Merintis Rute Masyarakat Multikultur

Kita hidup di dunia yang semakin terpolarisasi oleh ketatnya identitas budaya, agama, politik, dan ekonomi. Artinya, semakin kita tidak fleksibel menjadi masyarakat global, semakin sulit kita untuk membangun masyarakat yang dibangun atas dasar kesopanan, kecerdikan, rasa hormat, dan kepercayaan di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Ini tentu saja menyedihkan karena hal itu merupakan petanda yang memungkinkan adanya keterlibatan masyarakat multikultural. Meski begitu, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengajari para santrinya nilai-nilai masyarakat multikultural melalui dialog lintas budaya dan agama.

Sejak pertama kali tiba di PPSPA, saya tersentuh oleh sambutan hangat kepada Volunteer in Asia (VIA) (saya termasuk di dalamnya) yang langsung dianggap sebagai keluarga. Betapa tidak, keluarga besar PPSPA begitu ringan dan sedia membantu sukarelawan dan bahkan teman-teman relawan VIA.

Tidak hanya itu, sikap menerima kami apa adanya, dan tidak menyuruh kami berpakaian atau mengekspresikan diri kami dengan cara tertentu, adalah nilai lebih dan rasa hormat yang tinggi yang ditunjukkan oleh PPSPA.

Dan, membolehkan semua sukarelawan VIA untuk mengajar di ruang kelas PPSPA semakin menunjukkan bahwa para guru dan staf PPSPA percaya bahwa siswa dapat berbaur dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda tanpa kehilangan kepercayaan mereka sendiri.

Saya jadi teringat ketika salah satu sukarelawan baru, perempuan, yang mengenakan gaun selutut ke PPSPA, senyatanya dia tetap diterima. Sebab, para santri mengerti bahwa dia berpakaian dengan cara sebagaimana lazimnya acara serupa dalam budaya di negara asalnya.

Lebih jauh, para santri di PPSPA begitu menghayati nilai-nilai kesopanan, kebaikan, menghormati perbedaan, dan kepercayaan, sehingga memungkinkan adanya keterbukaan bertukar pikiran antara dunia di luar Indonesia dengan para santri tentang budaya dan agama lain.

Sebagai volunteer pada tahun 2008-2009, tidak pernah ada momen ketika saya merasa dihakimi karena memegang kepercayaan agama yang berbeda. Bahkan, keingintahuan para santri dan guru tentang agama dan hubungan antar suku-bangsa di Amerika Serikat sangat mengesankan.

Dan, yang lebih menginspirasi lagi adalah keterbukaan mereka untuk mengevaluasi kembali stereotip yang biasa dimiliki orang Barat. Kami berdialog dan berdiskusi tentang kemungkinan kelompok minoritas untuk bertindak sebagai mediator dalam konflik antara agama mayoritas, kemudian mempromosikan gagasan untuk menghormati agama lain, dan berfokus pada tujuan bersama.

Ada banyak kenangan yang berkesan bagi saya selama berada di PPSPA. Beberapa di antaranya adalah ketika saya diundang untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban dan membantu memasak di hari raya Idul Adha serta menyaksikan para siswa berpawai ria di jalan-jalan dengan mengenakan kostum di malam takbiran sambil membawa obor.

Tentu saja, saya merasa bersyukur sekali karena keluarga besar PPSPA mau melibatkan saya di berbagai acara, baik yang bersifat kebudayaan maupun ritual keagamaan itu.

Pasalnya, pada tingkat yang lebih mendasar, hidup dalam komunitas multikultural dan terlibat dalam dialog antarbudaya adalah tentang berbagi makan malam, melakukan perjalanan bersama, menari, dan membuat kue pai bersama.

Akhirnya, antusiasme dimana para guru dan staf berinteraksi dengan budaya lain mendorong para santri untuk meneladaninya. PPSPA telah menetapkan fondasi bagi para santri untuk menjadi komunikator antar budaya yang hebat, tinggal bagaimana hal itu bisa semakin dilebarkan cakupannya dengan membuat grup diskusi lintas budaya, dialog antar kelompok daring menggunakan internet, dan berusaha menjadi salah satu peserta pertukaran pelajar.

Saya berharap PPSPA terus menghasilkan para pemikir kritis yang berpengetahuan luas dan berusaha membangun jembatan serta menutup kesenjangan antar budaya, agama, gagasan politik, dan ekonomi untuk menciptakan peradaban yang damai, hangat, dan ramah untuk kehidupan bersama.

[Rebecca Wick Gluckstein, Volunteer in Asia 2008-2009 at PPSPA]

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Suara Pandanaran Ed. I, Th. 6, Juni, 2010