Di Balik Dapur Khatmil Qur’an

Tiga, dua, satu … Selepas Dzuhur, Rabu, 3 Juni 2015. Seluruh panitia Khatmil Quran putri menempati posnya masing-masing di areal Komplek II. Gladi Resik dimulai, tepat pada Hari-H. Ketua Panitia memantau penuh arti. Harapan dan kecemasan hadir bersamaan. Harapan, sebab inilah testing rangkaian latihan khataman demi terakhir dari suksesnya acara. Kecemasan, adalah kekhawatiran bilamana terjadi hal-hal yang tak sesuai rencana dalam setiap aspek prosesi khataman.

Sekitar setengah kilometer dari Komplek II, di halaman MA Sunan Pandanaran, berlangsung pembagian kartu untuk para wali khatimat. Kartu inilah “paspor” mereka untuk memasuki panggung khataman. Semakin kartu dibagikan, semakin jelas berapa ratus orang yang akan memadati Komplek II. Setiap khatimat hanya mendapat dua kartu masuk. Satu untuk diberikan kepada wali khatimat yang putra dan selebihnya untuk wali putri. Hal ini dimaksudkan agar para wali santri yang hendak masuk dapat terorganisir. Realistis saja, ruangannya Karena ini acara yang terbilang eksklusif. Khatmil Quran putri dengan latar yang terbatas”, kata Anwar Kurniawan, koordinator acara khataman putri Tata letak lokasi acara Khatmil Qur’an putri ini pun terbilang menarik. Struktur bangunan berbentuk “L” dengan mushola (panggung khatimat) sebagai titik sentralnya, serta lanskap memanjang ke arah timur (tempat wali khatimat bin Nadzri), dan sedikit melebar ke arah utara (tempat wali khatimat Juz ‘Amma).

Pintu masuk para wali khatimat pun dibagi menjadi dua jalur, dengan harapan memudahkan para wali khatimat supaya langsung menuju tempat duduk yang telah disediakan sesuai petunjuk kartu. Jalur pertama (gerbang timur), untuk akses masuk wali khatimat bin Nadzri. Dan jalur kedua (gerbang utara), untuk arus masuk wali khatimat Juz ‘Amma. Masing-masing tempat duduk para wali khatimat akan terbelah di tengahnya, antara wali khatimat yang putra dan putri. Ini difungsikan sebagai arus keluar-masuk para peserta, tamu undangan, dan wali khatimat itu sendiri.

Sementara, tampak di tengah-tengah antara tempat duduk wali khatimat putra dan putri tersebut, berjajar rapi para anggota santri-siswi (HTT). Mereka mempunyai fungsi ganda. Pertama, ketika menjelang prosesi, para anggota HTT ini akan melayani atau menjemput para wali khatimat untuk diantar menuju kursi masing-masing sesuai dengan yang tertera dalam kartu yang telah dibagikan. Kedua, mereka akan berdiri tegak sebagai pengaman arus manakala menjelang prosesi selesai.

Denah Khataman Putri PPSPA 2015

Dari data yang dirilis oleh panitia khatmil quran, sedikitnya empat puluhan anggota HTT dikerahkan untuk berkontribusi dalam acara khataman PPSPA putri ke-41 ini. Dengan kedisiplinan penuh mereka dilatih sedimikian rupa, sehingga benar-benar handal ketika prosesi berlangsung. “Jauh-jauh hari mereka (HTT) telah diberikan sosialisasi terkait tugas yang akan dijalani. Semua anggota HTT telah dibagi sesuai posisinya masing-masing. Mulai penjaga gerbang masuk, petugas pengaman arus keluarmasuk, hingga penjaga titik-titik krusial untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan”, ungkap Wardani, pimpinan keamanan putri.

