Mencari Keteduhan di Bawah Payung al-Quran (Bagian 2)

Wafatnya Kiai Mufid, Istana Negara, dan Habib Luthfi

Pasca wafatnya Kiai Mufid Mas’ud, PP Sunan Pandanaran memfokuskan seluruh kegiatan untuk mendoakan Beliau, dimulai dari rangkaian khataman al-Quran, mujahadah, shalawat, dsb. Sudah pasti, penerus estafet kepemimpinan di Pandanaran, H. Mu’tashim Billah bin Mufid Mas’ud, menjadi orang yang paling susah dan sedih setelah Kiai Mufid tiada. Sedih karena Beliau telah mangkat, susah karena ada sekian banyak amanat Bapak yang harus dilaksanakan penuh tanggung jawab.

Di tengah kegelisahan seperti itu, belum juga genap 40 hari Kiai Mufid menghadap kepada Allah Swt, secara tiba-tiba ada undangan datang dari Istana Negara Republik Indonesia kepada H. Mu’tashim Billah untuk suatu acara. Beliau pun menghadiri acara tersebut dan ketika berada di istana, H. Mu’tashim secara kebetulan berdampingan dengan Rais Aam Jam’iyyah Mu’tabaroh an-Nahdliyah (Jatman), Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan).

“Saya Mu’tashim putranya Pak Mufid Mas’ud, Pandanaran”, Beliau mengawali dialog dengan Habib Luthfi, masih diliputi duka mendalam pasca wafatnya Kiai Mufid.

“Mohon doakan almarhum Bib, agar Bapak wafat dalam keadaan Husnul Khatimah”.

“Tidak penting sekarang, doa untuk Pak Mufid itu”,  jawab Habib Luthfi.

“Sekarang”, lanjut habib Luthfi, “Almarhum itu sudah lebih nikmat daripada di dunia. Yang penting sekarang, sanggupkah kita melanjutkan perjuangan almarhum?”, lanjut Habib Luthfi, yang membuat H. Mu’tashim hanya bisa mengangguk serta menjawab, “Iya”, singkat dan bernas, penuh makna, namun berarti juga mewajibkan kesiapan penuh dalam mengemban amanah.

Doa dalam Wasiat

Keinginan Kiai Mufid agar acara Haul tak perlu diadakan secara terpisah bukan berarti Beliau tak ingin diberi kiriman doa. Sebaliknya, Beliau sangat mengharapkan kiriman doa, dan Beliau sangat ingin mendapatkannya dengan cara “berteduh kepada al-Quran”, yakni Haul dengan Khataman al-Quran pada bulan Sya’ban.

Dalam surat wasiat Beliau, wejangan yang mengiringi pesan seputar Haul adalah soal doa. Doa-doa yang ingin sekali Beliau dapatkan tak main-main, yakni bacaan khataman al-Quran setiap pekan, bacaan shalawat, serta doa-doa Rabbana, yakni kumpulan doa-doa dengan awalan lafadz Rabbana yang termaktub dalam al-Quran.

Sekadar informasi, doa Rabbana inilah yang sering sekali Beliau amalkan, bahkan ketika Thawaf mengelilingi Ka’bah pun Beliau juga membaca doa ini. Sembilan tahun sudah Kiai Mufid meninggalkan keluarga dan santri (2007-2016), selama itu pula acara Haul Bapak selalu diadakan dari waktu ke waktu, di daerah maupun di dusun Candi.

