Berdialog dengan Sang Pemberi Syafa’at

Alquran dan Dalailul Khairat. Dua hal ini tak bisa dilepaskan dari sosok KH Mufid Mas’ud. Dalam berbagai kesempatan, Beliau menekankan secara eksplisit bahwa dalam menjalani kehidupan, Alquran harus menjadi senjata di tangan kanan dan Shalawat adalah senjata di tangan kiri. Kalimat tersebut betul-betul diucapkan oleh Beliau dalam berbagai kesempatan, menjadi kiasan bahwa keduanya harus dipegang teguh; dipelajari dari guru yang sanad-nya berkesinambungan sampai Nabi Muhammad Saw dan diamalkan semaksimal mungkin. Dalam rekam jejaknya, KH Mufid menghafalkan Alquran kepada Romo KH Abdul Qodir Munawwir, KH Muntaha, dan KH Dimyati (Comal). KH Mufid juga menerapkan dawuh dari KH Mukhlash (Pemalang) bahwa seorang Hafidzul Quran harus memperbanyak bacaan shalawat.

Walhasil, Kiai Mufid sangat rutin mengamalkan berbagai macam shalawat yang dibaca pada berbagai mujahadah. Salah satu shalawat yang sangat Beliau amalkan adalah Dalailul Khairat karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Jazuli.Thariqah yang ditempuh oleh KH Mufid sendiri adalah Thariqah Mulazamati Qiraatil Quran wa Dalaailil Khairat. KH Mufid Mas’ud

mendapatkan sanad Dalailul Khairat dari KH Ma’ruf (Surakarta), seorang mursyid Thariqah Syadziliyah. Di sisi lain, KH Mufid juga mendapatkan ijazah Dalailul Khairat dari Prof. KH Muhammad Adnan (Surakarta), KH Abdul Hamid (Pasuruan), Dr. Sayyid Muhammad Alwi AlMaliki (Makkah), Syaikh Yasin (Makkah), dan Habib Muhammad Ba’abud (Lawang). Ijazah dari KH Abdul Hamid (Pasuruan) termasuk unik sebab KH Mufid mendapatkannya tanpa meminta, melainkan diberi langsung oleh KH Abdul Hamid.

Sanad lengkap Dalail KH Mufid sendiri adalah : KH Ma’ruf -> KH Abdul Mu’id -> KH Muhammad Idris -> Sayyid Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali bin Yusuf al-Harriri al-Madani ->Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Murghiby -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al-Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al-Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy -> Sayyid Ahmad al-Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas ash-Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as-Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz at-Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman (penulis kitab Dalailul Khairat)

Usaha Lahir dan Batin

KH Mufid tidak meraih kesuksesan tanpa kerja keras. Semasa kecil, Beliau adalah orang tak berpunya, bukan dari kalangan pesantren, dan tumbuh dalam suasana perang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kendati demikian, dengan segala kekurangannya, Beliau tetap tekun berguru kepada berbagai Kiai untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan menghafalkan Alquran. Bahkan, saat masih nyantri, Kiai Mufid kecil hanya nderek dan tak pernah mempunyai uang saku. Semasa menghafalkan Alquran, Kiai Mufid terus melakukan riyadlah, yakni laku prihatin seperti mengkhatamkan Alquran 40 hari disertai puasa dan sebagainya. Ketekunan Kiai Mufid tak surut setelah selesai menghafalkan Alquran. Beliau tetap istiqamah riyadlah saat mulai meraih kesuksesan. KH Mufid selalu istiqamah dalam tadarus Alquran dan Dalailul Khairat.

Semasa hidupnya, Beliau tak pernah alpa mengkhatamkan Alquran walau sedang dalam perjalanan. Sementara itu, dalam kesehariannya, Dalail selalu dibaca setelah terlebih dahulu menyelesaikan tadarus Alquran sekian juz per hari. Pada bulan Ramadlan, selama 30 tahun (atau bahkan lebih), KH Mufid rutin mengkhatamkan Dalail di dua tempat. Awalnya, saat Kiai Mufid masih muda, Beliau mengkhatamkan Dalail di Masjid Jami’ Singasari Malang dan dilanjutkan di masjid Komplek III PP Sunan Pandanaran setelah Kiai Mufid semakin lanjut usia.

Beliau betul-betul “berdialog” kepada Allah Swt lewat Alquran dan “berdialog” dengan Nabi Muhammad Saw lewat Dalail hingga mendapatkan berbagai karunia luar biasa yang semuanya tentu saja terjadi atas izin Allah Swt. Salah satu karunia tersebut adalah KH Mufid Mas’ud mampu berulang kali menunaikan ibadah haji dan membangun pesantren. Pada medio 1990-an, Kiai Mufid bahkan selalu beribadah haji setiap tahun genap dan membangun pesantren pada tahun ganjil.

