Membangun Kahyangan di Dusun Tlepok

Inti dari acara “Bersih Dusun” sendiri, menurut Kadus Tlepok Bapak Tugino, adalah sebagai upaya untuk bersama-sama memohon kepada Allah Swt agar dusun Tlepok menjadi dusun yang aman, rukun, makmur, dan sentosa. Pagelaran wayang diadakan di depan gedung MTs al-Jauhar. KH Mu’tashim Billah, pengasuh PP Sunan Pandanaran yang berinisiatif menggelar acara, juga melibatkan peran pesantren dalam berbagai wujud. Selain areal pesantren yang disulap menjadi panggung wayang dan partisipasi santri al-Jauhar untuk menggelar acara, para mahasiswa STAISPA turut serta menyaksikan Semar Mbangun Kahyangan. Para aktivis akademik tersebut bersama-sama warga menyaksikan wayang di pendopo Asmaul Husna.

Tak hanya menonton, mereka juga me-resume cerita wayang sebagai tugas kuliah. Acara yang menghadirkan dua dalang, yaitu lurah Semin dan dalang dari Candi, Sardonoharjo, mencapai klimaks menjelang tengah malam. Di tengah lakon “Si Limbuk”, sang dalang menerima permintaan lagu dari seluruh hadirin. Tak ayal, banyak audiens meminta lagu ini dan itu, termasuk dari Persatuan Guru dan Madrasah al-Jauhar, Persatuan Kadus se-kecamatan Semin, juga dari mahasiswa STAISPA.

Wayang dan Islam
Wayang Kulit, sebagai kesenian khas Jawa jelas tak bisa dipisahkan dari peradaban Islam di Indonesia. Kesenian ini menjadi media dakwah wali songo untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke dalam masyarakat. Para wali mengajak tanpa memaksa, memberitahu tanpa menggurui, dan menyuruh tanpa menyinggung perasaan. Semar sendiri, dalam cerita wayang selalu muncul bersama Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka dikenal sebagai Punakawan sebagai simbol dari cipta, rasa, karsa, dan karya.

Semar memiliki kuncung putih sebagai simbol kejernihan pikiran. Gareng bermata kero (juling, selalu waspada), bertangan cekot (teliti), dan berkaki pincang (wira’i). Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, dan karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangannya bak sepasang manusia yang kompak bekerja sama.

Sementara Bagong adalah simbol Karya, berupa dua tangan dengan kelima jarinya terbuka lebar (suka bekerja keras). Semar, berasal dari bahasa arab, Ismar (paku). Semar menjadi pengokoh (paku) terhadap kebenaran, yaitu agama sebagai prinsip hidup manusia. Nala Gareng, berasal dari kata Arab Naala Qariin (punya banyak teman). Hal ini selaras dengan gaya wali songo dalam berdakwah secara bijaksana.

Petruk, berasal dari kata Fatruk. Merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf, Fatruk kulla ma siwa Allahi, “Tinggalkan semua apa pun selain Allah”. Petruk juga disebut Kantong Bolong. Maksudnya, manusia harus menyerahkan harta dan jiwanya kepada Allah Swt. Bagong, berasal dari kata Baghaa (berontak), yaitu berontak terhadap kebatilan. Versi lain menyebutkan Bagong berasal dari Baqa’ (kekal). Maksudnya, manusia hanya akan kekal setelah di akhirat nanti. Dunia hanya tempat singgah sementara.

Acara wayang menjadi hiburan tersendiri bagi warga dusun Tlepok, yang memang sangat menggemari wayang. Acara ini selesai pada pukul 04.00 WIB. Bila Semar membangun Kahyangan Suralaya, warga Tlepok mempunyai Kahyangan sendiri di sekitar padepokan Asmaul Husna.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi anuari 2013