Kepergian Beliau menandakan berakhirnya sebuah era, sekaligus berawalnya sebuah era, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang ada. Adalah tugas kita sebagai murid, sebagai anak biologis maupun anak ideologis, untuk melanjutkan perjuangan Beliau, dengan selalu mencari keteduhan di bawah payung al-Quran. Rabbana aatinaa min ladunka rahmah, wa hayyị-lanaa min amrina rasyadaa … (Ali Hifni)

Mencari Keteduhan di Bawah Payung al-Quran (Bagian 1)

Saben dino Kamis, santri lanang dianjuri ziara kuburku, luwih tak arep-arep seminggu maca Quran ana ing guthakan. Dalail 4 khataman sesasi. Santri wadon jatah waktu Jum’at isuk, amaliyah pada karo santri lanang.
Ono dino haul, ora usah ngundang ngundang dayoh umum, cukup santri lanang wadon. Dene haul lan dayoh umum kabeh dipusatake malam 17 Sya’ban. Continue reading “Mencari Keteduhan di Bawah Payung al-Quran (Bagian 1)”

Berdialog dengan Sang Pemberi Syafa’at

Alquran dan Dalailul Khairat. Dua hal ini tak bisa dilepaskan dari sosok KH Mufid Mas’ud. Dalam berbagai kesempatan, Beliau menekankan secara eksplisit bahwa dalam menjalani kehidupan, Alquran harus menjadi senjata di tangan kanan dan Shalawat adalah senjata di tangan kiri. Kalimat tersebut betul-betul diucapkan oleh Beliau dalam berbagai kesempatan, menjadi kiasan bahwa keduanya harus dipegang teguh; dipelajari dari guru yang sanad-nya berkesinambungan sampai Nabi Muhammad Saw dan diamalkan semaksimal mungkin. Dalam rekam jejaknya, KH Mufid menghafalkan Alquran kepada Romo KH Abdul Qodir Munawwir, KH Muntaha, dan KH Dimyati (Comal). KH Mufid juga menerapkan dawuh dari KH Mukhlash (Pemalang) bahwa seorang Hafidzul Quran harus memperbanyak bacaan shalawat.

Walhasil, Kiai Mufid sangat rutin mengamalkan berbagai macam shalawat yang dibaca pada berbagai mujahadah. Salah satu shalawat yang sangat Beliau amalkan adalah Dalailul Khairat karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Jazuli.Thariqah yang ditempuh oleh KH Mufid sendiri adalah Thariqah Mulazamati Qiraatil Quran wa Dalaailil Khairat. KH Mufid Mas’ud

mendapatkan sanad Dalailul Khairat dari KH Ma’ruf (Surakarta), seorang mursyid Thariqah Syadziliyah. Di sisi lain, KH Mufid juga mendapatkan ijazah Dalailul Khairat dari Prof. KH Muhammad Adnan (Surakarta), KH Abdul Hamid (Pasuruan), Dr. Sayyid Muhammad Alwi AlMaliki (Makkah), Syaikh Yasin (Makkah), dan Habib Muhammad Ba’abud (Lawang). Ijazah dari KH Abdul Hamid (Pasuruan) termasuk unik sebab KH Mufid mendapatkannya tanpa meminta, melainkan diberi langsung oleh KH Abdul Hamid.

Sanad lengkap Dalail KH Mufid sendiri adalah : KH Ma’ruf -> KH Abdul Mu’id -> KH Muhammad Idris -> Sayyid Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali bin Yusuf al-Harriri al-Madani ->Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Murghiby -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al-Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al-Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy -> Sayyid Ahmad al-Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas ash-Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as-Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz at-Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman (penulis kitab Dalailul Khairat)

Usaha Lahir dan Batin

KH Mufid tidak meraih kesuksesan tanpa kerja keras. Semasa kecil, Beliau adalah orang tak berpunya, bukan dari kalangan pesantren, dan tumbuh dalam suasana perang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kendati demikian, dengan segala kekurangannya, Beliau tetap tekun berguru kepada berbagai Kiai untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan menghafalkan Alquran. Bahkan, saat masih nyantri, Kiai Mufid kecil hanya nderek dan tak pernah mempunyai uang saku. Semasa menghafalkan Alquran, Kiai Mufid terus melakukan riyadlah, yakni laku prihatin seperti mengkhatamkan Alquran 40 hari disertai puasa dan sebagainya. Ketekunan Kiai Mufid tak surut setelah selesai menghafalkan Alquran. Beliau tetap istiqamah riyadlah saat mulai meraih kesuksesan. KH Mufid selalu istiqamah dalam tadarus Alquran dan Dalailul Khairat.

