Bikin Sketsa Terpaksa Manual, Munculkan Goresan Jiwa

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun… Maret 2007, seluruh Pandanaran berduka. KH Mufid Mas’ud wafat di RS JIH, Yogyakarta. Beliau dimakamkan di tanah Komplek III, sesuai wasiat almarhum. Hampir semua orang ziarah ke makam beliau, bahkan setelah beberapa bulan berlalu. Oktober-November 2007, saya ditimbali KH Mu’tashim Billah. Beliau bertitah, “Pak Rohili, buat pendopo untuk areal makam, buat peziarah nyaman!”

“Siap!”, jawab saya. Perasaan dalam dada saya bergelora. Senang, deg-degan, takjub, juga takut, semua bercampur aduk sebab harus membuat bangunan makam untuk sang maha guru Segera saya siapkan blueprint arsitektur pendopo. Konsep utamanya, seperti pada banyak gedung PPSPA, mengutamakan keselamatan dengan memakai standar konstruksi Jepang yang tahan gempa. Konsekuensi logisnya, kebutuhan material di atas ratarata bangunan biasa dan itu menelan biaya yang tidak sedikit.

Rencana awal pembangunan adalah awal 2008. Saya cicil gambar dengan Autocad. Harapannya, pekerjaan bisa dikerjakan dengan landai, tak terburu waktu. Takdir berkata lain. Saat harus menghitung anggaran dan membuat blue print, komputer tiba-tiba hang, harddisk rusak tanpa permisi. Data lenyap ditelan bumi. Tukang servis PC, tetangga kamar asal Kalimantan sedang susah diandalkan.

Langit tiba-tiba serasa gelap. Mendung menggantung di dalam dada. Kalau bercermin, ekspresi muka saya serasa seperti tambang. Di sisi lain, saya mesti segera belanja material. Padahal tanpa gambar desain, mustahil bisa menghitung anggaran. Sialnya pula, pemerintah Republik Indonesia ikut memperkeruh situasi dengan isu kenaikan BBM. Kalau BBM naik, bisa berabe, harga material ikut melambung. BBM naik tinggi, semen tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, pendopo kami kurang gizi! Tak ada pilihan, pembangunan harus dipercepat.


Goresan Jiwa
Bismillah, saya harus bekerja. Bikin sketsa terpaksa manual. Inilah pertama kali saya membuat desain makam, secara manual pula. Tambah lagi, saya sudah lama tak menggambar tanpa komputer. Terakhir menggambar manual dulu saat awal kuliah. Padahal saya wisuda 2 tahun lalu dan masa kuliah saya sekitar dua kali masa pemilu. Alamak! Namun, sekali lagi, ini makam pendiri Pandanaran, sang guru al-Quran. Batin saya bergejolak. Konstelasi jiwa saya tertuang dalam goresan desain arsitek. Hati saya dag-dig-dug, harap-harap cemas. Bangga sekaligus khawatir. Campur aduk.

Suasana makam saat dibangun pendopo

Mungkinkah Allah swt sengaja membuatnya demikian? Agar saya bekerja dengan hati, perasaan, dan intuisi? Entahlah, tetapi Anda memang tak akan bisa membuat puisi menggunakan komputer. Tak ada getaran hati. Selayaknya tak ada sentuhan jiwa bila menggambar desain arsitektur dengan Autocad. Tiga hari berselang, alhamdulillah, desain selesai. Segera belanja material, semen wa akhawatuha. Anggaran membengkak gara-gara BBM naik, sangat berbeda dengan estimasi awal.