Posisi Wirid Dalail

Sedemikian pentingnya wirid Dalail Khairat bagi KH Mufid Mas’ud bisa dilihat pada wasiat sang pendiri Pandanaran. Wasiat tersebut Beliau ucapkan dalam bahasa Jawa, “Saben dino kamis, santri lanang dianjuri ziarah kuburku, luwih tak arep-arep seminggu moco Quran seprapat Quran, ono ning gutha’an. Dalail 4 khataman (sesasi). Santri wadon jatah wektu jumat isuk, amaliyah podo karo santri lanang.”

Artinya kurang lebih adalah “Setiap hari Kamis, santri putra saya anjurkan ziarah kuburku, saya sangat mengharapkan bacaan Alquran, setiap minggu seperempat Alquran. Kemudian bacaan Dalail 4 kali khataman dalam 1 bulan. Santri putri saya beri waktu setiap Jumat pagi, amaliyah sama seperti santri putra”.

Dari wasiat tersebut bisa dibaca bagaimana posisi Dalail, yakni Shalawat Nabi dalam jiwa KH Mufid Mas’ud. Pasti bukan sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata bila sang maha guru sampai berwasiat untuk bisa mengkhatamkan Dalail, bahkan empat kali dalam sebulan. Bacaan Dalail hanya bisa dikalahkan oleh Kalamullah. Dari wasiat Beliau, agaknya bisa dipahami bahwa bacaan shalawat merupakan bentuk cinta seorang muslim (apalagi penghafal Alquran) kepada Rasulullah Saw. Bukan sekedar shalawat dalam bentuk seremonial belaka, melainkan betul-betul bacaan shalawat yang dihayati sampai relung jiwa terdalam. Bacaan shalawat yang menghadirkan Rasulullah Saw dalam hati. Tak heran bila KH Mufid sangat mengharapkan kiriman bacaan Alquran dan Dalail. Apa yang diperjuangkan almaghfurlah bisa dilihat sekarang. Berdiri, tumbuh, dan besarnya pesantren Sunan Pandanaran tak lepas dari usaha dan riyadlah Kiai Mufid lewat Alquran dan shalawat.

Dengan banyak membaca Alquran dan Shalawat, semoga kita semua dapat mendapatkan manfaatnya di dunia dan di akherat, serta mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad Saw kelak di hari kiamat, Amin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi Agustus 2013, dengan sumber utama adalah KH Mu’tashim Billah

Cinta Membawa Mereka Ziarahi Makam

Sejuk dan menyejukkan. Begitu suasana yang segera terasa ketika menginjakkan kaki di area makam KH. Mufid Mas’ud. Rerimbunan pohon dan bunga di sekitar areal makam dipadu dengan lantunan ayat-ayat Alquran dan shalawat menciptakann kesejukan di hati.

Ketika hendak memasuki area makam KH. Mufid, peziarah terlebih dahulu melewati sebuah jembatan kayu yang klasik dan eksotis. Dari jembatan itu, tampak air mengalir deras di sela-sela bebatuan. Gemericik air sungai terdengar jelas.

Air yang menimbulkan kesegaran berpadu dengan rimbunnya pohon menciptakan suasana yang menentramkan. Betapa tidak, Alquran sendiri menegaskan bahwa air lah yang dijadikan Allah untuk menghidupkan segala sesuatu. Air pula yang digunakan untuk menggambarkan indahnya surga, yaitu air yang mengalir di sungai-sungai di bawah surga firdaus.

Area makam semakin tampak apik tatkala peziarah memasuki pelataran makam. Aneka bunga tumbuh di sana. “Kok suasananya seperti di taman bunga ya?”, gumam seorang peziarah. Bunga-bunga itu tampak selalu basah dan segar. Diletakkan berjajar rapi di dalam pot-pot kecil di sepanjang pelataran yang bersih. Suasana makam jauh dari kesan kumuh dan angker. Bangunan makam pun didesain secara modern. Atap berarsitektur joglo yang disangga dengan beberapa tiang. Lantainya dari keramik mengkilat. Sebagiannya ditutup karpet merah dan hijau. Penerangan makam pun sudah sangat memadai. Plus area parkir yang cukup luas.

