Cinta Membawa Mereka Ziarahi Makam

Sejuk dan menyejukkan. Begitu suasana yang segera terasa ketika menginjakkan kaki di area makam KH. Mufid Mas’ud. Rerimbunan pohon dan bunga di sekitar areal makam dipadu dengan lantunan ayat-ayat Alquran dan shalawat menciptakann kesejukan di hati.

Ketika hendak memasuki area makam KH. Mufid, peziarah terlebih dahulu melewati sebuah jembatan kayu yang klasik dan eksotis. Dari jembatan itu, tampak air mengalir deras di sela-sela bebatuan. Gemericik air sungai terdengar jelas.

Air yang menimbulkan kesegaran berpadu dengan rimbunnya pohon menciptakan suasana yang menentramkan. Betapa tidak, Alquran sendiri menegaskan bahwa air lah yang dijadikan Allah untuk menghidupkan segala sesuatu. Air pula yang digunakan untuk menggambarkan indahnya surga, yaitu air yang mengalir di sungai-sungai di bawah surga firdaus.

Area makam semakin tampak apik tatkala peziarah memasuki pelataran makam. Aneka bunga tumbuh di sana. “Kok suasananya seperti di taman bunga ya?”, gumam seorang peziarah. Bunga-bunga itu tampak selalu basah dan segar. Diletakkan berjajar rapi di dalam pot-pot kecil di sepanjang pelataran yang bersih. Suasana makam jauh dari kesan kumuh dan angker. Bangunan makam pun didesain secara modern. Atap berarsitektur joglo yang disangga dengan beberapa tiang. Lantainya dari keramik mengkilat. Sebagiannya ditutup karpet merah dan hijau. Penerangan makam pun sudah sangat memadai. Plus area parkir yang cukup luas.

Tak Pernah Sepi Peziarah

Dalam prosesi membaca surat Yasin, doa, atau tahlil, para peziarah biasanya duduk melingkar di makam KH Mufid. Area makam dapat menampung ratusan orang, tanpa pagar besi pembatas. Sehingga para peziarah bisa berada sedekat mungkin dengan makam. Seolah ada pesan bahwa kedekatan antara almarhum dengan orang-orang di sekelilingnya senantiasa terjaga. Bagian dalam makam dibagi menjadi dua. Bagian selatan untuk laki-laki dan utara untuk wanita.

Menurut pengurus makam, makam KH. Mufid tidak pernah sepi dari peziarah. Terutama para santri huffadz. Bahkan para santri senior kerap menginap untuk tirakat khataman Alquran di hadapan sang Guru. “Karena banyaknya orang yang baca Alquran di sini, maka di sana-sini banyak ditemui mushaf AlQur’an”, kata salah seorang pengurus makam.

Ia melanjutkan, pada hari Kamis dan Jumat jumlah santri yang berziarah jauh lebih banyak. Pun demikian dengan alumni dan masyarakat sekitar. Ramainya peziarah disebabkan oleh banyak hal. Sebagian alumni mengakui bahwa pengaruh pendidikan KH Mufid kepada para santrinya membekas begitu dalam.

Itulah sebabnya, mengapa mereka harus menziarahi makam Beliau. Ikatan antara KH Mufid dengan santri bukan didasari atas hutang budi, tetapi dilandasi cinta antara murid dan guru. Pesan-pesan yang Beliau sampaikan kepada para santri terus hidup dalam jiwa mereka.

Para santri KH Mufid tidak meragukan keikhlasan Beliau dalam mendidik. Islam sendiri mengajarkan, bahwa jika amal perbuatan dilandasi atas keikhlasan, maka pelakunya seolah hidup sepanjang masa. Meski KH Mufid telah menghadap Sang Pencipta, namun Beliau tetap hidup di hati keluarga dan santri Beliau.