Sungguh, di atas kertas, pembangunan makam sepertinya mustahil selesai. Mulai desain  sampai anggaran, semuanya serba membengkak. Secara logika, rasanya semua serba mustahil. Namun, mungkin berkat karamah almaghfurlah KH Mufid, semua hal bisa berjalan lancar tanpa halangan suatu apa. Saya heran, dengan sejuta masalah lahiriah, kami bisa membangun pendopo sakral nan anggun. Masya Allah, Mbah Mufid…Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu …

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Menggapai Puncak Piramida

Sekitar dua minggu sebelum puasa, saban kalender Hijriyah menunjukkan tanggal 17 Sya’ban, Pandanaran selalu punya gawe gede. Hajatan rutin Khatmil Quran atau biasa juga disebut Khataman diselenggarakan di Pandanaran sejak zaman almaghfurlah KH Mufid Mas’ud. Tak terkecuali pada tahun 1423 H ini, Pandanaran mewisuda ratusan peserta khataman, termasuk 11 peserta Bil Ghaib 30 Juz. Jum’at, 6 Juli 2012, menjadi hari istimewa bagi sejumlah santri yang sukses menempuh tahapan dalam mengkhatamkan al-Quran. Wajah-wajah ceria terpancar dari anak-anak khatimin Juz ‘Amma, Bin Nadzri, maupun Bil Ghaib 30 Juz. Keceriaan mereka yang telah terlihat sejak mengikuti seleksi dan latihan terasa kian lengkap saat acara wisuda khataman dihadiri oleh orang tua masing-masing. Banyaknya kendaraan yang lalu lalang di lingkungan pondok, meriahnya acara-acara pendukung, lantunan ayat-ayat suci dari majlis sima’an al-Quran, sampai ramainya bazar oleh masyarakat sekitar menandakan kesibukan Pandanaran di hari khataman. Semua bak membentuk orkestra syi’ar Alquran.

Hari itu, para tamu berdatangan dari segala penjuru. Sebagian wali santri datang sejak Kamis dan menginap di Komplek III atau Penginapan Tamu di Komplek MISPA. Para alumni secara sukarela hadir di Pandanaran untuk sekedar temu kangen atau berpartisipasi pada acara sima’an al-Quran khusus alumni di kediaman KH Imaduddin Sukamto (Komplek IV) atau KH Masykur Muhammad (Komplek V).

Sementara itu, para santri sibuk dengan aktivitas khatamannya. Para peserta khataman ziarah ke maqam KH Mufid Mas’ud atau sowan ke pimpinan pesantren bersama sanak familinya, sementara rekan-rekan panitia sibuk dengan job-nya masingmasing. Mulai Kang Zahron sebagai juru parkir Komplek III, sampai Mas Alifin yang menjadi koordinator keamanan Komplek I.

Agenda-Agenda
Agenda acara Khatmil Quran sendiri terangkum sedemikian banyaknya. Selain prosesi khataman sebagai acara inti, banyak acara pendukung yang mengiringi acara Khataman. Kemeriahan dimulai dari pentas wayang oleh masyarakat sekitar yang berlokasi di Candi Dukuh yang berlangsung selama 3 hari sejak hari Senin, 2 Juli 2012. Acara ini menjadi yang pertama sepanjang sejarah Khataman. Setelah itu, agenda internal pesantren berlangsung secara konsekutif, satu demi satu.

Hari Kamis, 5 Juli 2012, para peserta khataman Bil Ghaib 30 Juz Putra yang berjumlah 3 orang menyelenggarakan sima’an al-Quran di Masjid Nurul Quran, Komplek I. Sedikitnya khatimin Bil Ghaib tak lepas dari beratnya seleksi yang diterapkan. Selain harus khatam setoran kepada pengasuh, calon peserta juga diwajibkan menjalani simaan 30 Juz penuh di berbagai majlis. Konsep yang menekankan kualitas daripada kuantitas ini bahkan membuat beberapa calon khatimin mengundurkan diri dan akhirnya meloloskan tiga hafidz.