Tak Pernah Sepi Peziarah

Dalam prosesi membaca surat Yasin, doa, atau tahlil, para peziarah biasanya duduk melingkar di makam KH Mufid. Area makam dapat menampung ratusan orang, tanpa pagar besi pembatas. Sehingga para peziarah bisa berada sedekat mungkin dengan makam. Seolah ada pesan bahwa kedekatan antara almarhum dengan orang-orang di sekelilingnya senantiasa terjaga. Bagian dalam makam dibagi menjadi dua. Bagian selatan untuk laki-laki dan utara untuk wanita.

Menurut pengurus makam, makam KH. Mufid tidak pernah sepi dari peziarah. Terutama para santri huffadz. Bahkan para santri senior kerap menginap untuk tirakat khataman Alquran di hadapan sang Guru. “Karena banyaknya orang yang baca Alquran di sini, maka di sana-sini banyak ditemui mushaf AlQur’an”, kata salah seorang pengurus makam.

Ia melanjutkan, pada hari Kamis dan Jumat jumlah santri yang berziarah jauh lebih banyak. Pun demikian dengan alumni dan masyarakat sekitar. Ramainya peziarah disebabkan oleh banyak hal. Sebagian alumni mengakui bahwa pengaruh pendidikan KH Mufid kepada para santrinya membekas begitu dalam.

Itulah sebabnya, mengapa mereka harus menziarahi makam Beliau. Ikatan antara KH Mufid dengan santri bukan didasari atas hutang budi, tetapi dilandasi cinta antara murid dan guru. Pesan-pesan yang Beliau sampaikan kepada para santri terus hidup dalam jiwa mereka.

Para santri KH Mufid tidak meragukan keikhlasan Beliau dalam mendidik. Islam sendiri mengajarkan, bahwa jika amal perbuatan dilandasi atas keikhlasan, maka pelakunya seolah hidup sepanjang masa. Meski KH Mufid telah menghadap Sang Pencipta, namun Beliau tetap hidup di hati keluarga dan santri Beliau.

Memaknai Kembali Pesan-pesan Romo KH Mufid Mas’ud

Pada bulan September tahun 1991, saya diantar oleh ayah saya berpamitan kepada Romo Kiai Mufid Mas’ud, sekaligus mohon doa restu untuk dapat melanjutkan kuliah di Jakarta. Saat itu, hati saya berdebar-debar menunggu respon Beliau. “Kowe tak izinke, ning adimu ora usah melu kowe” (kamu saya izinkan tapi adikmu tidak usah ikut kamu). Akhirnya saya mantap melangkah untuk meneruskan studi di Jakarta. Sementara adik saya, Dalhari, mengikuti pesan Romo Kiai ke Jawa Timur. Saya percaya setiap santri, apalagi yang huffadz, pasti memperoleh isyarah, amanah, pesan -atau apalah namanya- baik langsung maupun tidak langsung, dari Romo Kiai. Hal-hal tersebut begitu penting untuk kita renungkan kembali sebagai bekal untuk melanjutkan estafet perjuangan Beliau dalam berhidmat kepada Alquran khususnya, dan Islam pada umumnya. Di sisi lain yang juga menarik adalah, bahwa pesan yang ditujukan kepada masing-masing santri tidak sama. Beliau memberi arahan yang belakangan disadari oleh masing-masing santri sebagai hal yang tepat untuk dijadikan lahan pengabdian.

Dalam berspektif ilmu pendidikan modern, inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “guru visioner”. Yang bukan hanya memberi pengetahuan dan wawasan, melainkan juga mampu menginspirasi agar setiap murid atau santri nantinya dapat memberikan pengabdian terbaik pada bidang masing-masing. Ada beberapa pesan Beliau -sepanjang yang saya dapat tangkap- yang selalu relevan untuk menjadi bekal kehidupan.

Menuntut Ilmu Tiada Henti
Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari. Menghafal Alquran secara lancar adalah sebuah kewajiban khususnya bagi santri huffadz, tetapi hanya berhenti di menghafal saja belum cukup untuk dapat menjadi bekal berhidmat secara ideal terhadap Alquran. Maka setiap usaha untuk lebih dapat memahami, menghayati, dan pada akhirnya mengamalkan isi kandungan Alquran adalah cita-cita Romo Kiai yang harus terus digelorakan oleh setiap santri. Harapan Beliau jelas merupakan manifestasi dari ajaran Alquran.

“Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghaib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari.”

Di sini saya berikan ilustrasi bagaimana Alquran mendorong orang agar terus menuntut ilmu. Apresiasi atau perhatian Alquran terhadap ilmu pengetahuan dapat kita mulai dari melihat betapa seringnya kitab suci ini menyebut kata ‘ilm (pengetahuan) dengan segala derivasinya (pecahannya) yang mencapai lebih dari 800-an kali. Belum lagi ungkapan lain yang dapat memiliki kesamaan makna menunjuk arti pengetahuan, seperti: kata al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, aldzikr, dan lain sebagainya. Kata ‘ilm menurut para ahli bahasa Alquran mengandung arti “pengetahuan akan hakekat sesuatu”.

