Pengumuman Kegiatan Akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19)

Dengan Hormat, menindaklanjuti perkembangan penyebaran dan pencegahan Coronavirus Disease (COVID-19) yang terjadi dalam lingkup nasional, dan dengan berbagai pertimbangan yang telah dilakukan, maka kami dari STAI Sunan Pandanaran mengumumkan beberapa hal penting mengenai berbagai kegiatan akademik di lingkup STAI Sunan Pandanaran. Harap menjadi perhatian bagi para Santri-Mahasiswa.

Informasi lebih detail dan lengkap silahkan kunjungi :

http://staispa.ac.id/

Dr. Fakhrudin Faiz: Setiap Pelajar adalah Wadah Ilmu

Sleman, Pandanaran.org

“Apakah teman-teman sekalian siap untuk diinternalisasi dengan nilai-nilai tasawuf ?”

Demikian ungkap Dr. Fahruddin Faiz pada acara kuliah umum bertajuk “Internalisasi Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Membentuk Intelektual yang Berintegritas di Era Milenial” di Hall STAI Sunan Pandanaran, Ahad (6/10) pagi.

Kepada sedikitnya tiga ratusan mahasiswa STAI Sunan Pandanaran (STAISPA), pakar filsafat UIN Sunan Kalijaga ini mengatakan bahwa setiap pelajar, mahasiswa, atau santri adalah wadah ilmu. Jika wadah itu tidak bersih maka hasil dari ilmu itu pun juga tidak jernih.

Untuk itu, lanjut dia, seperti dikatakan Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah ada sedikitnya tiga hal utama agar ilmu itu bermanfaat.

“Pertama, niat. Niat merupakan kunci dari segala bentuk pengamalan atau kegiatan. Jika niat sudah tertata, naik pada tahap selanjutnya yakni tahap orientasi. Tahap orientasi ini berkaitan dengan jasmaniyah, ruhaniyah, dan Ilahiyah”, tegasnya.

Ketiga tahap itu, kata Faiz, akan mengantarkan manusia pada tingkat ke mana sesungguhnya kita akan menghadap. Atau, kalau dalam istilah, Agama menyebutnya sebagai esensi dari kalimat innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Lebih jauh, narasumber tetap kajian filsafat mingguan di Masjid Jenderal Sudirman ini menegaskan bilamana manifestasi dari terinternalisasinya nilai-nilai tasawuf dalam diri seseorang itu dapat dilihat dari dua hal.

“Raut wajah yang murah senyum dan menggembirakan adalah puncak dari manifestasi terinternalisasinya nilai-nilai tasawuf dalam diri seseorang. Selain itu, sikap ridho atas segala ketetapan Allah dan selalu menjadikan Allah SWT sebagai pertimbangan atas apapun yang akan dilakukan, juga merupakan indikator lain yang tidak kalah penting”, tandasnya.

Acara ini dimeriahkan oleh kolaborasi antara penari sufi dengan hadrah STAISPA dan Sanggar Tari Dewi Sartika. Berlaku sebagai moderator Dr. Rima Ronika, dan Tajul Muluk (Dosen Ilmu Tasawuf STAISPA) sebagai panel narasumber.

[Lidya/An]

Membangun Kahyangan di Dusun Tlepok

Inti dari acara “Bersih Dusun” sendiri, menurut Kadus Tlepok Bapak Tugino, adalah sebagai upaya untuk bersama-sama memohon kepada Allah Swt agar dusun Tlepok menjadi dusun yang aman, rukun, makmur, dan sentosa. Pagelaran wayang diadakan di depan gedung MTs al-Jauhar. KH Mu’tashim Billah, pengasuh PP Sunan Pandanaran yang berinisiatif menggelar acara, juga melibatkan peran pesantren dalam berbagai wujud. Selain areal pesantren yang disulap menjadi panggung wayang dan partisipasi santri al-Jauhar untuk menggelar acara, para mahasiswa STAISPA turut serta menyaksikan Semar Mbangun Kahyangan. Para aktivis akademik tersebut bersama-sama warga menyaksikan wayang di pendopo Asmaul Husna.

