Merangkul Umat dengan Keteduhan (Dakwah dengan Pendekatan Budaya ala KH. Mufid Mas’ud)

Eksisnya Sunan Pandanaran salah satunya karena sokongan warga sekitar. Kesadaran akan hal itu telah diwujudkan oleh Kiai Mufid Mas’ud (Bapak) semenjak awal berdirinya PPSPA hingga Beliau wafat, dan selanjutnya dipatrikan oleh generasi penerus. Bapak memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana cara interaksi sosial yang teduh dan dinamis lewat tindakan nyata. Ini cermin dari adaptasi dan penghargaan Beliau terhadap dinamika sosial-budaya dan keberagamaan masyarakat. Contoh kecil, setiap ada warga meninggal dunia, Bapak selalu berupaya melayat sekalipun tidak diundang. Beliau tidak melihat orang yang meninggal itu shalat atau tidak. Sebab itu urusan personal yang bersangkutan dengan Sang Khaliq. Asalkan muslim, Bapak akan datang ta’ziyah sebagai wujud kedukaan dan persaudaraan antar insan.

Di area dakwah, Bapak tak abai untuk memberikan penanaman nilai ruhani kepada penduduk sekitar. Setiap diundang pengajian warga, jika tak ada aral berarti, Bapak selalu menyanggupi hadir. Pengajian warga sekitar selalu lebih diutamakan. Bukti betapa usaha merangkul warga dekat, jauh lebih penting dari pada “menyirami tanaman di wilayah yang jauh”. Dalam perspektif psikososial, masyarakat terdekat lebih berpotensi menghadirkan kenyamanan dan kepedulian saat kita membutuhkannya. Tercatat setidaknya digelar dua kali pengajian selapanan dalam satu bulan, khusus untuk masyarakat. Di luar itu, peranan Ibu Nyai Hj Jauharoh juga tak kalah pentingnya. Ibu Jauharoh gigih dan tak kenal lelah mendampingi
dakwah sang suami. Ibu istiqamah mengadakan shalat tasbih, tahlil, dan pengajian kepada masyarakat.

Pendekatan Persuasif

Hal yang cukup menarik dari KH Mufid. Bila ada warga yang melanggar syari’at, seperti tidak shalat atau memelihara anjing/babi, Bapak tidak pernah menegur secara verbal. Alih-alih memarahi, Beliau justru mendekatinya secara personal. Bila kebetulan dia berprofesi sebagai sopir, warga tersebut akan diajak bepergian (dijadikan sopir). Pada akhirnya orang tersebut merasa malu dengan sendirinya, hingga akhirnya kembali ke marka agama. Demikianlah pendekatan persuasif ala KH Mufid; halus, efektif, dan jauh dari kesan menghakimi orang lain.

Hal yang cukup menarik dari KH Mufid. Bila ada warga yang melanggar syari’at, seperti tidak shalat atau memelihara anjing/babi, Bapak tidak pernah menegur secara verbal. Alih-alih memarahi, Beliau justru mendekatinya secara personal.

Hubungan timbal balik, pesantren dan masyarakat, mendapat perhatian memadai. Agenda Khitanan Massal bagi warga kurang mampu, istiqamah dilakukan sehingga membekas di hati warga. Sikap kedermawanan Bapak juga terwujud dalam pemberian zakat kepada jamaah anggota pengajian. Di lain sisi, pondok juga memberikan ruang partisipasi bagi warga. Misalnya, saat pembangunan Masjid Komplek I, Bapak melibatkan tukang-tukang dari warga sekitar. Inilah bentuk usaha mendekatkan warga terhadap pondok, sehingga mereka turut bangga, ikut merasa memiliki keberadaan PPSPA berikut segala dinamika di dalamnya.

Sunan Kalijaga
Pada ranah seni-budaya, Bapak tidak frontal memberangus budaya tempatan, apapun bentuknya. Beliau tidak pernah berkomentar terhadap jathilan misalnya. Diam adalah sikap bijak Beliau menyikapi kebiasaan masyarakat yang belum “melek” agama. Hal itu tetap dibarengi dengan upaya persuasif bersifat informal untuk memberikan dakwah islam. Sikap dan tindakan sosial Bapak mengingatkan kita kepada Sunan Kalijaga. Pilihan untuk meluruskan budaya lokal yang mungkin menyerong dari jalan Islam secara adaptif dan damai, merupakan strategi mujarab Sunan Kalijaga. Yakni pendekatan santun dan tidak konfrontatif. Budaya-nya bukan sama sekali dihilangkan, tetapi dimodifikasi agar tetap lestari namun selaras dengan tuntunan Ilahi. Awalnya, mungkin akan timbul semacam prilaku sinkretis akibat benturan dogma budaya dan doktrin agama. Namun, dengan pendekatan keagamaan yang simpatik, secara perlahan prilaku itu akan kikis seiring bertambahnya ilmu agama yang dimiliki masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat oleh KH Mufid, dalam batas tertentu, sejalur dengan metode dakwah Rasulullah Saw. Pesantren senantiasa menjaga iklim silaturrahmi terhadap masyarakat sehingga menumbuhkan rasa “handarbeni”. Pada ceruk terdalam, pendekatan kultural adalah cerminan jalan budaya “menang tanpa ngasorake”. Itulah jalan dakwah penuh kesantunan yang diserukan Allah kepada Nabi Muhammad saw dalam membangun peradaban Islam.

Terakhir, ada satu kisah unik. Bapak selalu menyisipkan lagu-lagu perjuangan saat ceramah. Selain karena audiens didominasi kaum tua yang besar di zaman kemerdekaan, Beliau agaknya juga hendak memantik kembali semangat perjuangan lewat lagu heroik. Bapak ingin agar kita tak pernah patah asa, melainkan selalu semangat meniti kehidupan, kini dan di esok hari. Seolah Beliau ingin mensehati kita: tanpa spirit, kita tak akan pernah mendaki bukit.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Sumber : KH. Syarifuddin dan Ustadz Jazim Hamidi