KGS Abdul Rasyid (Palembang), Reza Pahlevi Lubis (Medan), dan Aldy Syahputra (Gresik)

Triumvirat yang terdiri dari Reza Pahlevi Lubis (Medan), Aldy Syahputra (Gresik), dan KGS Abdul Rasyid (Palembang) ini bergantian membaca ayat suci al-Quran secara tartil. Tridente khatimin tersebut sukses mengkhatamkannya pada hari Jum’at pukul 10 pagi. Khataman dan doa oleh KH Mu’tashim Billah menandakan kesakralan acara khataman, sekaligus awal dari rangkaian prosesi khataman hingga malam hari. Sementara di tiga titik lain, yaitu di maqbarah KH Mufid Mas’ud, kediaman KH Imaduddin Sukamto (Komplek IV), dan rumah KH Masykur Muhammad (Komplek V) juga sukses mengkhatamkan simaan al-Quran oleh grupnya masing-masing.


Beralih ke Komplek II. Di tempat yang biasa digunakan untuk acara mujahadah Kamis Wage ini, Pandanaran menggelar sosialisasi perguruan tinggi STAISPA dan BMT Pandanaran ICA. Dalam suasana khataman, Pandanaran mempublikasikan kepada para tamu dan alumni, bahwa perguruan tinggi STAISPA sudah mulai aktif. Pun demikian dengan BMT milik pesantren yang mengarah pada kemandirian.

Acara khataman sempat break sebentar karena bertepatan dengan hari Jum’at. Setelah shalat Jum’at usai, giliran pentas seni memeriahkan acara khataman. Tim Drum Band MTs dan MA Pandanaran menghibur para hadirin dengan paradenya mulai dari Komplek III sampai Komplek II. Tak mau kalah, tim Badui al-Ikhsan Candi juga turut serta dalam acara. Pertunjukan Badui mengiringi acara Khitanan Massal di Komplek I yang dipimpin oleh KH Syarifuddin. Acara ini meneruskan warisan almaghfurlah KH Mufid Mas’ud, bakti sosial kepada masyarakat berupa khitan gratis bagi anakanak kurang mampu.

Parade Drum Band

Maqbarah KH Mufid sendiri tak sepi dari pengunjung. Selepas Ashar, acara terkonsentrasi di Komplek III untuk tahlil berjama’ah di maqbarah. Tahlil ini dipimpin oleh KH Masykur Muhammad dan dihadiri oleh santri, para tamu, serta alumni. Acara ini mengingatkan seluruh elemen Pandanaran, bahwa dalam wasiatnya, almaghfurlah KH Mufid Mas’ud berpesan agar haul Beliau diikutkan pada acara Khatmil Qur’an 17 Sya’ban, tanpa perlu mengadakan acara tersendiri. Beliau menuturkan ingin “ngeyup” ke khataman Quran.

Prosesi Khataman
Kembali ke komplek I dan II. Ba’da Maghrib, agenda acara khataman berlanjut dengan dua acara sekaligus. Di masjid Komplek I, pembacaan Diba’ diselenggarakan oleh tim Hadrah Pandanaran, sementara di komplek II, prosesi acara khataman dimulai. Tim Hadrah, yang berjumlah sekitar 100-an personal menggeber terbang di dalam masjid untuk melantunkan Shalawat Nabi dan membacakan Maulid Barzanji secara singkat, lengkap dengan Mahlul Qiyam. Acara ini dihadiri oleh segenap elemen Pandanaran, mulai para sesepuh, ahlen, para santri, alumni, juga para tamu dan masyarakat sekitar. Sementara itu, di Komplek II, prosesi acara khataman mewisuda 306 peserta khataman Juz ‘Amma, 144 peserta Bin Nadzri,
dan 8 peserta khataman Bil Ghaib 30 Juz, yaitu Anni Muflichah, Chusna Amalia, Nidaa Rahman, Inayati, Indah Urfah, Zulfatul Karimah, Hazna Muayyadah, dan Hikmatul Hidayah.

Setelah pembacaan surat al-Muzzammil dan rangkaian bacaan surat Waddluha sampai an-Naas, acara dilanjutkan dengan tahlil dan doa khataman. Acara di Komplek II terus berlangsung dan berlangsung paralel dengan pembacaan Diba’ di Komplek I tanpa ada tabrakan jadwal dengan acara di Komplek II.

Peserta Khataman Bil Ghaib 30 Juz Putri

Mulai acara di komplek II inilah, prosesi khataman disiarkan secara langsung lewat video sehingga para tamu dapat mengikuti acara dengan khidmat. Dalam hal ini, panitia menyiapkan layar raksasa berukuran 3×4 m yang disebar di beberapa titik. Sholahudin, ketua divisi konsumsi panitia khataman, mengakui bahwa acara tahun ini para hadirin dapat lebih khusyuk dalam mengikuti acara karena layar yang dipasang sampai menutupi tenda. Apalagi dengan sound system berkualitas super sehingga apa yang disampaikan oleh muballigh dapat terdengar dengan sangat jelas.

Imbasnya, bagi tim konsumsi, mereka dapat lebih nyaman membagikan snack. Selepas Isya’, prosesi acara khataman putra dimulai. Diawali dengan perkenalan para peserta khataman Juz ‘Amma (188 anak) dan Bin Nadzri (89 anak) yang diiringi lantunan shalwat, prosesi berlanjut  dengan dipanggilnya peserta Bil Ghaib. Berikutnya, para peserta khataman Bin Nadzri melantukan surat al-Qiyamah dengan lagu yang khas dan dilanjutkan pembacaan surat al-Takaatsur sampai an-Naas.

Puncak Piramida
Acara prosesi khataman bak sebuah puncak piramida pengajian al-Quran. Para santri menggapai puncak dalam kategorinya masing-masing. Khatimin Juz ‘Amma sukses mencapai titik tertinggi dalam hafalan Juz 30, sementara anak-anak Bin Nadzri sukses membaca Alquran secara baik sampai khatam. Bagi peserta khataman Juz ‘Amma, mereka segara “naik level” ke piramida selanjutnya, yaitu piramida Bin Nadzri. Para santri yang smeula hanya wajin menghafalkan Juz 30, kini harus mengkhatamkan Alquran dengan benar. Mereka tidak diperkenankan menghafalkan Alquram sebelum baik bacaannya, yakni tajwidnya benar, bacaannya lancar, sekaligus tartil.

Sementara itu, khatimin Bil Ghaib meraih puncak piramida menghafalkan Alquran. Dengan perjuangannya, mereka sukses menghafalkan Alquram 30 Juz penuh. Piramida mereka lebih tinggi daripada piramida Juz ‘Amma dan Bin Nadzri. Namun, peraih piramida Bil Ghaib pun  masih harus lebih meningkat lagi.Mereka mesti melompat ke piramida lain seperti Qiraah Sab’ah, melanjutkan studi Alquran, atau memperkuat riyadlah yang semuanya bermuara pada bagaimana mengaplikasannya ke dalam kehidupan nyata.

Toh, pada hakekatnya, apa yang disebut “puncak” hanyalah milik Allah swt semata. Di tengah luasnya galaksi, bumi tempat kita hidup hanyalah setetes air di tepi samudera. “Katakanlah (Nabi Muhammad Saw), jika lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhan Pemeliharaku, maka pasti habislah laut itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhan Pemeliharaku, meskipun Kami datangkan tambahan laut sebanyak itu pula (Al-Kahfi 109)”.

Penutup

Setelah prosesi khataman Juz ‘Amma, Bin Nadzri, dan Bil Ghaib selesai, acara dilanjutkan dengan takhtiman, tahlil, dan doa oleh KH Mu’tashim Billah. Tahlil sendiri dikhususkan pada haul KH. Mufid Mas’ud, Bu Nyai Hj. Jauharah Mufid, KH. Abdullah Umar, dan Bu Nyai Hj. Abdullah Umar. Pembacaan kalimah thayyibah dilanjutkandengan Ratibul Haddad yang dipimpin oleh H. Muhammad Nahdi dan H. Haris Ahmad Qornain. Sebagai penutup, taushiyah KH Zaenal Arifin (Pekalongan) menjadi pelajaran bagi para audiens yang dilanjutkan doa oleh KH KGS Nawawi Dencik. Demikian puncak piramida acara tasyakur tahunan Khatmil Quran PP Sunan Pandanaran. Acara berlangsung sukses. Sebelum lewat tengah malam, acara telah usai. Para tamu pun kembali pulang ke daerah masing-masing.