Tak hanya menonton, mereka juga me-resume cerita wayang sebagai tugas kuliah. Acara yang menghadirkan dua dalang, yaitu lurah Semin dan dalang dari Candi, Sardonoharjo, mencapai klimaks menjelang tengah malam. Di tengah lakon “Si Limbuk”, sang dalang menerima permintaan lagu dari seluruh hadirin. Tak ayal, banyak audiens meminta lagu ini dan itu, termasuk dari Persatuan Guru dan Madrasah al-Jauhar, Persatuan Kadus se-kecamatan Semin, juga dari mahasiswa STAISPA.

Wayang dan Islam
Wayang Kulit, sebagai kesenian khas Jawa jelas tak bisa dipisahkan dari peradaban Islam di Indonesia. Kesenian ini menjadi media dakwah wali songo untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke dalam masyarakat. Para wali mengajak tanpa memaksa, memberitahu tanpa menggurui, dan menyuruh tanpa menyinggung perasaan. Semar sendiri, dalam cerita wayang selalu muncul bersama Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka dikenal sebagai Punakawan sebagai simbol dari cipta, rasa, karsa, dan karya.

Semar memiliki kuncung putih sebagai simbol kejernihan pikiran. Gareng bermata kero (juling, selalu waspada), bertangan cekot (teliti), dan berkaki pincang (wira’i). Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, dan karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangannya bak sepasang manusia yang kompak bekerja sama.

Sementara Bagong adalah simbol Karya, berupa dua tangan dengan kelima jarinya terbuka lebar (suka bekerja keras). Semar, berasal dari bahasa arab, Ismar (paku). Semar menjadi pengokoh (paku) terhadap kebenaran, yaitu agama sebagai prinsip hidup manusia. Nala Gareng, berasal dari kata Arab Naala Qariin (punya banyak teman). Hal ini selaras dengan gaya wali songo dalam berdakwah secara bijaksana.

Petruk, berasal dari kata Fatruk. Merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf, Fatruk kulla ma siwa Allahi, “Tinggalkan semua apa pun selain Allah”. Petruk juga disebut Kantong Bolong. Maksudnya, manusia harus menyerahkan harta dan jiwanya kepada Allah Swt. Bagong, berasal dari kata Baghaa (berontak), yaitu berontak terhadap kebatilan. Versi lain menyebutkan Bagong berasal dari Baqa’ (kekal). Maksudnya, manusia hanya akan kekal setelah di akhirat nanti. Dunia hanya tempat singgah sementara.

Acara wayang menjadi hiburan tersendiri bagi warga dusun Tlepok, yang memang sangat menggemari wayang. Acara ini selesai pada pukul 04.00 WIB. Bila Semar membangun Kahyangan Suralaya, warga Tlepok mempunyai Kahyangan sendiri di sekitar padepokan Asmaul Husna.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi anuari 2013

Urgensi Perguruan Tinggi di Pesantren

Ketika Mas Tasim (KH. Mu’tashim Billah), menyampaikan melalui sms bahwa izin operasional Perguruan Tinggi Pandanaran sudah turun dan mengharapkan kami untuk dapat memberikan opini di Suara Pandanaran, maka kami jawab, “Inggih Insya Allah Mas”. Namun ketika hendak menulis berkecamuk dalam benak apa yang sebenarnya ingin kami sampaikan. Karena para pengamat sering kali memberikan penilaian bahwa pesantren dan Perguruan Tinggi adalah dua entitas yang berbeda bahkan terkadang dikesankan saling berlawanan. Pesantren digambarkan sebagai lembaga yang secara akademis “kurang ilmiah”, cenderung tertutup, dan sulit menerima pikiran-pikiran baru yang berkembang. Sedangkan dunia perguruan tinggi sering dilukiskan sebaliknya, yaitu sebagai institusi keilmuan yang sangat mengedepankan “prinsip-prinsip ilmiah yang bercirikan : obyektivitas, keterbukaan dan kesiapan menerima perubahan”.

Kesan tersebut jelas keliru, karena di era sekarang dikotomi seperti di atas tidak sesuai dengan kenyataan dan juga tidak relevan serta terlalu menyederhanakan masalah. Yang terjadi adalah justru banyak yang berikhtiar untuk mensinergikan kelebihan dan keunggulan masing-masing sistem, baik pesantren maupun perguruan tinggi. Yang terjadi adalah banyak perguruan tinggi yang justru mengadopsi sitem pesantren, yaitu dengan mewajibkan mahasiswa untuk tinggal di asrama dengan mengikuti sistem pembelajaran ala pesantren. Sekedar menyebut contoh di antaranya UIN Jakarta, UIN Malang, dan juga Institut PTIQ, serta IIQ Jakarta. Untuk dua institut yang disebut terakhir memang sejak awal mewajibkan
mahasiswanya untuk tinggal di asrama. Di sisi lain pada beberapa tahun terakhir banyak pesantren yang telah merintis mendirikan perguruan tinggi dengan berbagai macam program studi, termasuk yang sering dikategorikan sebagai program studi umum atau non agama.

Nilai-Nilai Pesantren dan Tradisi Ilmiah
Melihat realitas seperti yang disebut di atas, tampaknya mulai muncul kesadaran akan pentingnya mensinergikan keunggulan pesantren dengan segenap norma dan nilai yang selama ini telah teruji sebagai sebuah lembaga pendidikan. Demikian juga perguruan tinggi yang memiliki ciri dan bangunan tradisi ilmiah yang sebenarnya kalau diteliti dengan
cermat bukan sesuatu yang asing bagi pesantren.

Sekadar contoh tradisi perguruan tinggi yang didasarkan pada formula tridharma perguruan tinggi yaitu; pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiganya dalam kadar tertentu telah dilakukan oleh pesantren, bahkan untuk dharma yang ketiga pengabdian masyarakat harus diakui pesantren telah melakukan dengan jauh lebih kongkret. Hal ini dapat dilihat dari sistem yang dikembangkan di pesantren sejak masih belajar maupun setelah selesai secara umum santri sudah dibiasakan untuk terlibat dengan masyarakat sekitar dengan berbagai macam problemnya. Demikian juga dengan pengajaran dan penelitian; untuk pengajaran pasti semua pesantren telah melakukannya yang membedakan pada sistem yang digunakan.

Pun begitu dengan penelitian di beberapa pesantren telah terbiasa untuk melakukan penelitian khususnya penelitian pustaka yang digunakan sebagai basis tradisi bahtsul masail. Sementara itu, Perguruan tinggi yang memang sejak awal mengembangkan tradisi ilmiah dengan mengedepankan rasionalitas dan obyektifitas ilmu dengan sistem pembelajaran yang terbuka yang diharapkan dapat membantu menjawab berbagai macam problem dalam masyarakat sering kali terjebak pada kondisi di mana terlalu mengedepankan rasio sehingga terasa kering secara spiritual. Di sinilah letak pentingnya sinergi dengan sistem pesantren.

Konteks Pesantren Sunan Pandanaran

Pesantren Sunan Pandanaran yang telah berusia lebih dari tiga puluh tahun dan mengalami perkembangan yang sangat pesat sudah selayaknya untuk terus mengembangkan diri termasuk dengan mendirikan perguruan tinggi. Hal tersebut bukanlah sebagai bentuk sikap latah atau mengikuti tren yang ada melainkan sebagai bentuk ikhtiar agar dapat menjadikan PPSPA sebagai lembaga pendidikan pesantren yang dapat memberi kontribusi maksimal dalam usaha mencerdaskan umat.

Untuk satuan pendidikan yang telah ada dari jenjang MI, MTs, dan MA, dan juga lainnya termasuk huffadz dapat diberdayakan dan tetap perlu untuk terus ditingkatkan agar semuanya dapat diberikan ruang untuk berkembang mencapai kesempurnannya. Jangan sampai seperti kata pepatah “melepas telur di tangan untuk menggapai burung yang masih terbang”. Di sinilah perlunya sinergi  antara pengelola dengan visi yang sama untuk meraih keberhasilan bersama.

– Dr. Ali Nurdin

Beberapa catatan berikut mungkin perlu untuk direnungkan bersama khususnya bagi teman-teman yang nantinya mendapat amanah untuk mengelola perguruan tinggi di PPSPA : Pertama, sudah menjadi hal yang biasa khususnya dalam masyarakat Indonesia ungkapan yang menyatakan, “Semangat ketika membangun dan mendirikan, namun seperti kurang greget untuk memelihara dan mengembangkan”. Maka agar sindrom tersebut nantinya tidak menimpa perguruan tinggi di PPSPA, maka penting untuk saling mengingatkan agar tetap menjaga stamina dan ghirah demi mengembangkan lembaga tersebut.

Kedua, bersikap pragmatis tidak “diharamkan” sepanjang tetap dapat memelihara idealisme. PPSPA dikenal sebagai pesantren Alquran. Hal ini berarti, pada awal mula pendirian pesantren ini menjadikan kajian Alquran (tahfidz) sebagai bidang utamanya. Oleh karenanya, program studi yang dipilih hendaklah program studi yang menjadi kelanjutan dari ikon pesantren, yaitu Alquran. Alhamdulillah dari informasi yang kami terima untuk tahap pertama program studi yang telah mendapatkan izin adalah Tafsir dan Ulumul Qur’an di samping Akhlaq Tasawwuf. Untuk selanjutnya sekiranya hendak mengembangkan program studi yang baru tetaplah mempertimbangkan kajian ke–alQur’an-an sebagai pijakan utamanya. Pengalaman di beberapa perguruan tinggi lain, ada yang karena terlalu berorientasi ke pasar/permintaan masyarakat maka seringkali mengorbankan idealisme awal pendirian.

Ketiga, desain kurikulum dan silabus lebih dibuat fleksibel, tidak harus kaku. Kurikulum yang ditetapkan oleh Kementrian Agama dapat dijadikan sebagai salah satu acuan namun yang lebih penting adalah membangun struktur kurikulum yang disiapkan dapat mewadahi juga bentuk-bentuk kearifan lokal yang berkaitan dengan program studi.

Keempat, untuk satuan pendidikan yang telah ada dari jenjang MI, MTs, dan MA, dan juga lainnya termasuk huffadz dapat diberdayakan dan tetap perlu untuk terus ditingkatkan agar semuanya dapat diberikan ruang untuk berkembang mencapai kesempurnannya. Jangan sampai seperti kata pepatah “melepas telur di tangan untuk menggapai burung yang masih terbang”. Di sinilah perlunya sinergi  antara pengelola dengan visi yang sama untuk meraih keberhasilan bersama.

Catatan Akhir
Sehebat dan sesempurna apapun sebuah rencana tidak akan berarti apaapa dan tidak akan menghasilkan apa-apa sekiranya tidak diikuti dengan tindakan nyata dan aksi konkret secara istiqamah. Kalau ada pertanyaan, “Apa yang menjadikan orang atau lembaga yang biasa saja namun dapat menghasilkan prestasi yang luar biasa?” Jawabannya hanya satu, yaitu ghirah; semangat dan kerja keras. Secara pribadi maupun atas nama alumni kami yakin dengan semangat teman-teman di PPSPA di bawah kepengasuhan dan bimbingan KH. Mu’tashim Billah, Insya Allah perguruan tinggi yang akan hadir di PPSPA akan mencapai hasil yang gemilang. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan-Kami, sungguh pasti Kami akan berikan petunjuk … “(al-‘Ankabut/29: 69).

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi April 2012

* Dr. Ali Nurdin merupakan alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta