Mania Pandanaran”. Ditambah aksesoris bawaan yaitu lampu mini berwarna-warni yang dilekatkan di masing-masing jari para santri. Tidak ketinggalan ribuan jamaah hadir berjamaah menuju arena.

Sudah menjadi tradisi setiap satu tahun sekali bagi Pandanaran untuk berdoa dan bershalawat bersama Habib Syaikh bin Abdul Qadir As-Segaf. Terselenggara pada hari Kamis, tepatnya tanggal 4 September 2014, acara ini juga dihadiri oleh tamu undangan khusus yakni calon jama’ah haji KBIH Sunan Pandanaran 2014, Jama’ah Difabel Ikhwanul Qalbi, dan beberapa dalang dari masyarakat sekitar.

Sebelum acara bershalawat dan berdoa dimulai, para hadirin disuguhkan acara yang pertama yaitu Kesenian Tari Badui, Tahlil, dan Mujahadah. Belum sampai selesai pembacaan Ratibul Haddad, Habib Syaikh pun hadir dengan diiringi lantunan shalawat dari Hadrah Pandanaran dan langsung menyapa seluruh jamaah seraya mengucap salam dan melambaikan tangan.

Gema lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Syaikh dan diiringi langsung oleh 200 personel Tim Hadrah Pandanaran berhasil memecah keheningan malam dan menenangkan hati para jamaah yang hadir. Suara merdu bait shalawat dan iringan hadrah yang begitu memukau benar-benar membawa suasana ke-khusyukan tersendiri. Tidak ketinggalan kibaran bendera kecil dan gemerlap lampu mini yang berwarna-warni turut menghiasi suasana malam shalawat.

Di tengah-tengah acara gema bershalawat, adalah KH. Abdul Karim Achmad (Gus Karim) dari Solo yang berkesempatan memberikan sedikit taushiyah. Beliau menyampaikan bahwa beruntungnya orang seperti kita yang telah dikenalkan shalawat sedari kecil, maka dari itu kita harus banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan tidak ketinggalan dengan membaca al-Quran yang bertujuan untuk mendapatkan syafa’at uzhma (syafa’at yang paling besar). Dan diniatkan untuk ber-istikhfa (mencari syafa’at dari Rasul Saw melalui al-Quran dan Shalawat). Selain memberikan sedikit taushiyah, Gus Karim juga memberikan beberapa bait puisi untuk Habib Syaikh yang didengarkan oleh seluruh hadirin.

Walaupun jauh, tapi tetap bercahaya…
Kadang menghilang, tapi tetap ada…
Sulit dimiliki, tapi tak bisa dilupakan…
Beliau selalu ada dalam hati kita…
Oh, Habib Syaikh..I love you…

Setelah Gus Karim memberikan taushiyah singkat, acara berlanjut dengan penampilan unik dari dalangdalang yang menembangkan sedikit macapat berirama islami. Tidak lupa, Habib Syaikh juga memberikan nasihat singkat agar seluruh santri Pandanaran yang berdomisili di pusat maupun cabang, agar selalu senantiasa giat dan berusaha berjuang mencari ilmu karena telah berada di tempat yang tepat. Saling mendoakan untuk keselamatan baik dari ahlul bait, para pengajar di pondok ini dan seluruh putra putrinya semoga diberi kemudahan untuk berjuang dalam membangun pondok ini. Sebelum berakhir, doa untuk keselamatan dibacakan oleh yang diberi kesempatan yaitu Gus Karim dan ditambah lagi doa oleh K.H Nawawi Dencik (Imam Besar Masjid Agung Palembang dan Pengasuh Pondok Pesantren Ahl-Qur’an). Kemudian kembali Habib Syaikh mengguyur para jama’ah dengan pembacaan mahallul qiyam yang diikuti oleh seluruh jama’ah dengan khusyuk dan khidmat.

Last minute, acara diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama sebagai tanda nasionalisme. Sudah sangat sewajarnya bahwa umat Islam Indonesia harus mencintai negerinya, mendukung penuh nilai-nilai Pancasila yang di dalamnya banyak yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Mudah-mudahan dengan lantunan shalawat ini hati kita semakin cinta kepada Rasulullah Saw serta mendapatkan syafa’atnya. Dan dengan untaian doa yang disuarakan bersama,semoga kita selalu diberikan kekuatan, keistiqamahan, dan kemudahan dalam menuntut ilmu, dalam memahami ilmu serta mangamalkannya. Amin, amin, Ya Rabbal ‘Alamiin.

*) Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2015