Di Balik Dapur Khatmil Qur’an

Tiga, dua, satu … Selepas Dzuhur, Rabu, 3 Juni 2015. Seluruh panitia Khatmil Quran putri menempati posnya masing-masing di areal Komplek II. Gladi Resik dimulai, tepat pada Hari-H. Ketua Panitia memantau penuh arti. Harapan dan kecemasan hadir bersamaan. Harapan, sebab inilah testing rangkaian latihan khataman demi terakhir dari suksesnya acara. Kecemasan, adalah kekhawatiran bilamana terjadi hal-hal yang tak sesuai rencana dalam setiap aspek prosesi khataman.

Sekitar setengah kilometer dari Komplek II, di halaman MA Sunan Pandanaran, berlangsung pembagian kartu untuk para wali khatimat. Kartu inilah “paspor” mereka untuk memasuki panggung khataman. Semakin kartu dibagikan, semakin jelas berapa ratus orang yang akan memadati Komplek II. Setiap khatimat hanya mendapat dua kartu masuk. Satu untuk diberikan kepada wali khatimat yang putra dan selebihnya untuk wali putri. Hal ini dimaksudkan agar para wali santri yang hendak masuk dapat terorganisir. Realistis saja, ruangannya Karena ini acara yang terbilang eksklusif. Khatmil Quran putri dengan latar yang terbatas”, kata Anwar Kurniawan, koordinator acara khataman putri Tata letak lokasi acara Khatmil Qur’an putri ini pun terbilang menarik. Struktur bangunan berbentuk “L” dengan mushola (panggung khatimat) sebagai titik sentralnya, serta lanskap memanjang ke arah timur (tempat wali khatimat bin Nadzri), dan sedikit melebar ke arah utara (tempat wali khatimat Juz ‘Amma).

Pintu masuk para wali khatimat pun dibagi menjadi dua jalur, dengan harapan memudahkan para wali khatimat supaya langsung menuju tempat duduk yang telah disediakan sesuai petunjuk kartu. Jalur pertama (gerbang timur), untuk akses masuk wali khatimat bin Nadzri. Dan jalur kedua (gerbang utara), untuk arus masuk wali khatimat Juz ‘Amma. Masing-masing tempat duduk para wali khatimat akan terbelah di tengahnya, antara wali khatimat yang putra dan putri. Ini difungsikan sebagai arus keluar-masuk para peserta, tamu undangan, dan wali khatimat itu sendiri.

Sementara, tampak di tengah-tengah antara tempat duduk wali khatimat putra dan putri tersebut, berjajar rapi para anggota santri-siswi (HTT). Mereka mempunyai fungsi ganda. Pertama, ketika menjelang prosesi, para anggota HTT ini akan melayani atau menjemput para wali khatimat untuk diantar menuju kursi masing-masing sesuai dengan yang tertera dalam kartu yang telah dibagikan. Kedua, mereka akan berdiri tegak sebagai pengaman arus manakala menjelang prosesi selesai.

Denah Khataman Putri PPSPA 2015

Dari data yang dirilis oleh panitia khatmil quran, sedikitnya empat puluhan anggota HTT dikerahkan untuk berkontribusi dalam acara khataman PPSPA putri ke-41 ini. Dengan kedisiplinan penuh mereka dilatih sedimikian rupa, sehingga benar-benar handal ketika prosesi berlangsung. “Jauh-jauh hari mereka (HTT) telah diberikan sosialisasi terkait tugas yang akan dijalani. Semua anggota HTT telah dibagi sesuai posisinya masing-masing. Mulai penjaga gerbang masuk, petugas pengaman arus keluarmasuk, hingga penjaga titik-titik krusial untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan”, ungkap Wardani, pimpinan keamanan putri.

Pukul 14.45 WIB, gladi bersih selesai. Para khatimat meninggalkan lokasi untuk mempersiapkan diri untuk nanti malam. Sementara, para personel HTT dan beberapa panitia tak pindah koordinat demi menyimak taklimat Pak Ketua, briefing terakhir. Pak Ketua puyeng, tiga jam lagi acara dimulai. Sementara beragam masalah datang berseliweran dan wali santri mulai datang, ia kudu memastikan kesiapan anakanak HTT yang masih berusia belasan. “Jagalah sikap dan etika kepesantrenan. Tunjukkan kalau kalian tangguh meski bekerja ekstra. Bersikap seramah mungkin kepada para tamu. Siapapun itu harus dilayani dan dihormati”, titah H. Muhammad Rif’at, sang ketua panitia. Belajarlah, lanjutnya, dari sejarah Perang Uhud. Penuhi tanggung jawab sesuai posisi, jangan tinggalkan pos, apapun yang terjadi.

Selepas briefing, seluruh panitia putri termasuk anggota HTT tak lantas istirahat. Pekerjaan masih menanti. Mereka segera bergegas menata kursi tempat duduk para wali khatimat yang tidak sedikit jumlahnya. Ini sebagai konsekuensi lokasi Khatmil Quran putri melibatkan area MI Sunan Pandanaran. Sementara, lokal kelas VI MI Sunan Pandanaran saat itu sedang melaksanakan Ujian Madrasah yang mutlak tidak bisa ditinggalkan. Untungnya, mereka tak panik karena sudah punya persiapan sebelumnya. Minimal paham terlebih dahulu, bahwa kali ini kudu bekerja ekstra, sebab harus berbagi waktu dengan pelaksanaan ujian sekolah MISPA pada tanggal 1-4 Juni 2015. Sementara Khatmil Qur’an berlangsung tanggal 3 Juni 2015.

Suatu tugas yang membutuhkan ketangkasan dalam menyikapi situasi dan kelegowoan hati yang besar. “Yang krusial dan yang menjadi kekhawatiran adalah kondisi fisik teman-teman panitia. Karena waktu sangat minim untuk mempersiapkan teknis. Mulai dari pengkondisikan simaan puncak yang harus selesai lebih dini, hingga penataan tenda sekitar 3 unit serta kursi yang sedikitnya lima ratusan dalam tempo kurang dari dua jam”, terang Kurniawan. Itu pun, lanjutnya, selepas prosesi, malam itu juga kami harus segera merapikan kembali lokasi MISPA. Sebab paginya sudah akan diapakai untuk ujian hari terakhir MI Sunan Pandanaran. “Alhamdulillah teman-teman panitia sanggup diajak untuk agak sedikit lembur dalam arti sebenarnya”, imbuhnya.

Menjelang senja, Pukul 17.20 WIB penataan tenda serta kursi telah rapi. Seluruh panitia pun kemudian diinstruksikan supaya mempersiapkan diri menjelang acara puncak yang berlangsung ba’da Maghrib, alias hanya punya waktu kurang dari satu jam. Dan harus siaga  kembali ba’da maghrib pukul 18.15 dengan seragam rapi sesuai yang telah disepakati bersama. Sebab sesuai jadwal, acara Khatmil Qur’an putri akan dilangsungkan pada pukul 18.30 WIB. Meski demikian, mereka pun sedikit lega.

Tim HTT Putri, grup di balik suksesnya Khataman 2015

Suasana senggang tersebut mendadak surut ketika mereka sadar bahwa listrik padam. Artinya, seluruh hal yang berkaitan dengan aliran listrik pun sedikit mengganggu stabilitas. Akhirnya persiapan para panitia pun hanya sekenanya karena masih harus memastikan bahwa semua dapat berjalan meski listrik padam. Beruntung, mulai dari MCK yang meniscayakan stok air harus tetap stabil tak terlalu terintervensi oleh padamnya listrik. Sementara, beruntung pula sudah persiapan mesin tenaga diesel, jaga-jaga kalau listrik padam. Dan akhirnya prediksi pun menemui jodohnya. Dengan bantuan mesin tenaga diesel itu, beberapa arus listrik akhirnya masih bisa digunakan. Meski tidak semua. Hanya sound system, beberapa layar lebar, dan video shooting yang bisa berfungsi saat itu. Lampu penerangan tidak termasuk perangkat yang menyala.

Selepas Maghrib, pukul 18.40 WIB, MC memekikkan salam dengan microphone-nya kepada seluruh hadirin. Tanda bahwa acara Khatmil Quran putri ke-41 PPSPA telah benar-benar dimulai. Di ujung gerbang utara dan gerbang timur terlihat para wali khatimat, perlahan namun pasti, memasuki lokasi acara. Dengan tertib dan rapi para tamu nampak menuju tempat duduknya masingmasing sesuai petunjuk kartu wali khatimat sembari membawa kemasan berisi makanan ringan yang dibagikan oleh panitia setelah melintasi gerbang. Setelah semua wali khatimat memasuki arena Khatmil Quran, kedua gerbang pun ditutup oleh panitia. Antisipasi apabila ada wali khatimat yang terlambat datang, beberapa panitia pun dikerahkan supaya menjaga gerbang. Mereka kembali diingatkan, hanya yang mempunyai kartu resmilah yang diperbolehkan masuk.

Lantunan shalawat diiringi musik hadrah mulai menggema pertanda acara telah memasuki prosesi pemanggilan peserta menuju panggung. Panitia sibuk dengan posisi dan tanggung jawabnya. Para personel HTT mengarahkan setiap orang sesuai bloknya masing-masing sehingga alur arus massa dapat berjalan dengan baik. Sesuai taklimat Pak
Ketua, mereka membuktikan diri memang tangguh dan bisa diandalkan. Luar biasa!

*) Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2016

Sistem Baru untuk Menjaring Khatimin Berkualitas

Santri Pandanaran tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Mereka sedang mempersiapkan acara Khatmil Qur’an yang sedianya akan dilaksanakan pada 28 Juli 2010 mendatang. KH. Mu’tashim Billah mengingatkan panitia pelaksana bahwa hajatan Khatmil Qur’an ini merupakan bagian dari ibadah. Maka hendaknya tidak diniatkan untuk mencari keuntungan materi. Seluruh biaya operasional akan ditanggung oleh Pesantren. KH. Mu’tashim Billah juga mengharapkan adanya peningkatan kualitas peserta khataman. Beliau memberikan pengarahan kepada panitia supaya proses seleksi diperbaiki untuk menjaring peserta khataman yang berkualitas baik. Pengarahan ini, seperti diakui oleh pihak panitia, telah dilaksanakan sebaik-baiknya. Konsekuensinya, menurut mereka, jumlah peserta khataman menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pengurus Putri Komplek III, Wasithah, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Khatmil Qur’an Juz ‘Amma dan Binnadzri sudah dimulai sejak bulan Maret 2010. “Calon peserta hafalan juz 30 (Juz ‘Amma) sudah mulai disimak. Sementara peserta binnadzri sudah dites bacaan surat Yasin dan surat Kahfi”, jelas Wasithah. Lebih lanjut ia mengatakan, tahun ini jumlah peserta khataman Juz ‘Amma dan binnadzri mengalami penurunan dibandingkan tahun kemarin. Bukan karena jumlah pendaftar yang berkurang, tetapi disebabkan karena proses seleksi yang diperketat. Bacaan mereka harus lancar dan berdasarkan kaidah tajwid yang benar.

Seleksi calon peserta Khatmil Qur’an meliputi kualitas hafalan dan bacaan Al-Qur’an serta penguasaan praktek ibadah. Untuk kategori Juz ‘Amma meliputi praktek wudlu, shalat, hafalan wirid dan doa-doa setelah shalat. Sedangkan untuk kategori binnadzri ditambah hafalan surat Yasin dan Kahfi, tahlil dan doanya. Menurut ketua panitia Khatmil Qur’an 2010, Azka Sya’bana, melalui rentetan ujian tersebut diharapkan akan terjaring peserta khataman yang selain terbukti mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar, juga mampu menjalankan ibadah secara sempurna.

Sementara itu, di komplek Huffadz, proses seleksi peserta khataman juga sudah dimulai sejak bulan Maret lalu. Untuk santri putra calon peserta Khatmil Qur’an 30 juz bil ghaib, diwajibkan menghafal 30 juz sekaligus (glondongan) di depan H. Muslim Shofwan. Sedangkan santri huffadz putri disimak langsung oleh Ibu Nyai Hj. Sukaenah. Selain itu, santri huffadz putra maupun putri harus menyetorkan hafalannya sebanyak 30 juz kepada KH. Mu’tasim Billah. Sejauh ini, pihak panitia telah bekerja maksimal untuk menyukseskan Khatmil Qur’an 2010. Menurut Azka Sya’bana, khataman tahun ini harus lebih baik ketimbang tahun kemarin. “Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu menyukseskan acara ini. Dan kami memohon doa restu agar khataman tahun ini berjalan lancar,” kata Azka kepada Suara Pandanaran.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010