Tradisi Menghafal Al-Quran

Lima belas abad yang lalu, ketika Alquran pertama kali diturunkan, masyarakat Arab dikenal banyak  mengandalkan hafalan. Kemampuan menghafal bangsa Arab memang sangat mengagumkan. Ibnu Abbas misalnya, selain AlQur`an juga hafal berbagai syair Arab klasik (jahiliah). Bahkan ketika Umar Ibn Abi Rabiah membacakan tujuh puluh bait syair dia langsung menghafalnya dengan sekali dengar secara baik. Setiap kali ditanya oleh Ibn al-Azraq tentang makna kosa kata sulit dalam Alquran dengan piawai ia mendatangkan dari hafalannya berbagai syair Arab yang menjelaskan maknanya. Imam Thawus, seorang tabi`in, setiap kali mengajarkan hadis melalui hafalan selalu disertai dengan menyebutkan jumlah bilangan hurufnya (Siyar A`lâm al-Nubalâ 5/46). Proses transformasi ilmu secara umum berlangsung secara verbal, kendati ada beberapa di antara mereka yang pandai baca-tulis. Para pencatat wahyu adalah yang ternama. Para sahabat berlomba dalam menghafal, sehingga jumlah huffâzh atau qurrâ pada masa itu tidak terbilang. Mereka adalah generasi yang telah dipersiapkan untuk menjamin keterpeliharaan Alquran. Berkat mereka Alquran terjaga dan sampai kepada kita persis seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Tidak berlebihan jika Imam Al-Qarafi mengatakan, seandainya Rasulullah saw tidak dibekali dengan mukjizat maka para sahabat itu dapat menjadi mukjizat yang membuktikan kenabiannya (AlFurûq, 4/170). Dengan hafalan Alquran terpelihara, selain tulisan yang juga dilestarikan. Dalam surat Al-Hijr ayat 9 memang menyatakan Allah yang akan memeliharanya, tetapi penggunaan ungkapan “wa innâ lahû lahâfizhûn”(dan pasti Kami pula memeliharanya) memberi kesan adanya keterlibatan pihak-pihak lain, termasuk para penghafal Alquran. Jaminan ini tidak berlaku pada kitab suci lain. Para ulama dan pendeta Yahudi-lah yang diperintahkan memelihara kitab Allah (bimâstuhfizhî min kitâbillâh) seperti termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 44.

Selain daya ingat yang kuat, generasi pertama umat Islam menerima Alquran dengan penuh  kecintaan, sehingga pesanpesannya meresap sampai ke dalam jiwa yang terdalam. Jiwa mereka ibarat tanah subur yang disirami dengan air sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Dalam jiwa mereka, seperti kata Ibnu Umar, telah tertancap keimanan sebelum disirami ‘air’ Alquran. Berbeda dengan generasi setelah mereka yang menerima Alquran sebelum tertancap keimanan. Mereka enggan mempelajari dan menghafal Alquran sebelum melarutkannya dalam jiwa dan mengamalkannya dalam wujud tingkah laku. Mempelajarinya setiap sepuluh ayat. Tidak melangkah kepada sepuluh ayat berikutnya sebelum mampu memahami dan mengamalkannya (al-Thabari, 1/35).

Mereka memperlakukan Alquran seperti sepucuk surat dari Yang Dicintai, Allah; membaca dan mentadabburi maknanya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari (al-Tibyân, 44). Selain `âlim, mereka juga `amil, sehingga pantas disebut ahlu alQur`ân. Media simpan  dan transformasi ilmu saat itu memang tidak seperti sekarang. Hafalan menjadi andalan. Tidak berlebihan jika dikatakan tradisi keilmuan Islam yang pernah melahirkan peradaban gemilang selalu dimulai dari hafalan. Ulama dan ilmuwan Muslim memulai karir keilmuannya dengan menghafal AlQur`an, kemudian hadis dan ilmu-ilmu dasar keislaman lainnya. Seperti dikemukakan Imam al-Nawawi, mereka memulai belajar dengan menghafal Alquran. Ilmu hadis, fiqih dan lainnya baru diajarkan setelah hafal al-Qur`an. Hal tersebut dimulai dengan menghafal mukhtashar (ringkasan) setiap disiplin ilmu, dengan dimulai dari yang terpenting yaitu fiqih, kemudian nahwu, hadis, dan seterusnya (Al-Majmû` 1/38).

