Melukis dari Dalam

Kumis tebal, kulit sawo matang cenderung keling mengkilat, dan kerap memegang kuas atau pena. Profil ini gampang ditebak identitasnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Nuruddin BHB alias Bin Haji Baharuddin, kaligrafer legendaris Pandanaran. Pak Kumis, begitu panggilan akrabnya, selain dikenal sebagai seorang guru Quran Hadist, juga populer sebagai sosok pelukis khat yang selalu berkiprah di setiap even Pandanaran di masa orang-orang belum banyak kenal komputer; Khataman, Isra’ Mi’raj, Perpisahan, dst.

Pria kelahiran Cirebon ini dengan gaya khasnya selalu menggores kuas demi membuat sebuah maha karya Kaligrafi Arab. Melanglang buana dari kota ke kota pun pernah Beliau jalani saat masih dalam kembara semasa bujangan. Baginya, lukisan kaligrafi adalah cermin suasana hati terdalam. Refleksi perasaan. Sebab mata pena bukan sekedar alat. Dari situlah mengalir suara hatinya.

Salah satu kisah uniknya adalah saat didawuhi oleh almaghfurlah KH Mufid Mas’ud membuat kaligrafi. Pak Kumis bingung sebab al-Mukarram tak menyebut harus menulis ayat atau hadist apa. Salah pilih ayat kan bisa berabe. Ide tulisan akhirnya diperoleh saat melintas di Komplek II PPSPA. Khat kaligrafi “ar-Raudlatul Munawwarah li Tahfidzi Kitabillahi wasshalatu ‘ala khairil bariyyah” yang ada di selasar ndalem pun Beliau tulis untuk memenuhi titah Pak Kiai. Walhasil, karya itulah kini yang terpampang di ruang pengajian Huffadz Komplek I.

Lantas, apa kuncinya dalam berkaligrafi?

“Melukis dari dalam”, demikian jawabnya penuh arti.

Maknanya, silakan pembaca telaah sendiri, yang barangkali bisa dicerna dari lukisan-lukisan kaligrafi Pak Kumis.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012