Artikel di atas dimuat di Majalah Suara Pandanaran edisi Januari 2013

Cinta Membawa Mereka Ziarahi Makam

Sejuk dan menyejukkan. Begitu suasana yang segera terasa ketika menginjakkan kaki di area makam KH. Mufid Mas’ud. Rerimbunan pohon dan bunga di sekitar areal makam dipadu dengan lantunan ayat-ayat Alquran dan shalawat menciptakann kesejukan di hati.

Ketika hendak memasuki area makam KH. Mufid, peziarah terlebih dahulu melewati sebuah jembatan kayu yang klasik dan eksotis. Dari jembatan itu, tampak air mengalir deras di sela-sela bebatuan. Gemericik air sungai terdengar jelas.

Air yang menimbulkan kesegaran berpadu dengan rimbunnya pohon menciptakan suasana yang menentramkan. Betapa tidak, Alquran sendiri menegaskan bahwa air lah yang dijadikan Allah untuk menghidupkan segala sesuatu. Air pula yang digunakan untuk menggambarkan indahnya surga, yaitu air yang mengalir di sungai-sungai di bawah surga firdaus.

Area makam semakin tampak apik tatkala peziarah memasuki pelataran makam. Aneka bunga tumbuh di sana. “Kok suasananya seperti di taman bunga ya?”, gumam seorang peziarah. Bunga-bunga itu tampak selalu basah dan segar. Diletakkan berjajar rapi di dalam pot-pot kecil di sepanjang pelataran yang bersih. Suasana makam jauh dari kesan kumuh dan angker. Bangunan makam pun didesain secara modern. Atap berarsitektur joglo yang disangga dengan beberapa tiang. Lantainya dari keramik mengkilat. Sebagiannya ditutup karpet merah dan hijau. Penerangan makam pun sudah sangat memadai. Plus area parkir yang cukup luas.

Tak Pernah Sepi Peziarah

Dalam prosesi membaca surat Yasin, doa, atau tahlil, para peziarah biasanya duduk melingkar di makam KH Mufid. Area makam dapat menampung ratusan orang, tanpa pagar besi pembatas. Sehingga para peziarah bisa berada sedekat mungkin dengan makam. Seolah ada pesan bahwa kedekatan antara almarhum dengan orang-orang di sekelilingnya senantiasa terjaga. Bagian dalam makam dibagi menjadi dua. Bagian selatan untuk laki-laki dan utara untuk wanita.

Menurut pengurus makam, makam KH. Mufid tidak pernah sepi dari peziarah. Terutama para santri huffadz. Bahkan para santri senior kerap menginap untuk tirakat khataman Alquran di hadapan sang Guru. “Karena banyaknya orang yang baca Alquran di sini, maka di sana-sini banyak ditemui mushaf AlQur’an”, kata salah seorang pengurus makam.

Ia melanjutkan, pada hari Kamis dan Jumat jumlah santri yang berziarah jauh lebih banyak. Pun demikian dengan alumni dan masyarakat sekitar. Ramainya peziarah disebabkan oleh banyak hal. Sebagian alumni mengakui bahwa pengaruh pendidikan KH Mufid kepada para santrinya membekas begitu dalam.

Itulah sebabnya, mengapa mereka harus menziarahi makam Beliau. Ikatan antara KH Mufid dengan santri bukan didasari atas hutang budi, tetapi dilandasi cinta antara murid dan guru. Pesan-pesan yang Beliau sampaikan kepada para santri terus hidup dalam jiwa mereka.

Para santri KH Mufid tidak meragukan keikhlasan Beliau dalam mendidik. Islam sendiri mengajarkan, bahwa jika amal perbuatan dilandasi atas keikhlasan, maka pelakunya seolah hidup sepanjang masa. Meski KH Mufid telah menghadap Sang Pencipta, namun Beliau tetap hidup di hati keluarga dan santri Beliau.