Dari kata kunci inilah, kita dapat mulai melacak bagaimana Alquran memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan di antaranya : Pertama, wahyu Alquran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun, al-’Alaq [96]: 1-5, tergambar dengan jelas betapa kitab suci Alquran memberi perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah Swt menurunkan petunjuk pertama kali terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut menggunakan kata ”Iqra”. Makna perintah tersebut bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra’ adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman. Itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang, makna iqra’ dekat dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan pemahaman).

Kedua, tugas manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam surat alBaqarah [2]: 30-31. Ketiga, Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Ajaran ini tertuang dalam surat Thaha [20] : 114. Dalam ayat tersebut diajarkan salah satu doa yang harus dipanjatkan oleh setiap Muslim untuk memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu pengetahuan. Dari ayat ini juga dapat dipetik pelajaran bahwa Alquran mengajarkan, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai tinggi dan harus dilakukan oleh setiap Muslim sepanjang hidupnya. Maka kalau pada masa modern dikenal istilah pendidikan seumur hidup (long live education), maka Islam sejak awal menekankan kepada umatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Etos untuk terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa yang disebut belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada usia tertentu atau dalam formalitas satuan pendidikan tertentu.

Sepanjang hayat masih di kandung badan, maka kewajiban untuk terus menuntut ilmu tetap melekat dalam diri setiap muslim. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kehidupan terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju kemajuan. Maka, kalau seorang Muslim tidak terus menambah pengetahuannya jelas akan tertinggal oleh perkembangan zaman. Alquran jelas membedakan antara orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Zumar [39] : 9, yaitu ”… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Keempat, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam surat al-Mujadalah [58]: 11. Dari ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan dan kesuksesan hidup hanya milik orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan maka tidak akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah swt. Sebaliknya, bagi orang yang hanya berilmu saja tanpa disertai iman maka juga tidak akan membawa manfaat bagi kehidupannya, termasuk di akhirat kelak. Pesan lain Romo Kiai yang tidak kalah pentingnya adalah agar setiap santri istiqamah dalam bermujahadah.

Memaknai Mujahadah
Setiap santri Pesantren Sunan Pandanaran pasti mengetahui apa itu mujahadah, yang minimal mereka laksanakan setiap seminggu sekali, yaitu pada Kamis malam dan Jum’at pagi. Dengan bermujahadah, pesan moral seperti apa yang hendak Romo Kiai ajarkan kepada para santrinya? Dari yang selalu Beliau sampaikan kepada para santri, paling tidak ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu: Pertama, berusaha sungguh-sungguh. Pesan moral yang ingin Beliau ajarkan kepada para santri adalah, cita-cita mulia tidak mungkin tercapai tanpa kesungguhan. Ini sesuai dengan makna kebahasaan mujahadah yang mengandung arti ”sungguh-sungguh”.

Saya masih selalu ingat bagaimana Beliau menekankan agar bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup dan akan mengecam santri yang malas dan banyak tidur. Kedua, mengajarkan kemandirian. Dengan bekal mujahadah, setiap santri dididik untuk dapat berkhidmad kepada Alquran secara mandiri. Maksudnya tidak menggantungkan uluran tangan orang lain, tetapi berserah diri kepada Allah swt. Tekad yang kuat, usaha sungguh-sungguh dan bertawakkal kepada Allah Swt itulah resep yang selalu Beliau ulang untuk dapat diresapi para santri.

Ketiga, kekuatan doa. Dengan bermujahadah, Romo Kiai Mufid ingin mengajarkan kepada para santri bahwa pintu pertolongan Allah tidak pernah terkunci, hanya perlu didatangi secara istiqomah. Terkadang pintu pertolongan dari-Nya harus diketuk, dan itulah fungsi berdoa. Dengan berdoa secara sungguhsungguh setiap niat baik insya Allah akan mendapat ridha Allah swt. Firman Allah, “Tuhanmu tidak akan mempedulikan hidupmu kalau bukan karena doa-doamu…” (al-Furqan [25]: 77). Wallahu a’lam.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010

* Dr. Ali Nurdin merupakan alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta

Sanad Ilmu KH Mufid Mas’ud

Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Imam Syafii pernah berkata, “Tiada ilmu tanpa sanad”. Pada kesempatan lain, Imam Mazhab yang sangat populer di Indonesia ini menyatakan, “Penuntut ilmu tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar di tengah malam, yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tak mengetahuinya”. Penyataan serupa pernah juga dilontarkan Al-Hafidz Imam Attsauri, “Sanad adalah senjata orang Mukmin, maka bila engkau tak memiliki senjata, dengan apa engkau membela diri?”. Berkata pula Imam Ibnu al-Mubarak, “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”. Masih banyak lagi pernyataan ulama-ulama terdahulu yang menegaskan pentingnya sanad dalam ilmu. Bahkan dalam tradisi ahli-ahli hadis, sanad ilmu merupakan hal yang wajib dimiliki oleh penekun ilmu hadis. Mereka tidak mengakui suatu hadis dari seseorang kecuali bila orang itu mempunyai sanad yang jelas.

Demikianlah pentingnya sanad ilmu bagi para penekun ilmu-ilmu Islam. Disiplin ilmu keislaman apapun, sanadnya akan bermuara kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Ilmu hadis bermuara kepada Beliau, pun demikian dengan ilmu tafsir dan tasawuf. Karena begitu kuatnya tradisi sanad tersebut, maka sudah sewajarnya apabila para penuntut ilmu di Pandanaran mengetahui sanad ilmu yang dimiliki oleh al-Maghfurllah KH Mufid Mas’ud. PP Sunan Pandanaran dikenal sebagai pondok takhasus li tahfizdil Qur’an. Sementara itu, KH. Mufid Mas’ud belajar Al-Qur’an pada tiga guru AlQur’an, yaitu: pertama, KH. Abdul Qodir Munawwir al-Hafidz (Krapyak); kedua, KH. Muntaha al-Hafidz (Wonosobo); dan ketiga KH. Dimyathi al-Hafidz (Comal). Sanad dari ketiga guru tersebut menyambung kepada KH. Munawwir al-Hafidz (Krapyak).

Selain mengajar AlQur’an, KH. Mufid Mas’ud juga melaksanakan dawuh Mbah KH. Mukhlash (Panggung, Tegal Jawa, Tengah), bahwa seorang santri penghafal Al-Qur’an harus memperbanyak bacaan shalawat Nabi Muhammad saw. KH Mufid mendapatkan ijazah dari guru kitab Dalail al-Khairat, karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Saran KH. Mukhlash pun Beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya, di mana KH. Mufid memperoleh ijazah Dalail dari KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta, Jawa Tengah. KH. Ma’ruf juga seorang guru Qismul ‘Ulya di Manbaul Ulum Surakarta, serta seorang mursyid (pemimpin) Tarekat Sadzaliyah di daerah itu.

“Di samping mendapatkan ijazah dari Beliau, saya juga diperintahkan untuk menulis sanad, mulai dari pengarang Dalail al-Khairat sampai dengan almarhum Romo KH. Ma’ruf”, ungkap KH Mufid dalam suatu kesempatan. Di lain pihak, KH. Mufid Mas’ud juga mendapatkan ijazah Dalail al-Khairat dari KH. Profesor Muhammad Adnan asal Surakarta, yang kala itu bermukim di Kotabaru Yogyakarta, setelah pensiun dari PTAIN Yogyakarta.

Di samping itu, KH Mufid, tanpa Beliau meminta, juga diijazahi Dalail al-Khairat oleh almarhum mbah KH. Hamid asal Pasuruan yang masyhur sebagai min auliaillah wa ulamaillah (termasuk wali dan ulama Allah). “Pernah juga saya mohon ijazah Dalail al-Khairat kepada guru saya, Dr. Assayyid Muhammad Al Maliki di Makkah” cerita KH. Mufid kepada santri-santrinya. Sanad lengkap Dalail al-Khairat almarhum Romo KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren Jenengan Surakarta adalah sebagai berikut : KH. Ma’ruf Surakarta -> KH. Abdul Mu’id (Klaten) -> KH. Muhammad Idris -> Sayyid Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali bin Yusuf al Hariri al Madani -> Sayyid Muhammad bin Ahmad al Murghibiy -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy -> Sayyid Ahmad al Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas Ash Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz At Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli (penulis kitab Dalail al-Khairat). Dengan ijazah dari para masyayikh yang termasuk ulama besar tersebut, hadlaratussyaikh KH. Mufid Mas’ud merasakan manfaatnya yang tidak dapat Beliau paparkan dengan lisan. Hanya saja, Beliau tak henti-hentinya menganjurkan agar para santrinya membiasakan wiridan Al-Qur’an dan Dalail al-Khairat agar mendapat syafa’at Al-Qur’an dan syafa’at Sayyidul Anam, Rasulullah saw.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010