Pencatat Sirah Hasanah dan Sejarah Sepanjang Zaman

Evolusi Media Pandanaran (Pandanaran Post, Suara Pandanaran, pandanaran.org …)

Media massa adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan. Media massa menjadi penting karena memang memiliki kekuatan. Begitu juga halnya dengan pesantren, peran media pesantren bukan sekedar mampu menyampaikan pesan kepada khalayak tetapi lebih karena media pesantren diharapkan dapat menjalankan fungsi mendidik, mempengaruhi, menginformasikan dan menghibur. Tidak terkecuali media yang terdapat di Pesantren Sunan Pandanaran.

Dalam perjalanannya, media pesantren Pandanaran telah berevolusi menjadi tiga fase (milestone) yang tentu saja masih dinamis dan bukan menjadi suatu akhir. Maka, tidak heran tujuan utama dari eksistensi media pesantren Pandanaran adalah mendidik santri untuk menulis. Karena orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.

Fase Awal (Mading Pandanaran Post, 2001-2003)      

Pada awal abad 21 atau era milennium sekitar tahun 2001, media pesantren Pandanaran mulai terbit menyapa para santri. Media ini diinisiasi oleh santri huffadz yang bernama Muhammad Ali Hisyam. Tidak sampai disitu, Ali Hisyam juga terlibat langsung dalam pengelolaan media. Dengan bekal hobi menulis di beberapa media nasional dan ilmu jurnalistik, Ali Hisyam mulai membentuk tim redaksi untuk penerbitan media. Ia mulai menghubungi beberapa santri yang potensial dapat bekerja sama. Salah satunya adalah santri Zahron. Perannya adalah adalah membantu dalam proses pra-produksi yaitu mengetik naskah. Karena saat itu santri Zahron diamanahi sebagai pengurus kantor mempunyai akses untuk menggunakan komputer kantor administrasi pesantren.     

Pada awal debut penerbitannya media tersebut diberi nama Pandanaran Post dengan slogannya Buka Wacana Bina Talenta.  Dalam penampilannya Pandanaran Post tak ubahnya seperti majalah dinding (mading). Namun, secara format media ini banyak mengadopsi koran. Hal ini dapat dilihat dari format layout dan beberapa isi rubrik yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai layaknya sebuah koran. Sebut saja terdapat rubrik headline news, liputan khusus, feature news, ketawa itu halal, dan seterusnya, di mana beberapa nama rubriknya masih terjaga sampai kini, dalam bentuk majalah maupun web site. Secara produksi media ini hanya dicetak 1 eksemplar dengan 4-8 halaman yang dipajang di beberapa papan. Tiap papan memuat 2 halaman. Tiap halaman mempunyai ukuran berkisar 90 cm x 45 cm.

Menariknya, bak piala bergilir, publik alias para santri mengkonsumsi media ini secara bergantian. Diawali dengan memasang lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh para santri Komplek 1 (Huffadz Putra). Setelah 1 minggu, media tersebut dipasang bergantian di Komplek 2 (Huffadz Putri), lalu berlanjut di Komplek 3 (Santri MTs dan MA). 

Maka, tidak heran media ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para santri yang berada di lingkungan Komplek 1 dan Komplek 2 Pandanaran. Sebelum era digital seperti sekarang di mana informasi mengalir deras bak jamur di musim hujan, adanya berita seputar pesantren yang hanya muncul sesekali adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi para santri. Euforia luar biasa adalah ketika media ini mengulas tentang organisasi daerah (Orda). Pandanaran Post pada saat itu mampu memberikan edukasi kepada para santri agar dapat berorganisasi sesuai amanah pengasuh.   

Seiring berjalannya waktu, media ini mulai ditinggalkan oleh beberapa dewan redaksi. Beberapa santri senior seperti Ali Hisyam dan santri Zahron mulai pamit untuk boyong melanjutkan perjalanan menggapai cita-cita mulia. Tak heran, sebab pada dasarnya Pandanaran Post adalah aspirasi kreativitas pengisi waktu luang di sela-sela rutinitas wajib, menghafalkan Alquran dan menuntut ilmu. Walhasil, Pandanaran Post pun vakum, rehat sejenak sampai waktu yang tak bisa ditentukan. 

Fase Pertengahan (Majalah Suara Pandanaran, 2005 sampai Sekarang)

Hingga sampai pada periode Khatmil Qur’an 2004 mulai muncul lagi isu penerbitan media pesantren. Diinisialisasi oleh pertemuan para alumni Pandanaran yang menghasilkan rekomendasi pembuatan majalah pesantren. Tidak menunggu lama dikomandoi santri Mas’udi mulai mengerahkan para santri yang potensial dapat bekerja sama. Berbekal informasi sisa-sisa tim redaksi Pandanaran Post, Kang Mas’udi membentuk tim redaksi majalah. Personel kala itu adalah Abdul Fatah, Furqon, M. Suhaili, Syaiful, Mahbubi, dan Hisyam Zamroni plus beberapa santri lain. Tim ini mulai bergerak membagi tugas dengan membagi 2 tim yang masing-masing tugas utama. Tim pertama adalah pengumpulan data yang mempunyai tugas mengumpulkan data-data yang dibutuhkan terkait kebutuhan konten majalah pesantren. Tim kedua adalah pengolahan data yang mempunyai tugas mengolah data menjadi sebuah tampilan majalah yang menarik.

Alhasil setelah persiapan dirasa cukup santri Mas’udi bersama tim redaksi melakukan sowan kepada salah satu pengasuh, yaitu KH. Mu’tashim Billah. Hasilnya, nama Suara Pandanaran pun lahir berkat titah Beliau. Edisi perdana, majalah Suara Pandanaran mencetak sekitar 2000 ekslempar yang dibagikan kepada seluruh santri dan alumni. Sama seperti media sebelumnya, majalah ini juga mendapat sambutan yang luar biasa karena berisi informasi nasehat dan napak tilas perjalanan perkembangan pesantren Pandanaran yang dituturkan langsung oleh pendiri sekaligus pengasuh pesantren Pandanaran yaitu KH. Mufid Mas’ud. Selain itu, karena majalah pesantren adalah hasil evolusi dari media sebelumnya sehingga, beberapa nama rubrik yang ada diambil dari nama rubrik media Pandanaran Post

L’Histoire se répète , meminjam istilah Prancis bahwa sejarah akan berulang, demikian pula dengan Suara Pandanaran. Senada dengan leluhurnya, Pandanaran Post, lambat laun Suara Pandanaran mulai ditinggalkan oleh anggota redaksinya. Maka, demi kelangsungan media pesantren sebagai salah satu sarana edukasi, dibentuklah tim redaksi khusus untuk melanjutkan penerbitan Suara Pandaranan. Tongkat estafet berlanjut dipegang oleh Abdul Hakim, lalu diteruskan H. Arif Hakiem dan H. Ali Hifni sampai kini. Selama kurun waktu tersebut, beberapa perubahan terjadi di banyak aspek, terutama pada desain dan konten Majalah Suara Pandanaran. Hingga saat ini Suara Pandanaran telah menerbitkan 30 edisi dan telah diedarkan ke lebih 4000 santri.

Fase Millenial (Web pandanaran.org)

Setelah era tersebut, kini Suara Pandanaran sebagai kelanjutan dari Pandanaran Post berevolusi lagi menjadi web site, sekaligus bertransformasi menjadi media multi platform dalam bentuk media sosial Instagram, kanal YouTube dan sejenisnya. Banyak cerita di dalam media Pandanaran. Dimulai dari mading lalu menjadi majalah, sejak KH Mufid Mas’ud secara langsung mengisi konten media, banyak tema, sejarah, sekaligus tokoh secara bergantian menghiasi laman Suara Pandanaran. Semoga media ini tetap dan selalu menjadi medium edukasi sekaligus pencatat sejarah dan sirah hasanah pendiri pesantren, KH Mufid Mas’ud, sehingga warisan Beliau tetap abadi sepanjang zaman.

Menelusuri Jejak Romo Kiai ke Bumi Lumajang

Pada 2 April 2012, saya bersama saudara Ali Hifni, sowan ke kediaman Bapak H. Mahfud Harsono (Mbah Har), kakak tertua Romo KH. Mufid Mas’ud. Tujuan perjalanan ini adalah menelusuri jejak sejarah Kiai Mufid dan benar, kami mendapat banyak informasi berharga.

Kami berangkat menuju Malang dengan kereta api pukul 21.00 dan tiba pukul 07.00 WIB . Karena belum pernah ke Lumajang, kami mencari informasi rute di sekitar stasiun sambil menikmati kopi kota Aremania. Dari sini, kami oper bus menuju Lumajang. Perjalanan ke Lumajang ditempuh melewati pegunungan dengan jalan-jalan terjal, melintasi jembatan kecil memotong jurang yang membuat mata berkunang-kunang. Setelah 5 jam perjalanan, kami sampai di Kecamatan Surolangun, Lumajang, kediaman Mbah Har.

Kami tidak bisa langsung menemui Beliau, karena Mbah Har sedang istirahat dan agak kurang sehat. Sampai malam tiba, kami bercengkrama dengan putri Beliau yang juga alumni MTs SPA 1998, Mbak Iklima beserta suami. Setelah shalat shubuh, kami memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta karena rasanya tidak mungkin berkomunikasi dengan Mbah Har. Akan tetapi, ketika hendak berpamitan, Beliau memanggil kami untuk untuk berdialog.

Kami pun masuk ke kamar Beliau. Dengan situasi terbatas, kami membuka dialog dari silsilah Kiai Mufid. Walau secara umum kami telah mengetahui, namun kami ingin informasi yang benar-benar berasal dari sumbernya dan ternyata benar, ada hal yang perlu dikoreksi. Selama ini informasi populer adalah Kiai Mufid merupakan putra urutan kedua, ternyata Beliau putra nomor tiga setelah Bapak H. Mahfud dan Ibu Mufarohah. Untuk kelahiran Romo Kiai, Beliau tidak dapat memastikan.

Tak Pernah Jadi Tentara
Kemudian Mbah Har mulai bercerita tentang perjalanan Romo Kiai. Di pendidikan formal, KH Mufid merupakan lulusan Madrasah Mamba’ul Ulum Cabang Solo di Sidowayah, Klaten. Kemudian, Romo Kiai melanjutkan ke Krapyak atas anjuran guru Beliau, KH. R. Muhammad Shofwan, sampai mengaji kepada KH. Muntaha di Temanggung (sebelum Mbah Muntaha menetap di Wonosobo) serta berguru kepada KH. Dimyati di Comal.

Selama di Comal, Beliau juga ikut berjuang melawan Belanda. Beliau bergabung dengan Barisan Kiai dan Santri serta pernah dikabarkan meninggal dalam pertempuran. Hal ini sekaligus meluruskan berita umum bahwa Kiai Mufid adalah seorang tentara. Menurut Mbah Har, Mbah Mufid tidak pernah masuk sebagai tentara, sebab tidak begitu menyukai hal-hal formal. Namun, Kiai Mufid ikut dalam barisan santri untuk melawan penjajah. Dari sinilah kemungkinan besar Kiai Mufid berbaur bersama para tentara sehingga wajar bila ada anggapan Beliau masuk tentara.

Ada satu kisah menarik dari Mbah Har. Saat Kiai Mufid masih remaja, ayah Beliau, yaitu Simbah Ali Mas’ud, suatu ketika berdakwah di wilayah timur Bayat, kemungkinan di Gunung Kidul. Ketika pulang, Mbah Ali melihat sinar putih (Pulung). Mbah Ali mengikuti sinar tersebut dan jatuh tepat di atas mushola Bayat. Mbah Ali masuk ke mushola dan ternyata menemukan Kiai Mufid muda sedang berdzikir kepada Allah Swt. Mbah Har heran, kok kini Pandanaran membuka pesantren di Gunung Kidul.

Mbah Har juga bercerita soal haji. KH Mufid selalu menganjurkan haji kepada orang yang dianggap mampu, bahkan sesekali menyindir, termasuk kepada Mbah Har yang baru berhaji tahun 2006.

Dialog selesai sekitar 1 jam dan kami pulang ke Yogyakarta lewat Surabaya. Terima kasih, Mbah Har, terima kasih Mbak Iklima. Semoga apa yang kami dapatkan bisa bermanfaat bagi generasi berikut.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013