Pukul 14.45 WIB, gladi bersih selesai. Para khatimat meninggalkan lokasi untuk mempersiapkan diri untuk nanti malam. Sementara, para personel HTT dan beberapa panitia tak pindah koordinat demi menyimak taklimat Pak Ketua, briefing terakhir. Pak Ketua puyeng, tiga jam lagi acara dimulai. Sementara beragam masalah datang berseliweran dan wali santri mulai datang, ia kudu memastikan kesiapan anakanak HTT yang masih berusia belasan. “Jagalah sikap dan etika kepesantrenan. Tunjukkan kalau kalian tangguh meski bekerja ekstra. Bersikap seramah mungkin kepada para tamu. Siapapun itu harus dilayani dan dihormati”, titah H. Muhammad Rif’at, sang ketua panitia. Belajarlah, lanjutnya, dari sejarah Perang Uhud. Penuhi tanggung jawab sesuai posisi, jangan tinggalkan pos, apapun yang terjadi.

Selepas briefing, seluruh panitia putri termasuk anggota HTT tak lantas istirahat. Pekerjaan masih menanti. Mereka segera bergegas menata kursi tempat duduk para wali khatimat yang tidak sedikit jumlahnya. Ini sebagai konsekuensi lokasi Khatmil Quran putri melibatkan area MI Sunan Pandanaran. Sementara, lokal kelas VI MI Sunan Pandanaran saat itu sedang melaksanakan Ujian Madrasah yang mutlak tidak bisa ditinggalkan. Untungnya, mereka tak panik karena sudah punya persiapan sebelumnya. Minimal paham terlebih dahulu, bahwa kali ini kudu bekerja ekstra, sebab harus berbagi waktu dengan pelaksanaan ujian sekolah MISPA pada tanggal 1-4 Juni 2015. Sementara Khatmil Qur’an berlangsung tanggal 3 Juni 2015.

Suatu tugas yang membutuhkan ketangkasan dalam menyikapi situasi dan kelegowoan hati yang besar. “Yang krusial dan yang menjadi kekhawatiran adalah kondisi fisik teman-teman panitia. Karena waktu sangat minim untuk mempersiapkan teknis. Mulai dari pengkondisikan simaan puncak yang harus selesai lebih dini, hingga penataan tenda sekitar 3 unit serta kursi yang sedikitnya lima ratusan dalam tempo kurang dari dua jam”, terang Kurniawan. Itu pun, lanjutnya, selepas prosesi, malam itu juga kami harus segera merapikan kembali lokasi MISPA. Sebab paginya sudah akan diapakai untuk ujian hari terakhir MI Sunan Pandanaran. “Alhamdulillah teman-teman panitia sanggup diajak untuk agak sedikit lembur dalam arti sebenarnya”, imbuhnya.

Menjelang senja, Pukul 17.20 WIB penataan tenda serta kursi telah rapi. Seluruh panitia pun kemudian diinstruksikan supaya mempersiapkan diri menjelang acara puncak yang berlangsung ba’da Maghrib, alias hanya punya waktu kurang dari satu jam. Dan harus siaga  kembali ba’da maghrib pukul 18.15 dengan seragam rapi sesuai yang telah disepakati bersama. Sebab sesuai jadwal, acara Khatmil Qur’an putri akan dilangsungkan pada pukul 18.30 WIB. Meski demikian, mereka pun sedikit lega.

Tim HTT Putri, grup di balik suksesnya Khataman 2015

Suasana senggang tersebut mendadak surut ketika mereka sadar bahwa listrik padam. Artinya, seluruh hal yang berkaitan dengan aliran listrik pun sedikit mengganggu stabilitas. Akhirnya persiapan para panitia pun hanya sekenanya karena masih harus memastikan bahwa semua dapat berjalan meski listrik padam. Beruntung, mulai dari MCK yang meniscayakan stok air harus tetap stabil tak terlalu terintervensi oleh padamnya listrik. Sementara, beruntung pula sudah persiapan mesin tenaga diesel, jaga-jaga kalau listrik padam. Dan akhirnya prediksi pun menemui jodohnya. Dengan bantuan mesin tenaga diesel itu, beberapa arus listrik akhirnya masih bisa digunakan. Meski tidak semua. Hanya sound system, beberapa layar lebar, dan video shooting yang bisa berfungsi saat itu. Lampu penerangan tidak termasuk perangkat yang menyala.

Selepas Maghrib, pukul 18.40 WIB, MC memekikkan salam dengan microphone-nya kepada seluruh hadirin. Tanda bahwa acara Khatmil Quran putri ke-41 PPSPA telah benar-benar dimulai. Di ujung gerbang utara dan gerbang timur terlihat para wali khatimat, perlahan namun pasti, memasuki lokasi acara. Dengan tertib dan rapi para tamu nampak menuju tempat duduknya masingmasing sesuai petunjuk kartu wali khatimat sembari membawa kemasan berisi makanan ringan yang dibagikan oleh panitia setelah melintasi gerbang. Setelah semua wali khatimat memasuki arena Khatmil Quran, kedua gerbang pun ditutup oleh panitia. Antisipasi apabila ada wali khatimat yang terlambat datang, beberapa panitia pun dikerahkan supaya menjaga gerbang. Mereka kembali diingatkan, hanya yang mempunyai kartu resmilah yang diperbolehkan masuk.

Lantunan shalawat diiringi musik hadrah mulai menggema pertanda acara telah memasuki prosesi pemanggilan peserta menuju panggung. Panitia sibuk dengan posisi dan tanggung jawabnya. Para personel HTT mengarahkan setiap orang sesuai bloknya masing-masing sehingga alur arus massa dapat berjalan dengan baik. Sesuai taklimat Pak
Ketua, mereka membuktikan diri memang tangguh dan bisa diandalkan. Luar biasa!

*) Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2016

Menggapai Puncak Piramida

Sekitar dua minggu sebelum puasa, saban kalender Hijriyah menunjukkan tanggal 17 Sya’ban, Pandanaran selalu punya gawe gede. Hajatan rutin Khatmil Quran atau biasa juga disebut Khataman diselenggarakan di Pandanaran sejak zaman almaghfurlah KH Mufid Mas’ud. Tak terkecuali pada tahun 1423 H ini, Pandanaran mewisuda ratusan peserta khataman, termasuk 11 peserta Bil Ghaib 30 Juz. Jum’at, 6 Juli 2012, menjadi hari istimewa bagi sejumlah santri yang sukses menempuh tahapan dalam mengkhatamkan al-Quran. Wajah-wajah ceria terpancar dari anak-anak khatimin Juz ‘Amma, Bin Nadzri, maupun Bil Ghaib 30 Juz. Keceriaan mereka yang telah terlihat sejak mengikuti seleksi dan latihan terasa kian lengkap saat acara wisuda khataman dihadiri oleh orang tua masing-masing. Banyaknya kendaraan yang lalu lalang di lingkungan pondok, meriahnya acara-acara pendukung, lantunan ayat-ayat suci dari majlis sima’an al-Quran, sampai ramainya bazar oleh masyarakat sekitar menandakan kesibukan Pandanaran di hari khataman. Semua bak membentuk orkestra syi’ar Alquran.

Hari itu, para tamu berdatangan dari segala penjuru. Sebagian wali santri datang sejak Kamis dan menginap di Komplek III atau Penginapan Tamu di Komplek MISPA. Para alumni secara sukarela hadir di Pandanaran untuk sekedar temu kangen atau berpartisipasi pada acara sima’an al-Quran khusus alumni di kediaman KH Imaduddin Sukamto (Komplek IV) atau KH Masykur Muhammad (Komplek V).

Sementara itu, para santri sibuk dengan aktivitas khatamannya. Para peserta khataman ziarah ke maqam KH Mufid Mas’ud atau sowan ke pimpinan pesantren bersama sanak familinya, sementara rekan-rekan panitia sibuk dengan job-nya masingmasing. Mulai Kang Zahron sebagai juru parkir Komplek III, sampai Mas Alifin yang menjadi koordinator keamanan Komplek I.

Agenda-Agenda
Agenda acara Khatmil Quran sendiri terangkum sedemikian banyaknya. Selain prosesi khataman sebagai acara inti, banyak acara pendukung yang mengiringi acara Khataman. Kemeriahan dimulai dari pentas wayang oleh masyarakat sekitar yang berlokasi di Candi Dukuh yang berlangsung selama 3 hari sejak hari Senin, 2 Juli 2012. Acara ini menjadi yang pertama sepanjang sejarah Khataman. Setelah itu, agenda internal pesantren berlangsung secara konsekutif, satu demi satu.

Hari Kamis, 5 Juli 2012, para peserta khataman Bil Ghaib 30 Juz Putra yang berjumlah 3 orang menyelenggarakan sima’an al-Quran di Masjid Nurul Quran, Komplek I. Sedikitnya khatimin Bil Ghaib tak lepas dari beratnya seleksi yang diterapkan. Selain harus khatam setoran kepada pengasuh, calon peserta juga diwajibkan menjalani simaan 30 Juz penuh di berbagai majlis. Konsep yang menekankan kualitas daripada kuantitas ini bahkan membuat beberapa calon khatimin mengundurkan diri dan akhirnya meloloskan tiga hafidz.

KGS Abdul Rasyid (Palembang), Reza Pahlevi Lubis (Medan), dan Aldy Syahputra (Gresik)

Triumvirat yang terdiri dari Reza Pahlevi Lubis (Medan), Aldy Syahputra (Gresik), dan KGS Abdul Rasyid (Palembang) ini bergantian membaca ayat suci al-Quran secara tartil. Tridente khatimin tersebut sukses mengkhatamkannya pada hari Jum’at pukul 10 pagi. Khataman dan doa oleh KH Mu’tashim Billah menandakan kesakralan acara khataman, sekaligus awal dari rangkaian prosesi khataman hingga malam hari. Sementara di tiga titik lain, yaitu di maqbarah KH Mufid Mas’ud, kediaman KH Imaduddin Sukamto (Komplek IV), dan rumah KH Masykur Muhammad (Komplek V) juga sukses mengkhatamkan simaan al-Quran oleh grupnya masing-masing.


Beralih ke Komplek II. Di tempat yang biasa digunakan untuk acara mujahadah Kamis Wage ini, Pandanaran menggelar sosialisasi perguruan tinggi STAISPA dan BMT Pandanaran ICA. Dalam suasana khataman, Pandanaran mempublikasikan kepada para tamu dan alumni, bahwa perguruan tinggi STAISPA sudah mulai aktif. Pun demikian dengan BMT milik pesantren yang mengarah pada kemandirian.

Acara khataman sempat break sebentar karena bertepatan dengan hari Jum’at. Setelah shalat Jum’at usai, giliran pentas seni memeriahkan acara khataman. Tim Drum Band MTs dan MA Pandanaran menghibur para hadirin dengan paradenya mulai dari Komplek III sampai Komplek II. Tak mau kalah, tim Badui al-Ikhsan Candi juga turut serta dalam acara. Pertunjukan Badui mengiringi acara Khitanan Massal di Komplek I yang dipimpin oleh KH Syarifuddin. Acara ini meneruskan warisan almaghfurlah KH Mufid Mas’ud, bakti sosial kepada masyarakat berupa khitan gratis bagi anakanak kurang mampu.

Parade Drum Band

Maqbarah KH Mufid sendiri tak sepi dari pengunjung. Selepas Ashar, acara terkonsentrasi di Komplek III untuk tahlil berjama’ah di maqbarah. Tahlil ini dipimpin oleh KH Masykur Muhammad dan dihadiri oleh santri, para tamu, serta alumni. Acara ini mengingatkan seluruh elemen Pandanaran, bahwa dalam wasiatnya, almaghfurlah KH Mufid Mas’ud berpesan agar haul Beliau diikutkan pada acara Khatmil Qur’an 17 Sya’ban, tanpa perlu mengadakan acara tersendiri. Beliau menuturkan ingin “ngeyup” ke khataman Quran.

Prosesi Khataman
Kembali ke komplek I dan II. Ba’da Maghrib, agenda acara khataman berlanjut dengan dua acara sekaligus. Di masjid Komplek I, pembacaan Diba’ diselenggarakan oleh tim Hadrah Pandanaran, sementara di komplek II, prosesi acara khataman dimulai. Tim Hadrah, yang berjumlah sekitar 100-an personal menggeber terbang di dalam masjid untuk melantunkan Shalawat Nabi dan membacakan Maulid Barzanji secara singkat, lengkap dengan Mahlul Qiyam. Acara ini dihadiri oleh segenap elemen Pandanaran, mulai para sesepuh, ahlen, para santri, alumni, juga para tamu dan masyarakat sekitar. Sementara itu, di Komplek II, prosesi acara khataman mewisuda 306 peserta khataman Juz ‘Amma, 144 peserta Bin Nadzri,
dan 8 peserta khataman Bil Ghaib 30 Juz, yaitu Anni Muflichah, Chusna Amalia, Nidaa Rahman, Inayati, Indah Urfah, Zulfatul Karimah, Hazna Muayyadah, dan Hikmatul Hidayah.

Setelah pembacaan surat al-Muzzammil dan rangkaian bacaan surat Waddluha sampai an-Naas, acara dilanjutkan dengan tahlil dan doa khataman. Acara di Komplek II terus berlangsung dan berlangsung paralel dengan pembacaan Diba’ di Komplek I tanpa ada tabrakan jadwal dengan acara di Komplek II.

Peserta Khataman Bil Ghaib 30 Juz Putri

Mulai acara di komplek II inilah, prosesi khataman disiarkan secara langsung lewat video sehingga para tamu dapat mengikuti acara dengan khidmat. Dalam hal ini, panitia menyiapkan layar raksasa berukuran 3×4 m yang disebar di beberapa titik. Sholahudin, ketua divisi konsumsi panitia khataman, mengakui bahwa acara tahun ini para hadirin dapat lebih khusyuk dalam mengikuti acara karena layar yang dipasang sampai menutupi tenda. Apalagi dengan sound system berkualitas super sehingga apa yang disampaikan oleh muballigh dapat terdengar dengan sangat jelas.

Imbasnya, bagi tim konsumsi, mereka dapat lebih nyaman membagikan snack. Selepas Isya’, prosesi acara khataman putra dimulai. Diawali dengan perkenalan para peserta khataman Juz ‘Amma (188 anak) dan Bin Nadzri (89 anak) yang diiringi lantunan shalwat, prosesi berlanjut  dengan dipanggilnya peserta Bil Ghaib. Berikutnya, para peserta khataman Bin Nadzri melantukan surat al-Qiyamah dengan lagu yang khas dan dilanjutkan pembacaan surat al-Takaatsur sampai an-Naas.

Puncak Piramida
Acara prosesi khataman bak sebuah puncak piramida pengajian al-Quran. Para santri menggapai puncak dalam kategorinya masing-masing. Khatimin Juz ‘Amma sukses mencapai titik tertinggi dalam hafalan Juz 30, sementara anak-anak Bin Nadzri sukses membaca Alquran secara baik sampai khatam. Bagi peserta khataman Juz ‘Amma, mereka segara “naik level” ke piramida selanjutnya, yaitu piramida Bin Nadzri. Para santri yang smeula hanya wajin menghafalkan Juz 30, kini harus mengkhatamkan Alquran dengan benar. Mereka tidak diperkenankan menghafalkan Alquram sebelum baik bacaannya, yakni tajwidnya benar, bacaannya lancar, sekaligus tartil.

Sementara itu, khatimin Bil Ghaib meraih puncak piramida menghafalkan Alquran. Dengan perjuangannya, mereka sukses menghafalkan Alquram 30 Juz penuh. Piramida mereka lebih tinggi daripada piramida Juz ‘Amma dan Bin Nadzri. Namun, peraih piramida Bil Ghaib pun  masih harus lebih meningkat lagi.Mereka mesti melompat ke piramida lain seperti Qiraah Sab’ah, melanjutkan studi Alquran, atau memperkuat riyadlah yang semuanya bermuara pada bagaimana mengaplikasannya ke dalam kehidupan nyata.

Toh, pada hakekatnya, apa yang disebut “puncak” hanyalah milik Allah swt semata. Di tengah luasnya galaksi, bumi tempat kita hidup hanyalah setetes air di tepi samudera. “Katakanlah (Nabi Muhammad Saw), jika lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhan Pemeliharaku, maka pasti habislah laut itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhan Pemeliharaku, meskipun Kami datangkan tambahan laut sebanyak itu pula (Al-Kahfi 109)”.

Penutup

Setelah prosesi khataman Juz ‘Amma, Bin Nadzri, dan Bil Ghaib selesai, acara dilanjutkan dengan takhtiman, tahlil, dan doa oleh KH Mu’tashim Billah. Tahlil sendiri dikhususkan pada haul KH. Mufid Mas’ud, Bu Nyai Hj. Jauharah Mufid, KH. Abdullah Umar, dan Bu Nyai Hj. Abdullah Umar. Pembacaan kalimah thayyibah dilanjutkandengan Ratibul Haddad yang dipimpin oleh H. Muhammad Nahdi dan H. Haris Ahmad Qornain. Sebagai penutup, taushiyah KH Zaenal Arifin (Pekalongan) menjadi pelajaran bagi para audiens yang dilanjutkan doa oleh KH KGS Nawawi Dencik. Demikian puncak piramida acara tasyakur tahunan Khatmil Quran PP Sunan Pandanaran. Acara berlangsung sukses. Sebelum lewat tengah malam, acara telah usai. Para tamu pun kembali pulang ke daerah masing-masing.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Sistem Baru untuk Menjaring Khatimin Berkualitas

Santri Pandanaran tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Mereka sedang mempersiapkan acara Khatmil Qur’an yang sedianya akan dilaksanakan pada 28 Juli 2010 mendatang. KH. Mu’tashim Billah mengingatkan panitia pelaksana bahwa hajatan Khatmil Qur’an ini merupakan bagian dari ibadah. Maka hendaknya tidak diniatkan untuk mencari keuntungan materi. Seluruh biaya operasional akan ditanggung oleh Pesantren. KH. Mu’tashim Billah juga mengharapkan adanya peningkatan kualitas peserta khataman. Beliau memberikan pengarahan kepada panitia supaya proses seleksi diperbaiki untuk menjaring peserta khataman yang berkualitas baik. Pengarahan ini, seperti diakui oleh pihak panitia, telah dilaksanakan sebaik-baiknya. Konsekuensinya, menurut mereka, jumlah peserta khataman menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pengurus Putri Komplek III, Wasithah, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Khatmil Qur’an Juz ‘Amma dan Binnadzri sudah dimulai sejak bulan Maret 2010. “Calon peserta hafalan juz 30 (Juz ‘Amma) sudah mulai disimak. Sementara peserta binnadzri sudah dites bacaan surat Yasin dan surat Kahfi”, jelas Wasithah. Lebih lanjut ia mengatakan, tahun ini jumlah peserta khataman Juz ‘Amma dan binnadzri mengalami penurunan dibandingkan tahun kemarin. Bukan karena jumlah pendaftar yang berkurang, tetapi disebabkan karena proses seleksi yang diperketat. Bacaan mereka harus lancar dan berdasarkan kaidah tajwid yang benar.

Seleksi calon peserta Khatmil Qur’an meliputi kualitas hafalan dan bacaan Al-Qur’an serta penguasaan praktek ibadah. Untuk kategori Juz ‘Amma meliputi praktek wudlu, shalat, hafalan wirid dan doa-doa setelah shalat. Sedangkan untuk kategori binnadzri ditambah hafalan surat Yasin dan Kahfi, tahlil dan doanya. Menurut ketua panitia Khatmil Qur’an 2010, Azka Sya’bana, melalui rentetan ujian tersebut diharapkan akan terjaring peserta khataman yang selain terbukti mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar, juga mampu menjalankan ibadah secara sempurna.

Sementara itu, di komplek Huffadz, proses seleksi peserta khataman juga sudah dimulai sejak bulan Maret lalu. Untuk santri putra calon peserta Khatmil Qur’an 30 juz bil ghaib, diwajibkan menghafal 30 juz sekaligus (glondongan) di depan H. Muslim Shofwan. Sedangkan santri huffadz putri disimak langsung oleh Ibu Nyai Hj. Sukaenah. Selain itu, santri huffadz putra maupun putri harus menyetorkan hafalannya sebanyak 30 juz kepada KH. Mu’tasim Billah. Sejauh ini, pihak panitia telah bekerja maksimal untuk menyukseskan Khatmil Qur’an 2010. Menurut Azka Sya’bana, khataman tahun ini harus lebih baik ketimbang tahun kemarin. “Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu menyukseskan acara ini. Dan kami memohon doa restu agar khataman tahun ini berjalan lancar,” kata Azka kepada Suara Pandanaran.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Juni 2010