Semasa hidupnya, Beliau tak pernah alpa mengkhatamkan Alquran walau sedang dalam perjalanan. Sementara itu, dalam kesehariannya, Dalail selalu dibaca setelah terlebih dahulu menyelesaikan tadarus Alquran sekian juz per hari. Pada bulan Ramadlan, selama 30 tahun (atau bahkan lebih), KH Mufid rutin mengkhatamkan Dalail di dua tempat. Awalnya, saat Kiai Mufid masih muda, Beliau mengkhatamkan Dalail di Masjid Jami’ Singasari Malang dan dilanjutkan di masjid Komplek III PP Sunan Pandanaran setelah Kiai Mufid semakin lanjut usia.

Beliau betul-betul “berdialog” kepada Allah Swt lewat Alquran dan “berdialog” dengan Nabi Muhammad Saw lewat Dalail hingga mendapatkan berbagai karunia luar biasa yang semuanya tentu saja terjadi atas izin Allah Swt. Salah satu karunia tersebut adalah KH Mufid Mas’ud mampu berulang kali menunaikan ibadah haji dan membangun pesantren. Pada medio 1990-an, Kiai Mufid bahkan selalu beribadah haji setiap tahun genap dan membangun pesantren pada tahun ganjil.

Posisi Wirid Dalail

Sedemikian pentingnya wirid Dalail Khairat bagi KH Mufid Mas’ud bisa dilihat pada wasiat sang pendiri Pandanaran. Wasiat tersebut Beliau ucapkan dalam bahasa Jawa, “Saben dino kamis, santri lanang dianjuri ziarah kuburku, luwih tak arep-arep seminggu moco Quran seprapat Quran, ono ning gutha’an. Dalail 4 khataman (sesasi). Santri wadon jatah wektu jumat isuk, amaliyah podo karo santri lanang.”

Artinya kurang lebih adalah “Setiap hari Kamis, santri putra saya anjurkan ziarah kuburku, saya sangat mengharapkan bacaan Alquran, setiap minggu seperempat Alquran. Kemudian bacaan Dalail 4 kali khataman dalam 1 bulan. Santri putri saya beri waktu setiap Jumat pagi, amaliyah sama seperti santri putra”.

Dari wasiat tersebut bisa dibaca bagaimana posisi Dalail, yakni Shalawat Nabi dalam jiwa KH Mufid Mas’ud. Pasti bukan sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata bila sang maha guru sampai berwasiat untuk bisa mengkhatamkan Dalail, bahkan empat kali dalam sebulan. Bacaan Dalail hanya bisa dikalahkan oleh Kalamullah. Dari wasiat Beliau, agaknya bisa dipahami bahwa bacaan shalawat merupakan bentuk cinta seorang muslim (apalagi penghafal Alquran) kepada Rasulullah Saw. Bukan sekedar shalawat dalam bentuk seremonial belaka, melainkan betul-betul bacaan shalawat yang dihayati sampai relung jiwa terdalam. Bacaan shalawat yang menghadirkan Rasulullah Saw dalam hati. Tak heran bila KH Mufid sangat mengharapkan kiriman bacaan Alquran dan Dalail. Apa yang diperjuangkan almaghfurlah bisa dilihat sekarang. Berdiri, tumbuh, dan besarnya pesantren Sunan Pandanaran tak lepas dari usaha dan riyadlah Kiai Mufid lewat Alquran dan shalawat.

Dengan banyak membaca Alquran dan Shalawat, semoga kita semua dapat mendapatkan manfaatnya di dunia dan di akherat, serta mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad Saw kelak di hari kiamat, Amin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Artikel di atas dimuat di majalah Suara Pandanaran edisi Agustus 2013, dengan sumber utama adalah KH Mu’tashim Billah

Bikin Sketsa Terpaksa Manual, Munculkan Goresan Jiwa

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun… Maret 2007, seluruh Pandanaran berduka. KH Mufid Mas’ud wafat di RS JIH, Yogyakarta. Beliau dimakamkan di tanah Komplek III, sesuai wasiat almarhum. Hampir semua orang ziarah ke makam beliau, bahkan setelah beberapa bulan berlalu. Oktober-November 2007, saya ditimbali KH Mu’tashim Billah. Beliau bertitah, “Pak Rohili, buat pendopo untuk areal makam, buat peziarah nyaman!”

“Siap!”, jawab saya. Perasaan dalam dada saya bergelora. Senang, deg-degan, takjub, juga takut, semua bercampur aduk sebab harus membuat bangunan makam untuk sang maha guru Segera saya siapkan blueprint arsitektur pendopo. Konsep utamanya, seperti pada banyak gedung PPSPA, mengutamakan keselamatan dengan memakai standar konstruksi Jepang yang tahan gempa. Konsekuensi logisnya, kebutuhan material di atas ratarata bangunan biasa dan itu menelan biaya yang tidak sedikit.

Rencana awal pembangunan adalah awal 2008. Saya cicil gambar dengan Autocad. Harapannya, pekerjaan bisa dikerjakan dengan landai, tak terburu waktu. Takdir berkata lain. Saat harus menghitung anggaran dan membuat blue print, komputer tiba-tiba hang, harddisk rusak tanpa permisi. Data lenyap ditelan bumi. Tukang servis PC, tetangga kamar asal Kalimantan sedang susah diandalkan.

Langit tiba-tiba serasa gelap. Mendung menggantung di dalam dada. Kalau bercermin, ekspresi muka saya serasa seperti tambang. Di sisi lain, saya mesti segera belanja material. Padahal tanpa gambar desain, mustahil bisa menghitung anggaran. Sialnya pula, pemerintah Republik Indonesia ikut memperkeruh situasi dengan isu kenaikan BBM. Kalau BBM naik, bisa berabe, harga material ikut melambung. BBM naik tinggi, semen tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, pendopo kami kurang gizi! Tak ada pilihan, pembangunan harus dipercepat.


Goresan Jiwa
Bismillah, saya harus bekerja. Bikin sketsa terpaksa manual. Inilah pertama kali saya membuat desain makam, secara manual pula. Tambah lagi, saya sudah lama tak menggambar tanpa komputer. Terakhir menggambar manual dulu saat awal kuliah. Padahal saya wisuda 2 tahun lalu dan masa kuliah saya sekitar dua kali masa pemilu. Alamak! Namun, sekali lagi, ini makam pendiri Pandanaran, sang guru al-Quran. Batin saya bergejolak. Konstelasi jiwa saya tertuang dalam goresan desain arsitek. Hati saya dag-dig-dug, harap-harap cemas. Bangga sekaligus khawatir. Campur aduk.

Suasana makam saat dibangun pendopo

Mungkinkah Allah swt sengaja membuatnya demikian? Agar saya bekerja dengan hati, perasaan, dan intuisi? Entahlah, tetapi Anda memang tak akan bisa membuat puisi menggunakan komputer. Tak ada getaran hati. Selayaknya tak ada sentuhan jiwa bila menggambar desain arsitektur dengan Autocad. Tiga hari berselang, alhamdulillah, desain selesai. Segera belanja material, semen wa akhawatuha. Anggaran membengkak gara-gara BBM naik, sangat berbeda dengan estimasi awal.

Sungguh, di atas kertas, pembangunan makam sepertinya mustahil selesai. Mulai desain  sampai anggaran, semuanya serba membengkak. Secara logika, rasanya semua serba mustahil. Namun, mungkin berkat karamah almaghfurlah KH Mufid, semua hal bisa berjalan lancar tanpa halangan suatu apa. Saya heran, dengan sejuta masalah lahiriah, kami bisa membangun pendopo sakral nan anggun. Masya Allah, Mbah Mufid…Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu …

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013