Pentingnya hafalan di awal masa studi juga dikemukakan Ibn Abd al-Barr. “Menuntut ilmu ada tingkatan-tingkatannya, yang harus dilalui tangga demi tangga”, demikian katanya. “Yang tidak melalui itu menyalahi tradisi ulama salaf. Yang pertama dilalui adalah menghafal al-Qur`an dan memahaminya. Segala ilmu yang mendukung pemahaman al-Qur`an harus dihafal oleh mereka yang ingin pandai ilmu agama” (Jâmi bayân al-`ilm wa fadhlihi, h. 526). Meneladani tradisial-salaf alshâlih, menghafal Alquran bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai perantara untuk menjiwai Alquran dan memaknai pesan-pesannya, sehingga dapat dipetik buahnya dalam bentuk akhlak karimah.

Sebutan al-hâfizh (yang belakangan ini sering digunakan), atau hâmilul Qur`an, al-qâri dan ahlul qur`an (yang biasa digunakan di masa lalu) belumlah pantas diberikan kepada yang sekadar hafal AlQur`an, kecuali jika dibarengi pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.
Sekadar hafal ibarat kerangka rumah yang kosong dan belum diisi apa pun, sehingga belum layak digunakan. Tradisi hafalan melahirkan model lembaga pendidikan yang disebut kuttâb, yaitu tempat memperoleh pendidikan dasar pada awal Islam yang hampir ada di semua kota atau desa. Di situ baca-tulis diajarkan selain hafalan, mulai al-Qur’an dan hadis sampai pada ilmu-ilmu lain. Model katâtîb (jamak kuttâb) sampai sekarang masih lestari di banyak negara Islam di Timur Tengah dan Afrika. Untuk memudahkan ingatan, para ulama Islam menyusun berbagai matan dan manzhûmat (nazhaman) berupa bait-bait syair yang berisi ringkasan pembahasan setiap disiplin ilmu.

Matan dan manzhûmat itu bertingkat, mulai dari yang dasar sampai tingkat tinggi. Prinsip yang ditanamkan, man hafizha al-mutûn hâza al-funûn (siapa yang hafal matan-matan, maka ia telah menguasi banyak disiplin ilmu). Tradisi menghafal matan dan manzhûmat saat ini sudah banyak ditinggalkan dalam sistem pendidikan Islam modern. Mengikuti sistem pendidikan Barat, banyak orang beralih dengan lebih menekankan pemahaman. Hafalan seolah dihadapkan dengan pemahaman. Hafalan hanya akan menghasilkan manusia seperti kaset atau compact disc. Begitu kata sebagian mereka.

Sistem pendidikan Barat sebenarnya tidak meninggalkan hafalan, tetapi metode yang digunakan jauh lebih bervariasi, sehingga melalui permainan, lagu, puzzle dan lainnya sehingga anak seakan tidak merasa kalau dirinya sedang menghafal. Hafalan sangat membantu dalam menemukan kembali unsur-unsur yang penting pada waktu dibutuhkan. Imam Ibnu Hazm tidak khawatir ketika penguasa saat itu membakar kitab-kitabnya, karena ilmunya tersimpan baik di dalam dada. Pengetahuan terletak dalam hati, bukan dalam catatan (al-`ilmu fi al-shudûrlâfî alsutûr).

Kita mesti berpikir lebih kreatif untuk membuat anak senang menghafal, bahkan bila perlu membuatnya seakan tidak merasa sedang menghafal. Mulailah dari al-Qur`an dan hadis. Bila ingin memahami keduanya lebih dalam ikuti tradisi ulama salaf di atas. Dengan begitu karakter keilmuan menjadi kuat, dan akan muncul pribadi-pribadi yang tangguh, bukan sekadar kaset atau compact disc. Wallahu a`lam.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012

* Dr. Muchlis M Hanafi, MA merupakan alumnus Huffadz PP Sunan Pandanaran

Urgensi Perguruan Tinggi di Pesantren

Ketika Mas Tasim (KH. Mu’tashim Billah), menyampaikan melalui sms bahwa izin operasional Perguruan Tinggi Pandanaran sudah turun dan mengharapkan kami untuk dapat memberikan opini di Suara Pandanaran, maka kami jawab, “Inggih Insya Allah Mas”. Namun ketika hendak menulis berkecamuk dalam benak apa yang sebenarnya ingin kami sampaikan. Karena para pengamat sering kali memberikan penilaian bahwa pesantren dan Perguruan Tinggi adalah dua entitas yang berbeda bahkan terkadang dikesankan saling berlawanan. Pesantren digambarkan sebagai lembaga yang secara akademis “kurang ilmiah”, cenderung tertutup, dan sulit menerima pikiran-pikiran baru yang berkembang. Sedangkan dunia perguruan tinggi sering dilukiskan sebaliknya, yaitu sebagai institusi keilmuan yang sangat mengedepankan “prinsip-prinsip ilmiah yang bercirikan : obyektivitas, keterbukaan dan kesiapan menerima perubahan”.

Kesan tersebut jelas keliru, karena di era sekarang dikotomi seperti di atas tidak sesuai dengan kenyataan dan juga tidak relevan serta terlalu menyederhanakan masalah. Yang terjadi adalah justru banyak yang berikhtiar untuk mensinergikan kelebihan dan keunggulan masing-masing sistem, baik pesantren maupun perguruan tinggi. Yang terjadi adalah banyak perguruan tinggi yang justru mengadopsi sitem pesantren, yaitu dengan mewajibkan mahasiswa untuk tinggal di asrama dengan mengikuti sistem pembelajaran ala pesantren. Sekedar menyebut contoh di antaranya UIN Jakarta, UIN Malang, dan juga Institut PTIQ, serta IIQ Jakarta. Untuk dua institut yang disebut terakhir memang sejak awal mewajibkan
mahasiswanya untuk tinggal di asrama. Di sisi lain pada beberapa tahun terakhir banyak pesantren yang telah merintis mendirikan perguruan tinggi dengan berbagai macam program studi, termasuk yang sering dikategorikan sebagai program studi umum atau non agama.

Nilai-Nilai Pesantren dan Tradisi Ilmiah
Melihat realitas seperti yang disebut di atas, tampaknya mulai muncul kesadaran akan pentingnya mensinergikan keunggulan pesantren dengan segenap norma dan nilai yang selama ini telah teruji sebagai sebuah lembaga pendidikan. Demikian juga perguruan tinggi yang memiliki ciri dan bangunan tradisi ilmiah yang sebenarnya kalau diteliti dengan
cermat bukan sesuatu yang asing bagi pesantren.

Sekadar contoh tradisi perguruan tinggi yang didasarkan pada formula tridharma perguruan tinggi yaitu; pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiganya dalam kadar tertentu telah dilakukan oleh pesantren, bahkan untuk dharma yang ketiga pengabdian masyarakat harus diakui pesantren telah melakukan dengan jauh lebih kongkret. Hal ini dapat dilihat dari sistem yang dikembangkan di pesantren sejak masih belajar maupun setelah selesai secara umum santri sudah dibiasakan untuk terlibat dengan masyarakat sekitar dengan berbagai macam problemnya. Demikian juga dengan pengajaran dan penelitian; untuk pengajaran pasti semua pesantren telah melakukannya yang membedakan pada sistem yang digunakan.

Pun begitu dengan penelitian di beberapa pesantren telah terbiasa untuk melakukan penelitian khususnya penelitian pustaka yang digunakan sebagai basis tradisi bahtsul masail. Sementara itu, Perguruan tinggi yang memang sejak awal mengembangkan tradisi ilmiah dengan mengedepankan rasionalitas dan obyektifitas ilmu dengan sistem pembelajaran yang terbuka yang diharapkan dapat membantu menjawab berbagai macam problem dalam masyarakat sering kali terjebak pada kondisi di mana terlalu mengedepankan rasio sehingga terasa kering secara spiritual. Di sinilah letak pentingnya sinergi dengan sistem pesantren.

Konteks Pesantren Sunan Pandanaran

Pesantren Sunan Pandanaran yang telah berusia lebih dari tiga puluh tahun dan mengalami perkembangan yang sangat pesat sudah selayaknya untuk terus mengembangkan diri termasuk dengan mendirikan perguruan tinggi. Hal tersebut bukanlah sebagai bentuk sikap latah atau mengikuti tren yang ada melainkan sebagai bentuk ikhtiar agar dapat menjadikan PPSPA sebagai lembaga pendidikan pesantren yang dapat memberi kontribusi maksimal dalam usaha mencerdaskan umat.

Untuk satuan pendidikan yang telah ada dari jenjang MI, MTs, dan MA, dan juga lainnya termasuk huffadz dapat diberdayakan dan tetap perlu untuk terus ditingkatkan agar semuanya dapat diberikan ruang untuk berkembang mencapai kesempurnannya. Jangan sampai seperti kata pepatah “melepas telur di tangan untuk menggapai burung yang masih terbang”. Di sinilah perlunya sinergi  antara pengelola dengan visi yang sama untuk meraih keberhasilan bersama.

– Dr. Ali Nurdin

Beberapa catatan berikut mungkin perlu untuk direnungkan bersama khususnya bagi teman-teman yang nantinya mendapat amanah untuk mengelola perguruan tinggi di PPSPA : Pertama, sudah menjadi hal yang biasa khususnya dalam masyarakat Indonesia ungkapan yang menyatakan, “Semangat ketika membangun dan mendirikan, namun seperti kurang greget untuk memelihara dan mengembangkan”. Maka agar sindrom tersebut nantinya tidak menimpa perguruan tinggi di PPSPA, maka penting untuk saling mengingatkan agar tetap menjaga stamina dan ghirah demi mengembangkan lembaga tersebut.

Kedua, bersikap pragmatis tidak “diharamkan” sepanjang tetap dapat memelihara idealisme. PPSPA dikenal sebagai pesantren Alquran. Hal ini berarti, pada awal mula pendirian pesantren ini menjadikan kajian Alquran (tahfidz) sebagai bidang utamanya. Oleh karenanya, program studi yang dipilih hendaklah program studi yang menjadi kelanjutan dari ikon pesantren, yaitu Alquran. Alhamdulillah dari informasi yang kami terima untuk tahap pertama program studi yang telah mendapatkan izin adalah Tafsir dan Ulumul Qur’an di samping Akhlaq Tasawwuf. Untuk selanjutnya sekiranya hendak mengembangkan program studi yang baru tetaplah mempertimbangkan kajian ke–alQur’an-an sebagai pijakan utamanya. Pengalaman di beberapa perguruan tinggi lain, ada yang karena terlalu berorientasi ke pasar/permintaan masyarakat maka seringkali mengorbankan idealisme awal pendirian.

Ketiga, desain kurikulum dan silabus lebih dibuat fleksibel, tidak harus kaku. Kurikulum yang ditetapkan oleh Kementrian Agama dapat dijadikan sebagai salah satu acuan namun yang lebih penting adalah membangun struktur kurikulum yang disiapkan dapat mewadahi juga bentuk-bentuk kearifan lokal yang berkaitan dengan program studi.

Keempat, untuk satuan pendidikan yang telah ada dari jenjang MI, MTs, dan MA, dan juga lainnya termasuk huffadz dapat diberdayakan dan tetap perlu untuk terus ditingkatkan agar semuanya dapat diberikan ruang untuk berkembang mencapai kesempurnannya. Jangan sampai seperti kata pepatah “melepas telur di tangan untuk menggapai burung yang masih terbang”. Di sinilah perlunya sinergi  antara pengelola dengan visi yang sama untuk meraih keberhasilan bersama.

Catatan Akhir
Sehebat dan sesempurna apapun sebuah rencana tidak akan berarti apaapa dan tidak akan menghasilkan apa-apa sekiranya tidak diikuti dengan tindakan nyata dan aksi konkret secara istiqamah. Kalau ada pertanyaan, “Apa yang menjadikan orang atau lembaga yang biasa saja namun dapat menghasilkan prestasi yang luar biasa?” Jawabannya hanya satu, yaitu ghirah; semangat dan kerja keras. Secara pribadi maupun atas nama alumni kami yakin dengan semangat teman-teman di PPSPA di bawah kepengasuhan dan bimbingan KH. Mu’tashim Billah, Insya Allah perguruan tinggi yang akan hadir di PPSPA akan mencapai hasil yang gemilang. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan-Kami, sungguh pasti Kami akan berikan petunjuk … “(al-‘Ankabut/29: 69).

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012

* Dr. Ali Nurdin merupakan alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta

Menyibak Kisah Para Penghafal Al-Qur’an

Banyak kisah di seputar santri Huffazd (penghafal Al-Qur’an). Kewajiban berat yang dipikulnya, yakni menghafalkan 30 juz Al-Qur’an, mengharuskan mereka melakukan segudang kegiatan untuk relaksasi. Kegiatan di luar menghafal Al-Quran bertujuan untuk melepaskan kepenatan di kepala. Atau sekadar untuk meregangkan otot-otot tubuh yang tegang akibat duduk di sudut-sudut ruangan selama berjam-jam. Betapa tidak, seorang santri yang sedang menghafal Al-Quran tidak pernah pengenal waktu istirahat dari menghafal ayat-ayat Allah. Pagi, siang, sore, dan malam mereka gunakan untuk tadarus atau nderes. Pun, mereka tidak mengenal tempat. Di manapun, asal ada tempat nyaman dan sepi, mereka duduk manis di sana sembari berkomat-kamit mengucapkan bait-bait ayat Al-Quran. Karenanya, menciptakan suasana kondusif dan lingkungan yang nyaman merupakan suatu keharusan.

Suasana kondusif untuk menghafal Al-Qur’an tercipta di antaranya dengan terjalinnya hubungan baik antara santri senior dan santri junior. Sementara kondisi nyaman dan tenteram harus mereka ciptakan dengan memelihara ketertiban dan kebersihan. Suasana kondusif antar santrisejauh ini telah tercipta dengan membudayanya penularan ilmu dari santri senior kepada santrisantri junior. Siapapun yang menjadi santri di pondok tahfidz Al-Qur’an Sunan Pandanaran diperlakukan sama. Mereka sama-sama dididik dengan berbagai macam disiplin ilmu hafalan Al-Quran. Di antaranya ilmu tajwid dan tahsin. Para santri diajari bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Materi ini ditujukan agar santri mampu membaca Al-Qur’an secara tartil dan makhraj yang benar. Metode pengajaran ini terus berlanjut hingga banyak santri yang kualitas bacaan Al-Qurannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Optimalisasi pembelajaran AlQur’an saat ini ditunjang dengan pelatihan-pelatihan di Madrasah Hufadz. Di antaranya pelatihan metode  yang diasuh langsung oleh KH Ulil Albab Arwani, Kudus, Jawa Tengah. Inilah metode cepat pembelajaran Al-Qur’an dan disertai penguasaan ilmu tajwid dan tahsin alqiraa. Sejumlah santri yang sedang menghafal Al-Qur’an diikutsertakan dalam program Yanbu’a ini. Menurut Abdullah Muslim, lurah kompleks Huffadz putra, setelah para santri mengikuti program Yanbu’a, bacaan Al-Qur’an mereka menjadi lebih baik. Sementara untuk menambah wawasan santri, diberlakukan pengajian tafsir yang diasuh langsung oleh bapak Pengasuh pondok. Pengajian ini secara rutin diselenggarakan pada malam selasa.

Sistem Pendidikan Tahfidz menurut Abdullah Muslim, para santri huffadz dengan sadar mematuhi sistem yang telah ditetapkan. Pada hari biasa, para santri diwajibkan menyetorkan hafalannya dua kali sehari, yaitu setelah Subuh dan setelah Maghrib. Setelah Subuh untuk menambah hafalan. Sedangkan setelah Maghrib untuk mengulang hafalan. Kewajiban tersebut, jelas dia, tidaklah berat bagi yang sudah mempersiapkan hafalan secara matang. Abdullah Muslim menambahkan, pihak madrasah Huffadz memberlakukan nderes wajib (mengulang hafalan AlQur’an bersama) selama dua jam. Mulai dari jam 08.00 sampai 10.00 WIB. “Madrasah Huffadz juga memberlakukan absensi santri pada setiap setoran. Nah, bagi santri yang absen tanpa pemberitahuan akan ditegur pengurus. Dan bagi yang tidak mengindahkan teguran ini akan diberikan sanksi,” jelas Muslim.

Sementara itu, evaluasi tiap semester juga diberlakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga hafalan semua santri. Di dalam evaluasi ini semua santri dilibatkan untuk saling menyimak dan hasilnya dilaporkan kepada pengurus, untuk selanjutkan diberitahukan kepada pengasuh dan wali santri. Dengan demikian, pihak wali santri mengetahui perkembangan putra dan putri mereka setiap semesternya. “Sistem laporan semester tersebut dimaksudkan untuk menjalin tali silaturahmi antara pengasuh, pengurus, wali santri dan santri,” ungkap Muslim.

Ada pula penerapan metode hafalan bergilir. Secara teknis, aturan ini mewajibkan semua santri menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada pengasuh, KH. Mu’tashim Billah, sekali atau dua kali dalam seminggu. Itulah momen bagi santri untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh pondok. KH. Mu’tashim Billah pun tak jarang berpesan kepada para santri setiap selesai mengaji, “Deresannya dijaga ya”. Untaian nasihat pengasuh bagi para santri bak air hujan yang merangsang tumbuhnya pohon dan tanaman di lahan gersang. Pasalnya, nasehat tersebut tersemat dalam benak santri dan memotivasinya untuk menyuburkan semangat menghafal dan menjaga Al-Qur’an.

Nah, apakah pola pendidikan santri huffadz cukup sampai di situ saja? Ternyata tidak. Mereka sejak dini diberikan kesadaran bakal menjadi pemimpin-pemimpin di masyarakat. Misalnya menjadi pengurus harian, mendapatkan giliran menjadi imam shalat rawatib di masjid, menjadi khatib jumat dan bilal, memimpin tahlil di makam al-Maghfurullah KH. Mufid Mas’ud, dan menjalankan piket membangunkan santri lain di pagi hari.

Menurut KH. Mu’tashim Billah, dengan pola pendidikan yang demikian itu diharapkan semua santri kelak mampu berperan aktif di tengah masyarakatnya. Keberadaan mereka menjadi penting ketika tuntutan-tuntutan masyarakat, baik itu di bidang sosial maupun keagamaan, bisa mereka perankan sebaik-baiknya.

Menjadi Juara

Sistem pendidikan semacam itu sejak dahulu telah mencetak santri-santri huffadz yang jempolan. Banyak alumni huffadz yang telah berkiprah di tengah masyarakat, baik di bidang sosial keagamaan maupun pendidikan. Sementara itu, bagi mereka yang masih berstatus santri, tampaknya tak pernah kering dari prestasi. Tak jarang mereka menjuarai berbagai lomba, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bak pepatah Arab, “Barang siapa menanam pasti akan memetik”. Pun demikian para santri huffadz yang telah menikmati hasil jerih payahnya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Pada bulan April 2010 ini, santri huffadz Sunan Pandanaran mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. Hasilnya, sangat menggembirakan. Dari 45 santri huffadz Sunan Pandanaran yang mengikuti lomba, 30 santri meraih juara. Sementara di tingkat provinsi yang diadakan pada awal Mei 2010, dari 17 santri Sunan Pandanaran, 12 di antaranya meraih juara. Kejuaraan ini dilanjutkan pada tingkat nasional. Ulil Absor, sekretaris komplek Huffadz, mengatakan, pada 5-13 Juni 2010, tiga santri diutus untuk mewakili Pesantren Sunan Pandanaran di tingkat nasional. Mereka adalah Abdul Rasyid, Desti, dan Fina Raudhatul Jannah.

Abdul Rasyid mengikuti lomba 10 juz bilghaib, Desti mengikuti 20 juz bilghaib, sementara Fina mengikuti Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) untuk tilawah. “Prestasi apapun yang diraih santri merupakan bentuk dari usaha keras mereka dalam bidang yang ditekuninya. Kita semua berharap supaya prestasi yang sudah sangat baik itu bisa dipertahankan. Bahkan harus ditularkan kepada santri-santri lainnya,” ujar KH. Mu’tashim Billah.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

Memaknai Kembali Pesan-pesan Romo KH Mufid Mas’ud

Pada bulan September tahun 1991, saya diantar oleh ayah saya berpamitan kepada Romo Kiai Mufid Mas’ud, sekaligus mohon doa restu untuk dapat melanjutkan kuliah di Jakarta. Saat itu, hati saya berdebar-debar menunggu respon Beliau. “Kowe tak izinke, ning adimu ora usah melu kowe” (kamu saya izinkan tapi adikmu tidak usah ikut kamu). Akhirnya saya mantap melangkah untuk meneruskan studi di Jakarta. Sementara adik saya, Dalhari, mengikuti pesan Romo Kiai ke Jawa Timur. Saya percaya setiap santri, apalagi yang huffadz, pasti memperoleh isyarah, amanah, pesan -atau apalah namanya- baik langsung maupun tidak langsung, dari Romo Kiai. Hal-hal tersebut begitu penting untuk kita renungkan kembali sebagai bekal untuk melanjutkan estafet perjuangan Beliau dalam berhidmat kepada Alquran khususnya, dan Islam pada umumnya. Di sisi lain yang juga menarik adalah, bahwa pesan yang ditujukan kepada masing-masing santri tidak sama. Beliau memberi arahan yang belakangan disadari oleh masing-masing santri sebagai hal yang tepat untuk dijadikan lahan pengabdian.

Dalam berspektif ilmu pendidikan modern, inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “guru visioner”. Yang bukan hanya memberi pengetahuan dan wawasan, melainkan juga mampu menginspirasi agar setiap murid atau santri nantinya dapat memberikan pengabdian terbaik pada bidang masing-masing. Ada beberapa pesan Beliau -sepanjang yang saya dapat tangkap- yang selalu relevan untuk menjadi bekal kehidupan.

Menuntut Ilmu Tiada Henti
Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari. Menghafal Alquran secara lancar adalah sebuah kewajiban khususnya bagi santri huffadz, tetapi hanya berhenti di menghafal saja belum cukup untuk dapat menjadi bekal berhidmat secara ideal terhadap Alquran. Maka setiap usaha untuk lebih dapat memahami, menghayati, dan pada akhirnya mengamalkan isi kandungan Alquran adalah cita-cita Romo Kiai yang harus terus digelorakan oleh setiap santri. Harapan Beliau jelas merupakan manifestasi dari ajaran Alquran.

“Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari.”

Di sini saya berikan ilustrasi bagaimana Alquran mendorong orang agar terus menuntut ilmu. Apresiasi atau perhatian Alquran terhadap ilmu pengetahuan dapat kita mulai dari melihat betapa seringnya kitab suci ini menyebut kata ‘ilm (pengetahuan) dengan segala derivasinya (pecahannya) yang mencapai lebih dari 800-an kali. Belum lagi ungkapan lain yang dapat memiliki kesamaan makna menunjuk arti pengetahuan, seperti: kata al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, aldzikr, dan lain sebagainya. Kata ‘ilm menurut para ahli bahasa Alquran mengandung arti “pengetahuan akan hakekat sesuatu”.

Dari kata kunci inilah, kita dapat mulai melacak bagaimana Alquran memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan di antaranya : Pertama, wahyu Alquran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun, al-’Alaq [96]: 1-5, tergambar dengan jelas betapa kitab suci Alquran memberi perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah Swt menurunkan petunjuk pertama kali terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut menggunakan kata ”Iqra”. Makna perintah tersebut bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra’ adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman. Itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang, makna iqra’ dekat dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan pemahaman).

Kedua, tugas manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam surat alBaqarah [2]: 30-31. Ketiga, Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Ajaran ini tertuang dalam surat Thaha [20] : 114. Dalam ayat tersebut diajarkan salah satu doa yang harus dipanjatkan oleh setiap Muslim untuk memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu pengetahuan. Dari ayat ini juga dapat dipetik pelajaran bahwa Alquran mengajarkan, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai tinggi dan harus dilakukan oleh setiap Muslim sepanjang hidupnya. Maka kalau pada masa modern dikenal istilah pendidikan seumur hidup (long live education), maka Islam sejak awal menekankan kepada umatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Etos untuk terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa yang disebut belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada usia tertentu atau dalam formalitas satuan pendidikan tertentu.

Sepanjang hayat masih di kandung badan, maka kewajiban untuk terus menuntut ilmu tetap melekat dalam diri setiap muslim. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kehidupan terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju kemajuan. Maka, kalau seorang Muslim tidak terus menambah pengetahuannya jelas akan tertinggal oleh perkembangan zaman. Alquran jelas membedakan antara orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Zumar [39] : 9, yaitu ”… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Keempat, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam surat al-Mujadalah [58]: 11. Dari ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan dan kesuksesan hidup hanya milik orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan maka tidak akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah swt. Sebaliknya, bagi orang yang hanya berilmu saja tanpa disertai iman maka juga tidak akan membawa manfaat bagi kehidupannya, termasuk di akhirat kelak. Pesan lain Romo Kiai yang tidak kalah pentingnya adalah agar setiap santri istiqamah dalam bermujahadah.

Memaknai Mujahadah
Setiap santri Pesantren Sunan Pandanaran pasti mengetahui apa itu mujahadah, yang minimal mereka laksanakan setiap seminggu sekali, yaitu pada Kamis malam dan Jum’at pagi. Dengan bermujahadah, pesan moral seperti apa yang hendak Romo Kiai ajarkan kepada para santrinya? Dari yang selalu Beliau sampaikan kepada para santri, paling tidak ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu: Pertama, berusaha sungguh-sungguh. Pesan moral yang ingin Beliau ajarkan kepada para santri adalah, cita-cita mulia tidak mungkin tercapai tanpa kesungguhan. Ini sesuai dengan makna kebahasaan mujahadah yang mengandung arti ”sungguh-sungguh”.

Saya masih selalu ingat bagaimana Beliau menekankan agar bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup dan akan mengecam santri yang malas dan banyak tidur. Kedua, mengajarkan kemandirian. Dengan bekal mujahadah, setiap santri dididik untuk dapat berkhidmad kepada Alquran secara mandiri. Maksudnya tidak menggantungkan uluran tangan orang lain, tetapi berserah diri kepada Allah swt. Tekad yang kuat, usaha sungguh-sungguh dan bertawakkal kepada Allah Swt itulah resep yang selalu Beliau ulang untuk dapat diresapi para santri.

Ketiga, kekuatan doa. Dengan bermujahadah, Romo Kiai Mufid ingin mengajarkan kepada para santri bahwa pintu pertolongan Allah tidak pernah terkunci, hanya perlu didatangi secara istiqomah. Terkadang pintu pertolongan dari-Nya harus diketuk, dan itulah fungsi berdoa. Dengan berdoa secara sungguhsungguh setiap niat baik insya Allah akan mendapat ridha Allah swt. Firman Allah, “Tuhanmu tidak akan mempedulikan hidupmu kalau bukan karena doa-doamu…” (al-Furqan [25]: 77). Wallahu a’lam.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

* Dr. Ali Nurdin merupakan alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta