Berpijak pada yang Lokal untuk Membangun Peradaban Global

Berbagai kasus global menjadi tantangan serius bagi umat Islam. Terorisme selalu menjadi hantu seram. Tidak sedikit anak muda yang sedang disorientasi ketika mendapatkan suntikan semangat “jihad”, tiba-tiba menjadi aktor yang menghancurkan tatanan dunia : bom meledak, banyak nyawa yang sia-sia. Bagaimana umat Islam mesti menjawabnya? Berpijak pada yang lokal. Inilah gerakan yang mesti dibangun bersama, termasuk yang selalu digerakkan oleh Jama’ah Muballighin Sunan Pandanaran (Jamuspa). Nilai-nilai lokal dalam gerakan Jamuspa menjadi titik pijak dalam bergerak, membangun masyarakat, untuk kemaslahatan umat manusia. Berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya : masjid,mushola, majlis taklim, dan lainnya. Jamuspa tak mau berhenti, selalu bergerak di tingkat lokal untuk menguatkan jalan keberagamaan yang santun dan membahagiakan.

Semangat nguri-nguri tradisi ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) menjadi konsentrasi utama Jamuspa. Membumikan aswaja di tingkat lokal adalah menjawab tantangan global yang kompleks. Gerakan ini wujud nyata kaum santri memberikan kontribusi untuk peradaban Indonesia dan dunia. Inilah beraswaja yang berpijak pada yang lokal, tetapi menjadi ruh membangun tantangan global. Jamuspa, walaupun berada di tingkat lokal, tetapi semangat beraswajanya di era global menjadi bermakna strategis.

Bagaimanakah beraswaja di era global? Muhammad Al-Fayyadl (2015), melihat bahwa dengan mengetahui kekuatan dan daya tahan internal Aswaja, kita dapat mengukur seberapa jauh kekuatan tersebut mampu menghadapi tantangan-tantangan global. Tidak cukup memahami Aswaja semata-mata Aswaja sebagai paham keagamaan, sementara tantangan global yang dihadapi tidak mesti bersifat keagamaan. Paham keagamaan itu merupakan modal yang perlu di-upgrade agar dapat menjadi perekat bagi ikatanikatan sosial yang riil yang setiap saat mengalami proses pelapukan dan destruksi karena globalisasi yang mendorong individualisme, eksploitasi, kekerasan, dan oportunisme yang sempit.

Dengan berlandaskan pada sikap-sikap tawassuth, tawazun, dan i’tidal, maka keragaman pemahaman dan praktik keagamaan yang menjadi mozaik dari kaum Sunni di berbagai negeri akan dapat meregenerasi ikatan-ikatan sosial itu, dan memperkuat tidak saja persaudaraan seagama (ukhuwwah islamiyyah) tetapi juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah).

Aswaja, lanjut Fayyadl, tidak saja muncul sebagai ikatan keagamaan, tapi juga ikatan sosial baru. Seorang Muslim kulit langsat di pelosok Indonesia dapat menjalin ikatan dengan seorang Muslim kulit hitam dari Afrika Tengah, atau seorang muallaf kulit putih dari sebuah negeri di Eropa Barat. Perbedaan dan keragaman latar belakang ras, budaya, dan mazhab fiqh yang dianut menjadi kekuatan yang mempertemukan dan memungkinkan lahirnya solidaritas baru. Jamuspa, dengan nilai-nilai lokal yang melekat, menyajikan dan mengaktualisasikan aswaja sebagai jalan pikir dalam melakukan pribumisasi ajaran Islam, sekaligus menatap masa depan dengan jalan progresif dan mandiri. Jamuspa dengan berbagai pengajian, kajian kitab, dan diskusi dengan berbagai pakar, mampu berkreasi di tingkat lokal, tetapi langkah nyata yang dijalani sebagai jawaban di tengah tantangan global.

Globalisasi yang dimungkinkan oleh interaksi dan konektivitas di antara berbagai pihak, dapat memungkinkan Jamuspa untuk membangun ikatan-ikatan baru yang tak terduga di antara berbagai elemen penganut Aswaja di berbagai negeri. Lokalitas yang melekat kuat dalam Jamuspa justru menjadi pengikat sangat menarik, apalagi menjadi titik pijak lahirnya generasi muda yang beraswaja secara global. Bravo Jamuspa, lokalitasmu dalam beraswaja menjadi inspirasi manusia global hari ini. Buktikan langkah selanjutnya!